Seluk-beluk Koteka yang Mulai Binasa | Breaktime
Seluk-beluk Koteka yang Mulai Binasa
23.09.2017

Apa yang muncul di benak B’timers ketika mendengar kata Koteka? Sama halnya dengan pandangan keliru mayoritas bangsa Indonesia mengenai ketelanjangan, Koteka dianggap tabu serta bagian mutlak dari keterbelakangan. Berapa banyak wanita dan pria asal Indonesia selain dari Tanah Papua yang memalingkan muka setiap kali melihat anggota tubuh pria dan wanita yang “tak semestinya” dipertontonkan? Jangankan bertemu langsung dengan suku tradisional Papua yang masih mengenakan Papua, melihat ibu menyusui di tempat umum saja sudah jengah. Lalu benarkah Koteka sedemikian tabu dan terbelakang?

Berasal dari bahasa setempat yang secara harfiah berarti “pakaian”, koteka merujuk pada alat penutup organ vital pria dalam budaya sebagian penduduk asli Papua. Di beberapa suku yang menghuni Pegunungan Jayawijaya, Koteka disebut juga dengan istilah Horim atau Holim. Mayoritas lelaki Papua menggunakan bahan alami dari labu untuk membentuk Koteka, sedangkan para wanita mengenakan rok rumbai yang terbuat dari daun sagu kering. Kira-kira bagaimana sih proses pembuatan buah labu hingga menjadi Koteka tersebut?

Baca Juga Artikel :
Berita Terbaru
Suku Mosuo dari Lembah Himalaya yang Mulai Punah

Masyarakat tradisional Papua mulai membuat Papua setiap kali memasuki masa menanam labu. Setelah dibiarkan tumbuh beberapa bulan, labu yang ditanam menggantung akan diikat dengan batu sehingga tumbuh membentuk tegak lurus. Agar ujungnya melengkung, batuan tersebut dilepas beberapa saat menjelang masa panen. Setelah labu atau yang disebut juga dalam bahasa lokal sebagai bobbe matang, ujungnya akan dipotong lalu daging labu dikeruk hingga keluar bersih dan menyisakan rongga di dalamnya. Setelah dikeruk, Koteka akan dipanaskan di atas api hingga berubah kecokelatan lalu dijemur seharian penuh. Koteka yang sudah jadi bisa dipasang tali untuk mengikat pada tubuh maupun hiasan bulu Kasuari atau Cenderawasih di ujungnya. Bentuk koteka tersebut rupanya berbeda-beda berdasarkan kelas sosial si pemakai. 

Seluk-beluk Koteka yang Mulai Binasa | Breaktime
Koteka kini dikomersilkan sebagai suvenir bagi wisatawan yang berkunjung ke Papua

Di suku Baliem, misalnya, Koteka berbentuk melengkung hanya digunakan oleh penduduk yang memiliki pengaruh dalam masyarakat. Kolo atau Koteka berujung melengkung ke depan biasanya hanya boleh disandang oleh Ap Kain atau pemimpin klan. Selain itu, Haliag atau Koteka berujung melengkung ke samping dikenakan oleh masyarakat golongan menengah seperti Ap Menteg atau panglima perang dan Ap Ubalik atau tabib dan pemimpin adat. Masyarakat biasa akan mengenakan Koteka yang berbentuk tegak lurus biasa. Di samping itu, Koteka juga memiliki bentuk berbeda berdasarkan suku berbeda. Suku Yali, misalnya, menyukai labu berbentuk panjang. Sedangkan Suku Tiom biasanya menggunakan Koteka yang terbuat dari 2 labu.

Baca Juga Artikel :
Berita Terbaru
Aneh! Fakta Mengenai Korea Utara yang Mencengangkan

Selain berdasarkan status sosial, bentuk Koteka juga dibedakan ukurannya berdasarkan aktivitas sang pemakai. Saat bekerja, Koteka yang digunakan ialah yang berukuran pendek agar dapat bergerak leluasa. Koteka panjang yang dilengkapi hiasan, sebaliknya, digunakan khusus untuk upacara adat. Semakin tinggi jabatan atau strata sosial seseorang dalam suatu suku, biasanya semakin besar pula ukuran Koteka yang dikenakan. Demikian juga dengan anak-anak kepala suku yang biasa mengenakan Koteka berbentuk bulat.

Saking sakralnya, Koteka di kalangan raja atau kepala suku akan diwariskan kepada anak cucunya begitu sang kepala suku wafat. Koteka pada tradisi Papua tak hanya menjadi sekedal pakaian yang dikenakan untuk melindungi tubuh, namun tak jauh beda dengan tongkat hingga keris pada raja-raja Jawa yang diwariskan secara turun-temurun. Lelaki Papua biasanya sudah disarankan untuk mengenakan Koteka sedini mungkin, biasanya mulai usia 3 atau 5 tahun, serta akan terus digunakan hingga dewasa dan meninggal dunia dan tak akan pernah diganti kecuali rusak.

Baca Juga Artikel :
Berita Terbaru
Tempat Wisata di Yogyakarta Penuh Nilai Seni

Sayangnya, Koteka mulai berkurang penggunaannya sejak tahun 1950-an. Saat itu, para misionaris mulai mengkampanyekan pemakaian celana pendek sebagai pengganti Koteka, sama halnya dengan rok rumbai pada wanita Papua yang mulai digantikan dengan kain sarung. Hingga yang palaing dramatis ialah upaya pengurangan pemakaian Koteka yang dicanangkan Pemerintah Indonesia sejak tahun 1960-an. Kampanye Anti-Koteka kemudian digelar melalui para Gubernur Papua, terutama sejaka masa jabatan Frans Kaisiepo pada tahun 1964. Upaya tersebut semakin gencar pada tahun 1971 ketika Operasi Koteka diberlakukan dengan membagikan pakaian kepada penduduk.

Namun demikian, tradisi Koteka masih bertahan dan tetap digunakan hingga kini, meski dilarang dikenakan di beberapa tempat seperti di kendaraan umum. Anak-anak muda biasanya digalakkan untuk mengenakan Koteka pada acara tertentu yang bertema kebudayaan, misalnya Festival Lembah Baliem maupun karnaval lainnya. Gereja Katolik bahkan memperbolehkan jemaat untuk mengenakan Koteka saat misa berlangsung. Koteka telah menjadi identitas masyarakat Papua sehingga tak mudah dihapuskan.

Terlepas dari pandangan beragam mengenai Koteka, jangan jadikan salah satu bukti keragaman budaya Indonesia ini punah begitu saja dengan sia-sia ya, B’timers! (dee)



artikel kompilasi
related img
icon maps
CELEBES
TRAVEL GUIDE
related img
icon maps
CELEBES
TRAVEL GUIDE
related img
icon maps
CELEBES
TRAVEL GUIDE