Ritual Seba: Tradisi Suku Baduy Yang Bertahan | Breaktime
Ritual Seba: Tradisi Suku Baduy Yang Bertahan
04.03.2017

Indonesia sepertinya tak akan pernah mati tentang urusan budaya dan tradisi. Ribuan wilayah tersebar dari ujung barat hingga ujung timur negeri kepulauan ini. Setiap wilayah menyimpan bahasa, budaya, dan tradisi yang berbeda-beda. Eksplorasi wisata di Indonesia tak bisa dipungkiri lagi. Mungkin tak cukup satu atau dua tahun untuk menjelajah setiap inci negeri maritim ini.

Kali ini Breaktime masih sampai pada salah satu suku di Provinsi Banten yang begitu mendunia. Suku Baduy memiliki tradisi yang begitu dijaga dan dipertahankan hingga era modern sekarang ini. Memperkenalkan sedikit sebuah suku yang tinggal di desa pedalaman bernama Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten.

Baca juga : INI BEDANYA SUKU BADUY DALAM DAN BADUY LUAR

Suku Baduy terkenal dengan lifestyle mereka yang masih sangat primitif. Begitu sederhana, tulus, dan taat pada leluhur. Suku yang juga terkenal sangat menyatu dengan alam ini hidup dengan hanya bercocok tanam. Berpegang teguh pada adat istiadat jadi pedoman hidup masyarakatnya. Salah satu tradisi yang hingga kini terus dilakukan adalah Ritual Seba.

Seba adalah tradisi kuno yang memiliki usia yang sama dengan Suku Baduy. Mereka akan keluar kampung untuk menemui Bapa Gede denagn membawa hasil bumi. Secara umum, Seba disebut juga dengan acara silaturrahmi dengan para petinggi Provinsi Banten. Mereka akan berjalan sejauh berkilo-kilo meter dengan membawa hasil bumi menuju kantor pemerintahan.

Ritual Seba: Tradisi Suku Baduy Yang Bertahan | Breaktime
Masyarakat Suku Baduy melakukan ritual Seba (Photo by Google)

Ritual ini dibagi dua kloter, Baduy Dalam akan berjalan kaki, sedangkan Baduy Luar yang sudah mengenal teknologi akan pergi dengan menggunakan angkutan. Acara Seba sendiri juga dibagi dua, Seba Kecil dan Seba Besar. Perbedaannya hanya pada bawaan, kalau Seba Besar membawa hasil bumi sekaligus peralatan dapur.

Ritual Seba: Tradisi Suku Baduy Yang Bertahan | Breaktime
Berkumpul di kantor pemerintahan (Photo by Google)

Dari kampung Baduy menuju kantor pemerintahan mereka harus menempuh jarak sejauh 39 km. Seba sendiri dilakukan setiap satu tahun sekali tepatnya pada bulan Safar berdasarkan penanggalan Suku Baduy. Ritual ini bertujuan untuk mengucapkan rasa syukur dan penghormatan Suku Baduy pada pemerintah Provinsi Banten.

Tak hanya memiliki tujuan, ritual Seba rupanya juga memiliki mitos yang sangat dipercaya oleh masyarakat Suku Baduy. Mitos tentang adanya Bhatara Tunggal sebagai pemegang kekuasaan tertinggi di Suku Baduy sangat dipercaya. Mereka percaya bahwa Bhatara Tunggal hidup di hulu sungai Ciujung dan Cisimeut. Dua tempat tersebut jadi tempat keramat bagi Suku Baduy atau yang dikenal juga dengan nama Arca Domas. Tempat ini sangat tertutup untuk siapapun, kecuali pemimpin Suku Baduy atau yang disebut dengan Puun. 

Baca juga : MENGENAL LEBIH DALAM SUKU BADUY DARI HISTORINYA

Mereka meyakini bahwa Bhatara Tunggal inilah yang menciptakan bumi dari benda besar dan kental sampai akhirnya melebar dan berangsur-angsur mengeras. Selain dianggap sebagai inti jagat, Arca Domas juga dianggap sebagai tempat cikal bakal diturunkannya orang Baduy.

Dalam ritual Seba Besar, ribuan masyarakat Baduy akan memenuni jalanan Banten. Ini bisa jadi peristiwa budaya yang bisa dinikmati oleh wisatawan dari luar Banten. Tradisi suku primitif yang masih terlaksana dengan baik di tengah pesatnya perkembangan teknologi. (vpd)



artikel kompilasi
related img
icon maps
PAPUA
TRAVEL GUIDE
related img
icon maps
PAPUA
TRAVEL GUIDE
related img
icon maps
PAPUA
TRAVEL GUIDE