Tradisi Kebo-keboan Unik Suku Osing Banyuwangi | Breaktime
Tradisi Kebo-keboan Unik Suku Osing Banyuwangi
18.07.2016

Setiap masyarakat di Indonesia memiliki tradisi uniknya sendiri. Kali ini Breaktime akan mengajak Anda ke bagian paling ujung dari Jawa Timur. Di Banyuwangi terdapat satu tradisi menarik yang masih dijaga hingga sekarang, B’timers. Namanya Tradisi Kebo-keboan milik Suku Osing Banyuwangi. Tradisi unik ini merupakan rangkaian selamatan desa sebagai ucapan syukur.

Tradisi Kebo-keboan Unik Suku Osing Banyuwangi | Breaktime
Kebo jadi-jadian akan berkeliling desa saat ritual

Tradisi unik Suku Osing Banyuwangi

Suku Osing mengucapkan rasa syukurnya atas hasil panen yang melimpah dengan tradisi ini, B’timers. Tak hanya itu, Tradisi Kebo-keboan juga sebagai upacara bersih desa untuk mendatangkan keselamatan seluruh warga desa dan dijauhkan dari segala bahaya. Ritual ini merupakan kegiatan rutin yang selalu digelar setiap setahun sekali pada bulan Muharram atau Suro pada kalender Jawa.

Arti di balik Tradisi Kebo-keboan

Jika melihat dari Bahasa Jawa, kebo-keboan memiliki arti kerbau jadi-jadian. Alasan kerbau yang dipilih menjadi hewan dalam tradisi ini, karena kerbau merupakan hewan yang diakui sebagai teman petani di sawah. Hewan ini juga menjadi tumpuan mata pencaharian masyarakat desa yang memang mayoritas bekerja sebagai petani, B’timers.

Tradisi Kebo-keboan Unik Suku Osing Banyuwangi | Breaktime
Setelah keliling desa, waktunya mandi lumpur!

Pelaku dalam Ritual Kebo-keboan

Dalam tradisi unik ini, peserta yang mayoritas memiliki tubuh tambun akan berdandan seperti kerbau, yang juga dilengkapi dengan tanduk buatan dan lonceng di lehernya. Mereka akan melumuri tubuh dengan cairan hitam dari oli dan arang. Diiringi musik khas Banyuwangi, para kerbau jadi-jadian ini akan mengelilingi desa sebagai ritualnya.

Setiap menggelar ritual, bisa dipastikan bahwa semua pemain akan kesurupan. Namun lain desa, lain pula aturannya. Tradisi Kebo-keboan ini awalnya karena ada wabah penyakit yang menyerang lahan pertanian selama bertahun-tahun, maka Buyut Wongso Kenongo memutuskan dirinya untuk meditasi. Beliau pun mengajak Joko Pekik, putranya untuk ikut menjalani ritual.

Yang aneh setelah keduanya bermeditasi adalah, Joko Pekik tiba-tiba bertingkah aneh, seperti layaknya seekor kerbau, B’timers. Dia mengguling-gulingkan tubuhnya di persawahan. Setelah itu hama penyakit yang sebelumnya menyerang lahan pertanian warga ternyata menghilang. Sejak itulah tradisi tolak bala pun dilakukan secara turun temurun, B’timers.

Wow, Tradisi Kebo-keboan Suku Osing ini cukup unik, ya, B’timers? (NO)

Share This Article