"Kurang Piknik" Resiko Stres & Serangan Jantung | Breaktime
“Kurang Piknik”: Resiko Stres dan Serangan Jantung
13.02.2016

Dewasa ini, aktivitas wisata atau traveling bukan lagi sekedar kebutuhan untuk melepas lelah atau mengusir stres, tetapi sudah menjadi bagian dari gaya hidup. Bagi B'timers yang selama ini memang rutin melakukan perjalanan, ternyata banyak manfaat yang diperoleh dari aktivitas traveling.

Sebuah studi dari Transamerica Center for Retirement Studies menyatakan bahwa sering berwisata bisa membuat anda panjang umur. Selain itu, menurut situs traveling ternama Lonely Planet, sering piknik akan mengurangi kemungkinan sakit jantung dan depresi. Wisata juga mampu meningkatkan kesehatan otak secara keseluruhan.
Studi ini awalnya ditujukan untuk mereka yang berada pada usia generasi tua, namun tetap relevan bagi mereka yang masih muda. Efek positif wisata bagi generasi tua mendorong mereka untuk tetap melakukan perjalanan tanpa dihalangi batasan usia, sehingga kesehatan dan mental tetap terjaga.

Wisatawan menikmati keindahan pantai Pulau Menjangan di Bali

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa mereka yang tidak mengambil libur tahunan berpotensi mengalami gejala gangguan kesehatan, bahkan bisa meningkatkan kemungkinan kematian sebesar 20 persen untuk pria. Selain itu, jarang liburan bisa meningkatkan risiko sakit jantung sebanyak 30 persen.
Sementara itu untuk perempuan, mereka yang jarang mengambil cuti atau liburan berpotensi mengalami resiko lebih tinggi terkena serangan jantung berbanding dengan mereka yang berlibur setidaknya dua kali dalam setahun.
Wisata memang bukan hanya soal liburan semata. Banyak manfaat positif yang bisa diambil dari kegiatan wisata, seperti aktivitas fisik, mental, sampai memulihkan diri dari resiko stres yang merupakan faktor dari semua penyakit yang bisa menyerang manusia.
Jadi, segera rencanakan liburan B'timers dan jangan sampai terkena gejala "kurang piknik". (ZA)

Share This Article