Saulak, Tradisi Pra-Nikah Suku Mandar Banyuwangi | Breaktime
Saulak, Tradisi Pra-Nikah Suku Mandar Banyuwangi
27.05.2017

Indonesia memang merupakan negara yang kaya dengan destinasi wisatanya, B’timers. Dengan begitu banyak pulau dan suku yang mendiami berbagai wilayah nusantara, membuat Indonesia menjadi salah satu negara yang paling kaya dengan budaya. Hal itu tentu sudah bukan merupakan hal yang asing.

Salah satu tradisi yang hingga kini masih terus diabadikan dari satu wilayah di Jawa bagian paling timur adalah Tradisi Saulak, nih, B’timers. Penasaran dengan bentuk tradisi seperti apa Saulak ini? Yuk, intip cerita unik di baliknya berikut ini!

Baca Juga Artikel :
Berita Terbaru
Intip Sejarah Kenaikan Isa Almasih Berikut, yuk!

Biasanya saat menjalankan tradisi ini, disiapkan dan ditata beberapa bunga di atas nampan yang ditaruh di atas permukaan lantai. Semua ini dilakukan oleh seorang wanita setengah baya. Selain itu, wanita ini juga bakal menyiapkan beberapa colok,. Colok terbuat dari bambu yang dibalut kemiri yang dihaluskan sebelumnya dan dicampur dengan minyak.

Saulak, Tradisi Pra-Nikah Suku Mandar Banyuwangi | Breaktime
Keunikan tradisi waulak

Nanti pada saat Tradisi Saulak dimulai, colok akan dibakar. Wanita yang memimpin jalannya upacara ini mengungkapkan jika untuk menjadi Passili yang memimpin upacara adat ini harus keturunan. Dari ibu, diturunkan kepada anak dan seterusnya, B’timers.

Yang unik dari Tradisi Saulak ini adalah, semua pasangan Suku Mandar Banyuwangi yang akan menikah. Sebelum upacara untuk Saulak dimulai, keluarga calon mempelai akan membuat lingkaran. Mereka akan menyiapkan beberapa sesaji. Sesaji yang harus disiapkan antara lain bunga tiga rupa, colok yang dibakar, tumpukan baju serta tumpeng kecil dengan pisang yang diletakkan di nampan.

Baca Juga Artikel :
Berita Terbaru
Sri Lanka & Suguhan Untuk Para Pemuja Budaya

Adapun syarat dari minyak yang digunakan haruslah dibuat oleh perempuan yang telah memasuki masa menopause, B’timers. Langkahs elanjutnya adalah, sang calon pengantin wanita akan dipanggil diminta berbaring di tengah lingkaran dari keluarga dan kerabat sanak saudara yang datang untuk hadiri upacara adat yang satu ini.

Saulak, Tradisi Pra-Nikah Suku Mandar Banyuwangi | Breaktime
Kesakralan tradisi yang masi dilestarikan

Jika calon pengantin wanita telah berbaring di tengah lingkaran, selanjutnya pemimpin upacara akan membuka sebuah payung tepat di atas kepala sang mempelai wanita, B’timers. Tombak yang sebelum upacara disiapkan pun dipegang bersebelahan dengan payung tersebut. Pemimpin upacara Tradisi ini selanjutnya akan membacakan doa-coa dan memegang telur yang telah dilumuri minyak.

Langkah selanjutnya yang akan dilakukan oleh pemimpin upacara adat yang berasal dari Banyuwangi ini adalah, telur tersebut akan dioleskan ke beberapa bagian tubuh sang calon mempelai. Salah satunya di bagian dahi, belakang leher, tangan, perut dan kaki.

Baca Juga Artikel :
Berita Terbaru
Lima Lokasi Wajib Snorkeling di Karimun Jawa

Berikutnya, tumpukan kain dan baju akan diletakkan di atas wajah sang pengantin. Dan secara berganti-gantian dipegangi oleh kerabat yang hadir dan duduk melingkar. Ritual ini dilakukan sebanyak hingga 3 kali putaran. Setelah tumpukan baju, sama halnya dengan bunga tiga rupa dan colok yang sebelumnya ini telah dibakar, B’timers. Masing-masing dipegang membentuk lingkaran.

Untuk ritual terakhir di dalam Tradisi Saulak adalah tumpeng kecil dan pisang akan diletakkan di bagian atas dari perut sang mempelai wanita. Namun sebelumnya terlebih dahulu diputar sebanyak 3 kali, lho. Pemimpin upacara selanjutnya akan mencoba untuk mengangkat nampan. Biasanya ada kasus di mana nampan tak bisa diangkat.

Nah, jika seperti ini, pemimpin upacara akan meminta sang ayah dari mempelai wanita untuk mencoba mengangkatnya, namun terlebih dahulu membaca sholawat. Dan aturannya adalah, jangan mengangkat, tetapi digeser hingga terlepas. Namun tak jarang, nampan masih sulit untuk dilepaskan. Jika demikian, maka akan dicoba oleh sang ibu mempelai.

Biasanya syarat yang diberikan bisa bermacam-macam, lho, B’timers. Mulai dari minta bantuan orang yang lewat di depan rumah, hingga meminta cincin atau diberikan benda-benda lainnya baru nampan tersebut bisa terlepas.

Tidak hanya Tradisi Saulak yang masih dijalanjan hingga kini oleh Suku Mandar Banyuwangi. Ada juga Tradisi Larung Sesaji. Tradisi ini dilakukan setiap ada kejadian yang berkaitan dengan siklus kehidupan. (NO)



artikel kompilasi
related img
icon maps
BORNEO
TRAVEL GUIDE
related img
icon maps
BORNEO
TRAVEL GUIDE
related img
icon maps
BORNEO
TRAVEL GUIDE