Suku Mosuo dari Lembah Himalaya yang Mulai Punah | Breaktime
Suku Mosuo dari Lembah Himalaya yang Mulai Punah
21.09.2017

Ketika modernisasi telah merajalela di hampir seluruh penjuru dunia, tersebutlah Suku Mosuo yang tinggal di lembah Pegunungan Himalaya. Menetap di tepi Danau Lugu nan subur, suku yang menganut sistem matrilineal tersebut didapuk sebagai salah satu masyarakat semi-matriarkal terakhir yang masih bertahan di dunia. Dengan mengikuti garis keturunan ibu, budaya dan sistem sosial dalam masyarakat Mosuo sepenuhnya dijalankan menurut tradisi suku tersebut yang didominasi oleh peran wanita.

Kelompok etnis Suku Mosuo bertempat tinggal di Provinsi Yunnan dan Sichuan di Cina serta berbatasan langsung dengan wilayah negeri Tibet. Komunitas Suku Mosuo di tepi Danau Lugu saat ini terdiri dari 50.000 jiwa, jumlah yang hingga saat ini terus menurun drastis. Selain menjadi salah satu masyarakat kuno yang masih bertahan di tengah gerusan zaman, Suku Mosuo juga terkenal di kalangan antropolog karena tradisi matrilineal mereka yang menjunjung tinggi wanita dalam hal pemegang kekuatan utama di keluarga serta sebagai pemegang kebijakan mutlak.

Baca Juga Artikel :
Berita Terbaru
Aneh! Fakta Mengenai Korea Utara yang Mencengangkan

Ketika gerakan feminisme makin gencar di seluruh dunia, Suku Mosuo telah mempraktikkan tradisi tersebut sejak ratusan tahun silam. Salah satu hal yang menonjol dalam tradisi matrilineal Suku Mosuo ialah yang disebut dalam istilah setempat sebagai tisese. Dalam bahasa Cina, istilah tersebut diterjemahkan secara salah-kaprah sebagai “pernikahan berjalan,” meski makna sejatinya secara harfiah ialah “keluar dan masuk.” Istilah tersebut merujuk pada sistem pernikahan ala Suku Mosuo yang sekilas akan memuaskan para aktivis feminisme modern. 

Suku Mosuo dari Lembah Himalaya yang Mulai Punah | Breaktime
Suku Mosuo dipimpin wanita sebagai kepala keluarga

Dimulai sejak wanita dan pria Suku Mosuo memasuki usia dewasa, setiap individu berhak memilih pasangan masing-masing dalam sebuah sistem pernikahan tisese atau walking marriage. Pria akan datang ke kamar wanita di malam hari dan melakukan aktivitas seksual yang mereka inginkan, tentunya berdasarkan kesepakatan dan ketertarikan yang sama dari kedua belah pihak. Pria tersebut kemudian akan kembali ke rumahnya di pagi hari. Bayi yang lahir dari hasil hubungan seksual tersebut akan diasuh sebagai bagian dari keluarga sang perempuan. Meski semua anggota Suku Mosuo berhak mengganti pasangan sesukanya, tak jarang pernikahan unik tersebut bertahan hingga seumur hidup.

Baca Juga Artikel :
Berita Terbaru
Tempat Wisata di Yogyakarta Penuh Nilai Seni

Tak hanya menentukan garis keturunan, dominasi wanita di Suku Mosuo juga menuntut mereka untuk berperan besar dalam kehidupan desa hingga melakukan pekerjaan fisik di ladang untuk memenuhi kebutuhan harian anggota keluarga. Kekuatan fisik para wanita senior Suku Mosuo tersebut mungkin akan mencengangkan bagi B’timers, terutama dengan adanya stereotip wanita sebagai makhluk yang lemah dan tak berdaya. Sebagai kepala keluarga, para wanita Suku Mosuo bebas “menceraikan” pasangan mereka apabila timbul masalah dan ketidakcocokan. Alih-alih menimbulkan kekacauan, hal ini rupanya menyebabkan kehidupan rumah tangga Suku Mosuo begitu damai dan harmonis, sangat kontras dengan kehidupan penduduk Cina secara umum yang mementingkan nilai keluarga.

Suku Mosuo dari Lembah Himalaya yang Mulai Punah | Breaktime
Semua pekerjaan akan dilakukan wnaita Suku Mosuo demi menghidupi anggota keluarga

Struktur semacam itu tentunya dianggap menguntungkan perempuan karena tak memiliki ketergantungan kepada kaum adam seperti yang umum terjadi di belahan lain dunia. Praktik pernikahan berjalan serta berlakuknya garis keturunan ibu membuat Suku Mosuo tinggal di sebuah tempat tinggal besar yang dihuni oleh seluruh garis keturunan wanita. Suku kuno tersebut secara mengejutkan telah bertahan dari ancaman erosi budaya yang terjadi saat Revolusi Komunis di Cina, dengan mengandalkan kecerdasan, martabat, serta kekuatan fisik mengagumkan yang dimiliki para wanita. Tak hanya antropolog, kawasan tempat tinggal mereka juga sering dikunjungi para wisatawan bahkan Pemerintah Cina telah menjadikan mehidupan Suku Mosuo sebagai sebuah komoditas wisata yang menguntungkan.

Baca Juga Artikel :
Berita Terbaru
Cerita Di Balik Megahnya Rumah Tongkonan Toraja

Meski sekilas mendatangkan profit berlimpah, Suku Mosuo rupanya malah mengalami kemunduran dengan banyaknya perhatian yang diberikan oleh media dan wisatawan terhadap pola hidup mereka yang kompleks. Generasi muda Suku Mosuo kini cenderung menikah dengan anggota Suku Han Cina dan banyak komunitas lain di luar suku asli mereka. Tak hanya itu, banyak pula yang berpindah ke kota-kota besar, mencari pekerjaan dan meninggalkan tradisi Suku Mosuo. Bantuan dari Pemerintah Cina serta keuntungan dari pariwisata tentunya cukup membantu keberlangsungan hidup Suku Mosuo yang masih bertahan, yang mirisnya malah didominasi oleh generasi tua sebagai pengawal terakhir kebudayaan mereka.

Ketika gerakan feminisme kian Berjaya di dunia, bukankah miris bahwa tradisi matrilineal unik ala Suku Mosuo malah perlahan memudar? (dee)



artikel kompilasi
related img
LIVE
YOUR LIFE
related img
LIVE
YOUR LIFE
related img
LIVE
YOUR LIFE