Tradisi Pacu Jalur Unik dari Kuantan Singingi | Breaktime
Tradisi Pacu Jalur yang Unik dari Kuantan Singingi
14.07.2016

Pernah mendengar Jalur Pacu, B’timers? Nusantara memiliki satu tradisi yang cukup unik, namanya Pacu Jalur. Jalur Pacu merupakan festival yang disebut sebagai event budaya dengan jumlah penonton paling ramai di Indonesia, lho. Penasaran kan, seperti apa Pacu Jalur yang ada, B’timers? Ini dia tradisi unik dari Kuantan Singingi!

Tradisi Pacu Jalur Unik dari Kuantan Singingi | Breaktime
Jalur yang digunakan untuk berpacu di atas air

Festival dari nenek moyang yang sudah mengakar

Ya, Festival Pacu Jalur tradisional adalah tradisi asli nenek moyang masyarakat yang tinggal di Kabupaten Kuantan Singingi, Riau. Tradisi ini sudah mengakar dan mampu bertahan selama ratusan tahun, B’timers. Dalam festival, para peserta menggunakan perahu atau sampan yang terbuat dari kayu. Oleh penduduk sampan ini disebut Jalur.

Biasanya panjang Jalur yang digunakan dalam pacuan bisa mencapai 25 hingga 30 meter dengan lebar 1 ½ meter, lho. Wah, tidak mengherankan jika Pacu Jalur ini menjadi satu perlombaan perahu terpanjang yang ada di Indonesia. Jalur mampu memuat antara 40 hingga 60 pengayuh, B’timers. Para pengayuh Jalur disebut “anak pacu”.

Tradisi Pacu Jalur Unik dari Kuantan Singingi | Breaktime
Serunya menonton balap jalur di perairan Kuantan Singingi

Sejarah di balik Festival Pacu Jalur yang cukup unik

Menurut sejarah, pada awal abad ke-17, sampan atau jalur digunakan sebagai alat transportasi utama para warga desa di daerah di sepanjang Sungai Kuantan yang terletak antara Kecamatan Hulu Kuantan bagian hulu hingga Kecamatan Cerenti di hilir. Hal ini mengingat karena saat itu alat transportasi darat belum berkembang dan pilihan satu-satunya adalah transportasi air.

Sekitar tahun 1905, saat bangsa Belanda mulai masuk ke Riau, mereka memanfaatkan Pacu Jalur untuk merayakan hari ulang tahun Ratu Wilhelmina yang jatuh pada setiap tanggal 31 Agustus. Bahkan sejak saat itu Pacu Jalur tidak lagi dirayakan pada hari raya umat Islam, B’timers. Penduduk Teluk Kuantan justru menganggap perayaan HUT Ratu Wilhelmina sebagai datangnya tahun baru.

Seiring dengan berkembangnya sektor pariwisata di Riau, Pacu Jalur turut menarik wisatawan untuk datang dan menyaksikan festival yang diadakan rutin setiap tahun. Wah, Anda tertarik menyaksikannya secara langsung, B’timers? (NO) 

Share This Article