Tak Harus Mahal, Ke Jepang Bisa a la Backpacker | Breaktime
Tak Harus Mahal, Ke Jepang Bisa a la Backpacker
07.10.2016

Apa yang terlintas di benak B’timers saat mendengar kata Jepang? Bunga Sakura di musim semi, keindahan abadi gunung Fujiyama, baju Kimono, kisah legendaris Ninja, Nintendo, Gozilla, anime, manga, Gundam, atau girl band AKB48? Jepang menawarkan banyak pilihan, tak terkecuali untuk penggemar traveling.

Saat ini wisatawan Indonesia pemegang e-paspor bisa mengunjungi Jepang dengan visa waiver selama 15 hari. Sejumlah maskapai nasional dan internasional pun kerap memberi tiket promo ke Jepang.

Tips bagi B’times yang ingin berburu tiket murah ke Jepang, carilah periode terbang di luar high-season, yaitu selain musim semi dan gugur atau periode Juli sampai Oktober. Jepang dengan keindahan alam, budaya, dan kemajuan teknologinya tetap menarik dikunjungi pada musim panas.

Tak Harus Mahal, Ke Jepang Bisa a la Backpacker | Breaktime
Salah satu sudut Bandara Haneda di Tokyo dengan suasana seperti zaman Edo

B’timers juga bisa memilih maskapai yang menawarkan penerbangan tujuan bandara low cost di Jepang, seperti Haneda di Tokyo dan Kansai di Osaka. Saya pun memanfaatkan dua bandara ini untuk rute backpacker ke Jepang, yaitu landing di Haneda (Tokyo) saat berangkat, dan pulang dari bandara Kansai di Osaka.

Bandara-bandara yang melayani penerbangan low cost di Jepang memiliki fasilitas lengkap layaknya bandara full service. Untuk menghemat pengeluaran, B’timers bisa memilih penerbangan malam. Saya landing tengah malam di Haneda, kemudian bermalam di bandara sebelum keesokan paginya memulai perjalanan keliling Tokyo.

Tak Harus Mahal, Ke Jepang Bisa a la Backpacker | Breaktime
Suasana di Akihabara yang terkenal dengan sebagai pusat anime dan manga

B’timers juga tidak perlu mengeluarkan Yen untuk membeli sim card. Ada ratusan ribu hot spot gratis yang tersebar di penjuru Tokyo, mulai area bandara, stasiun kereta dan subway, di dalam kereta, hingga di sejumlah gerai convenience store.

Sementara itu untuk menuju berbagai destinasi wisata di Tokyo, pilihan paling hemat bagi solo traveler adalah menggunakan kereta bawah tanah alias Tokyo Subway. B’timers bisa memanfaatkan tiket terusan yang berlaku 24 jam, 48 jam, dan 72 jam dengan harga mulai 800 Yen (sekitar RP 105 ribu).

Tak Harus Mahal, Ke Jepang Bisa a la Backpacker | Breaktime
Kinkakuji Temple, kuil emas sekaligus salah satu simbol wisata kota Kyoto

Ada 13 line atau jalur subway yang akan membawa B’timers ke hampir semua tempat wisata di penjuru Tokyo. Mulai kuil-kuil legendaris di Asakusa, dandanan nyentrik anak muda di Harajuku, patung Hachiko di dekat Shibuya Crossing, hingga pusat anime dan manga di Akibahara, yang juga terkenal dengan girl band AKB48.

Soal bahasa, B’timers tak perlu khawatir. Saya pun tak bisa berbahasa Jepang atau membaca tulisan Jepang. Saya hanya bisa mengucapkan kata “haik”, “konnichiwa”, dan “arigato gozaimas”. Orang Jepang sangat ramah pada wisatawan asing. Mereka sangat senang membantu, entah sekedar memberi info jalur kereta atau membantu menunjukkan alamat.

Tak Harus Mahal, Ke Jepang Bisa a la Backpacker | Breaktime
Penjual Takoyaki di Fushimi Inari, salah satu street food yang wajib dicoba di Jepang

Untuk mata uang, tak ada salahnya B’timers membawa sejumlah Yen tunai dari Indonesia sebagai modal hidup hari pertama dan kedua di Tokyo, selebihnya bisa tarik tunai dari ATM.

Biaya hidup di Jepang, khususnya Tokyo memang mahal. Tak heran kota ini masuk dalam deretan kota dengan biaya hidup tertinggi di dunia. Untuk sekali makan satu porsi di restoran menengah, B’timers bisa menghabiskan antara 500 sampai 1000 yen. Apabila kondisi dompet menipis, B’timers bisa memanfaatkan fast-food di convenience store yang bisa kita temukan di tiap stasiun subway dan ujung-ujung jalan di penjuru Tokyo.

Sejumlah tempat wisata di Jepang pun kini makin bersahabat dan nyaman bagi wisatawan Muslim dengan makin banyaknya restoran dan rumah makan yang menawarkan menu halal. Selain itu, di sejumlah tempat wisata dan pusat perbelanjaan juga disediakan “prayer room” lengkap dengan tempat wudhu, mukena, dan sajadah.

Tak Harus Mahal, Ke Jepang Bisa a la Backpacker | Breaktime
Ramen, salah satu kuliner khas Jepang yang tersedia dalam menu Halal

Bagaimana dengan akomodasi? Pilihan paling hemat adalah dengan menyewa hostel atau kamar dormitory dengan harga mulai 2500 Yen per malam (sekitar RP 300.000). Rekomendasi saya, carilah hostel di kawasan Asakusa karena lokasi ini sangat dekat dengan stasiun subway dan hanya lima sampai sepuluh menit jalan kaki ke kawasan wisata di gerbang Kaminarimon.

Berapa total biaya hidup untuk tiga hari di Tokyo? Anggap saja sewa kamar dua malam RP 600.000, tiket terusan subway RP 400.000, biaya makan tiga hari RP 1.000.000, dan pengeluaran lain-lain RP 500.000, maka siapkan anggaran kurang lebih RP 2.500.000 atau sekitar XX Yen.

Tak Harus Mahal, Ke Jepang Bisa a la Backpacker | Breaktime
Kemas ransel Anda dan segera rencanakan perjalanan ala backpacker ke Jepang

Tunggu apa lagi, B’timers? Jadikan Negeri Sakura sebagai destinasi traveling Anda berikutnya! (za)

Share This Article