Sejarah Kelam di Balik Keindahan Phnom Penh | Breaktime
Sejarah Kelam di Balik Keindahan Phnom Penh
01.11.2016

Sebagai destinasi wisata, Kamboja memang tidak sepopuler Thailand atau Singapura. Tapi bagi penggemar backpacker dan petualangan sejarah, Kamboja menyimpan banyak lokasi tersembunyi yang menarik untuk dijelajah.

Sisa-sisa perang tahun 70an yang membuat 1 dari 3 warga Kamboja tewas itu memang masih cukup terasa di negara ini, khususnya di situs-situs sejarah dan museum.

Tapi di luar itu, suasana Kamboja -terutama Phnom Penh dan Siem Reap- sangat nyaman. Orang-orang lokal sangat ramah, murah senyum, dan gemar menolong, meskipun dengan bahasa Inggris yang masih terbatas.

Sejarah Kelam di Balik Keindahan Phnom Penh | Breaktime
Royal Palace Kamboja, sepintas mirip dengan Grand Palace di Bangkok

Saya menjadikan Kamboja sebagai destinasi backpacking bukan tanpa alasan. Selain melihat kembali museum-museum bersejarah di ibu kota Phnom Penh, keindahan Angkor Wat di Siem Reap tak pernah membosankan untuk dikunjungi.

Rute Phnom Penh menuju Siem Reap saya pilih dengan pertimbangan penerbangan pagi dari Kuala Lumpur. Seperti biasa, saya menggunakan rute penerbangan dari Kuala Lumpur karena adanya budget airline yang harga tiketnya cukup ramah di kantong backpacker.

Sebagai catatan, mata uang Dolar Amerika sangat berguna di sini. Hampir semua transaksi bisa pakai dolar. Bahkan mesin ATM pun yang keluar lembaran dolar, bukan mata uang lokal, Riel Kamboja. Jadi pastikan bawa dolar secukupnya apabila B'timers ke Kamboja.

Sejarah Kelam di Balik Keindahan Phnom Penh | Breaktime
National Museum di Phnom Penh, penuh dengan benda-benda bersejarah Kerajaan Khmer

Hari Pertama

Landing pagi di ibukota Kamboja memberi saya banyak waktu untuk jalan-jalan di sekitar penginapan. Saya memilih hostel dengan kamar dormitory di dekat night market dengan bangunan menghadapi Sungai Mekong.

Dari penginapan di kawasan ini, kita cukup jalan kaki menuju tiga tourist attraction ternama di Phnom Penh, yaitu Wat Phnom, Royal Palace, dan National Museum. Saat malam, B'timers juga bisa menghabiskan waktu dengan belanja dan kuliner di Phnom Penh Night Market.

Wat Phnom merupakan kuil Buddha yang mayoritas bangunannya berwarna putih. Lokasinya berada tak jauh dari Jembatan Mekong, cukup jalan kaki 15 menit dari penginapan saya menuju Wat Phnom.

Sejarah Kelam di Balik Keindahan Phnom Penh | Breaktime
Penjual mie kuah di Phnom Penh, streetfood favorit warga lokal Kamboja

Sementara itu Royal Palace sedikit mengingatkan saya pada Grand Palace di Bangkok. Memang, bangunan dan fungsi keduanya hampir sama. Selain kegiatan kenegaraan, Royal Palace juga difungsikan untuk kegiatan kerajaan, budaya, dan keagamaan, khususnya Buddha.

National Museum berada satu blok di belakang Royal Palace. Di museum dengan model bangunan berwarna merah terracotta ini tersimpan berbagai patung, senjata, dan benda-bendaa bersejarah lain peninggalan Kerajaan Khmer.

Malam harinya, saya menghabiskan waktu di Phnom Penh Night Market. Lokasi pasar malam ini sangat strategis, berada tepat di tepi Sungai Mekong dan dikelilingi restoran, cafe, dan hotel-hotel mulai kelas dormitory sampai bintang tiga dan empat.

Bagi wisatawan Muslim, jangan khawatir karena di Phnom Penh Night Market ini juga banyak gerai yang mencantumkan label Halal. Selain menu Halal, juga tersedia menu vegetarian. Dan untuk transaksi, lagi-lagi The Power of USD. Kamu bisa membayar semua makanan -dan semua barang- di Night Market ini dengan USD alias Dollar Amerika.

Sejarah Kelam di Balik Keindahan Phnom Penh | Breaktime
Bangunan utama di Choeung Ek Killing Field, saksi bisu kekejaman Khmer Merah

Hari Kedua

Jam 9 pagi, tuk-tuk yang saya pesan sudah siap di depan hotel. Agenda hari kedua adalah flashback ke peristiwa kelam sekaligus catatan hitam sejarah bangsa Kamboja. Apalagi kalau bukan perang pada periode Pol Plot atau Khmer Merah di akhir tahun 1970an.

Tempat pertama yang saya tuju adalah Choeung Ek Killing Field, jaraknya sekitar 17 kilometer dari pusat kota Phnom Penh atau sekitar 1 jam perjalanan dengan tuk-tuk. Killing Field merupakan tempat pembantaian dan kuburan massal korban rezim Khmer Merah. Sisa-sisa tulang dan tengkorak bisa kita lihat di museum ini, terutama pada bangunan stupa yang menyimpan lebih dari 5000 tengkorak korban Khmer Merah.

Sejarah Kelam di Balik Keindahan Phnom Penh | Breaktime
Ribuan tengkorak yang tersimpan di dalam museum Killing Field Phnom Penh

Lepas tengah hari, saya kembali ke pusat kota Phnom Penh menuju museum lainnya, Tuol Sleng Genocidal Museum. Museum ini dahulunya adalah gedung sekolah yang kemudian diubah menjadi penjara rahasia oleh rezim Khmer Merah. Di dalamnya terdapat banyak alat-alat interogasi dan penyiksaan tahanan.

Mengunjungi Killing Field dan Tuol Sleng membuka mata saya bagaimana manusia bisa begitu kejam terdapat sesamanya. Sejarah kelam ini tentu masih sangat membekas bagi bangsa Kamboja terjadi masih dalam rentang sekitar 40 tahun lalu.

Malam hari kedua, saya meninggalkan ibu kota Kamboja menuju Siem Reap dengan bis malam. Perjalanan enam jam dari tengah malam sampai subuh tak begitu terasa lama karena saya bisa istirahat dengan nyenyak di sleeper bus. Harga tiketnya sekitar 15 USD dan bisa dipesan secara online, seperti pemesanan tiket pesawat. (za)



artikel kompilasi
related img
LIVE
YOUR LIFE
related img
LIVE
YOUR LIFE
related img
LIVE
YOUR LIFE