Warak Ngendok, Mainan Simbol Akulturasi Budaya | Breaktime
Warak Ngendok, Mainan Simbol Akulturasi Budaya
04.10.2016

Warak Ngendok adalah sebuah mainan yang selalu dikaitkan dengan perayaan Dugderan. Perayaan ini sendiri adalah sebuah festival rakyat di Semarang, Jawa Tengah. Perayaan ini dilaksanakan di awal bulan Ramadhan untuk menyambut dan memeriahkan bulan puasa bagi umat muslim.

Asal usul

Nama Warak Ngendok rupanya memiliki arti tersendiri, lho. Warak berasal dari bahasa Arab wara’i yang berarti suci dan ngendok berasal dari bahasa Jawa yang artinya bertelur yang disimbolkan sebagai pahala yang didapat seseorang sebelum dan setelah bulan Ramadhan. Warak Ngendok sendiri diartikan bahwa barang siapa yang menjaga kesucian bulan Ramadhan, maka pada akhir bulan akan mendapatkan pahala.

Warak Ngendok tadinya hanya sebuah mainan anak-anak yang berbentuk binatang. Mainan ini terbuat dari gabus tanaman mangrove dan bentuk sudutnya lurus. Mainan yang ditunjukkan pada saat perayaan ini melambangkan dan merupakan rekaan dari campuran etnis di Semarang, yaitu etnis Cina, Arab, dan Jawa.

Warak Ngendok, Mainan Simbol Akulturasi Budaya | Breaktime
Arak-arakan Warak Ngendok saat acara Dugderan

Filosofi

Warak Ngendok ini juga memiliki filosofi dan makna yang dalam. Bentuk mainannya yang lurus menyimbolkan citra warga Semarang yang terbuka lurus dan apa adanya. Tidak ada perbedaan antara ungkapan hati dan lisan. Selain itu, Warak Ngendok juga dijadikan sebagai akulturasi budaya di Semarang yang memiliki keragaman etnis.

Tidak hanya ditampilkan saat perayaan tahunan sebagai simbol sesuatu, Warak Ngendok ini juga dijual di beberapa toko mainan di Semarang atau pedagang-pedagan kecil. Berbagai ukuran dari Warak Ngendok ini dijual dengan harga yang berbeda. Pemerintah kota Semarang pun juga menetapkan bahwa Warak Ngendok adalah maskot kota Semarang dan harus dilestarikan hingga anak cucu nanti. (vpd)

Share This Article