Pulau Timor, Surga Cendana yang Tak Lagi Mewangi | Breaktime
Pulau Timor, Surga Cendana yang Tak Lagi Mewangi
29.09.2017

 “Tuhan telah menciptakan Timor sebagai surga cendana, Maluku sebagai surga cengkeh, dan Banda sebagai surganya pala.”

Penuturan tersebut ditirukan Tomé Pires, seorang penjelajah Portugis yang mendatangi Nusantara sekitar tahun 1512 hingga 1515 Masehi, dari para pedagang rempah-rempah di kawasan Selat Malaka. Pada masa keemasan perdagangan rempah-rempah di Nusantara, tepatnya saat tahun-tahun berlangsungnya ekspedisi dari berbagai penjelajah Eropa, cendana menjadi salah satu komditas utama dalam perdagangan rempah-rempah dunia yang berpusat di Indonesia. Meski kini dapat ditemukan di berbagai kawasan di kepulauan Nusa Tenggara dan Pulau Jawa, cendana pada masa itu hanya bisa ditemukan di Pulau Timor.

Cendana atau yang dikenal dengan nama ilmiah Santalum album merupakan jenis pohon penghasil kayu cendana dan minyak cendana yang hingga saat ini telah tergolong langka dan dilindungi. Hal tersebut diakibatkan oleh budidaya yang cukup sulit karena periode awal kehidupan pohon cendana yang berupa tanaman parasit yang memerlukan pohon inang untuk mendukung pertumbuhannya. Nama cendana berasal dari istilah bahasa Sansekerta “candana,” sedangkan para saudagar Cina menyebutnya sebagai “chan-tan.” Dari seluruh jenis cendana yang ada, cendana putih dianggap sebagai tanaman cendana yang secara asli berasal dari Pulau Timor.

Baca Juga Artikel :
Berita Terbaru
Filosofi Suku Tradisional Papua di Rumah Honai

Eksploitasi cendana secara besar-besaran oleh para saudagar Cina dan India bertujuan untuk memenuhi kebutuhan mereka akan cendana dalam skala besar. Kayu cendana pada masa itu biasanya digunakan sebagai bagian dari kegiatan religius seperti untuk bahan dupa dan aromaterapi, bahan pembuatan furnitur, untuk campuran parfum, serta sangkur / warangka untuk wadah keris. Minyaknya sendiri dimanfaatkan untuk terapi pengobatan, bahan kosmetik, serta peti mati. Konon, jenazah para putri-putri raja dari Kerajaan Sri Lanka sejak abad ke-9 selalu dibalsam dengan menggunakan bahan dari kayu cendana.

Pulau Timor, Surga Cendana yang Tak Lagi Mewangi | Breaktime
Penampakan pucuk pohon cendana

Pada abad ke-16, Pulau Timor telah ditasbihkan sebagai satu-satunya sumber penghasil cendana terbaik di dunia yang tentunya dihargai sangat mahal. Berabad-abad sebelumnya, para pedagang Asia Timur seperti dari Cina, Makau, dan Hong Kong telah berupaya menemukan jalur pelayaran rahasia ke Pulau Timor demi mengeruk keuntungan dari transaksi jual-beli cendana yang telah menjadi komoditas special dalam perdagangan rempah-rempah dunia. Seorang pelaut Cina bernama Wang Da Yuan pada tahun 1350 pernah mencatat aktivitas perdagangan cendana yang berpusat di Pulau Timor dalam catatan perjalanan yang bertajuk Daoyi Chi Lue. Catatan tersebut menyebutkan bahwa pohon cendana merupakan satu-satunya pohon yang dapat tumbuh di kawasan Timor. Saking mahal dan terkenalnya, pohon cendana saat itu diperdagangkan dan ditukar dengan perak, besi, porselen, kain sutra, serta manik-manik.

Baca Juga Artikel :
Berita Terbaru
Seluk-beluk Koteka yang Mulai Binasa

Meski terpisah lautan, pedagang asal Cina, Chau Ju Kua mencatat pada tahun 1225 Masehi bahwa Pulau Timor saat itu sudah berhubungan baik dengan Pulau Jawa karena perdagangan kayu cendana terbaik yang hanya bisa didapatkan dari Pulau Timor. Pedagang India bahkan berbondong-bondong ke Pulau Timor untuk mendapatkan cendana dan menukarnya dengan kuda-kuda yang kemudian dibiakkan di Pulau Sumba. Para saudagar India tersebut melakukan pelayaran setidaknya dua kali dalam setahun untuk membawa cendana dari Timor lalu diperjualbelikan di kawasan Selat Malaka.

Pelabuhan Namon Sukaer atau yang saat ini lebih dikenal dengan nama Atapupu merupakan salah satu jalur masuknya para pedagang Cina ke tanah Timor. Meski sempat surut pada akhir abad ke-18, pelabuhan tersebut menjadi sasaran perebutan Belanda hingga mengalami kerugian besar pada tahun 1752 Masehi. Uniknya, para pedagang Cina masih bertahan dalam rute perdagangan tersebut hingga akhir abad ke-19. Tak hanya naskah asing Eropa dan Asia, catatan sejarah lokal yang berasal dari Kerajaan Majapahit di Jawa, tepatnya dalam Kitab Nagarakartagama yang ditulis oleh Mpu Prapanca pada tahun 1365 Masehi juga menyebutkan nama Pulau Timor dan popularitasnya sebagai pusat perdagangan cendana.

Baca Juga Artikel :
Berita Terbaru
Suku Mosuo dari Lembah Himalaya yang Mulai Punah

Sayangnya, harumnya cendana kini tak lagi kuat tercium dari kawasan Timor. Meski berbagai upaya pembiakan cendana telah digalakkan pemerintah daerah setempat seringkali mendapat tantangan dari perubahan iklim global yang menyebabkan kekeringan dan cuaca panas ekstrem di wilayah tersebut. Jutaan bibit cendana yang telah ditanam di seluruh penjuru tanah Timor pun mengalami kematian. Selain karena cendana lebih mudah tumbuh liar dan tidak dikembangbiakkan, program budidaya cendana juga memerlukan perawatan ekstra.  

Pulau Timor, Surga Cendana yang Tak Lagi Mewangi | Breaktime
Perkebunan cendana yang kini masih menjadi komditas utama di Pulau Timor dan sekitarnya

Saat ini, beberapa lokasi seperti Kabupaten Belu, Kabupaten Timor Tengah Utara, Kabupaten Timor Tengah Selatan, dan Kabupaten Kupang menjadi pusat budidaya cendana serta penjualan suvenir berbahan dasar cendana. Semoga keharuman cendana di tanah Timor kembali semerbak mewangi ya, B’timers! (dee)



artikel kompilasi
related img
icon maps
CELEBES
TRAVEL GUIDE
related img
icon maps
CELEBES
TRAVEL GUIDE
related img
icon maps
CELEBES
TRAVEL GUIDE