Terkuaknya Konspirasi Sejarah Sumpah Pemuda | Breaktime
Terkuaknya Konspirasi Sejarah Sumpah Pemuda
28.10.2017

Pada tanggal 28 Oktober setiap tahunnya selalu dirayakan seluruh bangsa Indonesia sebagai Hari Sumpah Pemuda. Hari bersejarah 28 Oktober 1928 konon merupakan pertama kalinya nama bangsa Indonesia dan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan pertama kali dinyatakan secara resmi. Setelah mengalami penjajahan Belanda selama 3,5 setengah abad, peristiwa Sumpah Pemuda mengawali menguatnya rasa persatuan di kalangan pemuda Indonesia dari beragam latar belakang daerah dan kesukuan. Momen haru Sumpah Pemuda bermula dari didirikannya organisasi kepemudaan Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI) yang diresmikan pada September 1926. PPPI kemudian mencetuskan Kongres Pemuda I (1926) dan Kongres Pemula II (1928).

Didirikan oleh sekumpulan mahasiswa RHS (Sekolah Tinggi Hukum) dan Stovia (Sekolah Tinggi Kedokteran) di Batavia serta THC (Sekolah Tinggi Tekhnik) di Bandung, PPPI gagal merumuskan sSumpah Pemuda pada peristiwa Kongres Pemuda I karena masih kentalnya unsur kedaerahan dari para anggotanya. Kongres Pemuda II pada 27-28 Oktober 1928 di Jakarta diselenggarakan di bangunan yang terletak di Jalan Kramat Raya 106. Bangunan yang sejak tahun 1972 disahkan sebagai cagar budaya nasional sekaligus Museum Sumpah Pemuda tersebut merupakan tempat dibacakannya Sumpah Pemuda.

Baca Juga Artikel :
Berita Terbaru
Singgah di Talad Neon, Night Market Paling Seru

Bung Karno pernah berkata bahwa bangsa yang besar tidak pernah melupakan sejarahnya sendiri. Demikian juga dengan kebenaran peristiwa sejarah Sumpah Pemuda yang hingga kini masih diselubungi misteri. Tahukah B’timers bahwa kalimat Sumpah Pemuda yang sering Anda pelajari di bangku sekolah tersebut ditengarai palsu? Konon, Kongres Pemuda II pada 28 Oktober 1928 hanya berhasil merumuskan putusan, bukan sumpah seperti yang hingga kini banyak ditulis di buku-buku sejarah. 

Terkuaknya Konspirasi Sejarah Sumpah Pemuda | Breaktime
Monumen Persatuan Pemuda

Putusan bertajuk ”Poetoesan Congress Pemoeda-pemoeda Indonesia” tersebut diketahui naskah aslinya dari surat kabar harian Tionghoa, Sinpo, yang sejatinya berbunyi:

1. Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertanah air Indonesia.
2. Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa Indonesia.
3. Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa, bahasa Indonesia.

Putusan tersebut diganti menjadi ”Soempah Pemoeda” oleh Muhammad Yamin di kemudian hari, tepatnya pada Kongres Bahasa Indonesia Kedua yang diadakan di Medan pada 28 Oktober 1954. Meski nampak berbeda dalam hal penamaan belaka, nyatanya para pemuda yang hadir dalam Kongres Pemuda II tak pernah sekalipun merumuskan Sumpah Pemuda apalagi mencetuskan kata “Sumpah,” melainkan hanya menghasilkan naskah “Putusan” seperti yang tertulis di atas. Erond Damanik, seorang peneliti dari Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial (Pussis), Universitas Negeri Medan (Unimed), menegaskan bahwa telah terjadi rekayasa sejarah terhadap peristiwa yang hingga kini dikenal sebagai ”Sumpah Pemuda”.

Baca Juga Artikel :
Berita Terbaru
Menjelajah Tanah Batak Nan Eksotis Dan Damai

Dalam suatu kesempatan, Erond Damanik mengutarakan bahwa penjelasan sejarah mesti didasarkan kepada bukti otentiknya dan bukan pada rekayasa atas sumber primernya. Tanpa adanya bukti sejarah yang otentik, generasi penerus bangsa Indonesia akan disuapi dengan kebohongan sejarah yang mengaburkan fakta historis masa lalu. Muhammad Yamin, sang sekretaris Kongres Pemuda II tahun 1928 merupakan sosok dibalik “pembelokan” sejarah Sumpah Pemuda yang sebenarnya hingga menjadi naskah seperti yang kita kenal kini, yaitu:

1. Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.
2. Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
3. Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Perubahan tersebut diajukan Muhammad Yamin pada secarik kertas yang disodorkan kepada Soegondo ketika Mr. Sunario sedang berpidato pada sesi terakhir kongres. Yamin berbisik kepada Soegondo, ”Ik heb een eleganter formulering voor de resolutie” (Saya mempunyai suatu formulasi yang lebih elegan untuk keputusan Kongres ini). Secarik kertas yang kemudian dibubuhi paraf “setuju” oleh Soegondo tersebut akhirnya diteruskan kepada peserta kongres yang lain untuk mendapatkan paraf setuju juga. Sumpah yang awalnya dibacakan oleh Soegondo dan kemudian dijelaskan panjang-lebar oleh Yamin tersebut menjadi naskah Sumpah Pemuda yang banyak dikenal hingga saat ini.

Baca Juga Artikel :
Berita Terbaru
Di Balik Gunung Agung yang Kini Berstatus Awas

Perubahan kata ”Putusan Kongres” menjadi ”Sumpah Pemuda”, menurut sejarawan JJ Rizal merupakan korupsi teks sejarah putusan Kongres Pemuda II yang dilakukan Muhammad Yamin untuk kepentingan ideologis, yaitu mengaitkan dengan sebuah peristiwa besar jaman Majapahit yaitu Sumpah Palapa yang diucapkan oleh Patih Gajah Mada. Fakta sejarah pada masa Kerajaan Majapahit tersebut kemudian dibawa ke ranah kepentingan politik kontemporer untuk menciptakan mitos bangsa Indonesia sekaligus memberikan nuansa sakral. (dee)



artikel kompilasi
related img
LIVE
YOUR LIFE
related img
LIVE
YOUR LIFE
related img
LIVE
YOUR LIFE