Penggalian Ulang Makam Tokoh-tokoh Ternama Dunia | Breaktime
Penggalian Ulang Makam Tokoh-tokoh Ternama Dunia
30.08.2017

Beberapa orang terkenal di dunia rupanya ditakdirkan tak pernah mendapatkan ketenangan meski telah menjemput ajal. Berbagai alasan berbeda melatarbelakangi upaya pembongkaran makam mereka, mulai dari urusan yang belum selesai dengan anak cucu yang masih hidup maupun penyebab kematian mereka yang belum jelas. Penjahat hingga Presiden sekalipun tak luput dari upaya yang meski banyak ditentang secara moral, akhirnya tetap dilakukan atas nama sains.

Tindakan pembongkaran makam yang terjadi baru-baru ini terjadi pada jenazah Salvador Dali, pelukis surealis kenamaan asal Spanyol. Jenazah Salvador Dali terpaksa harus dibongkar lagi karena ada seorang wanita yang mengaku sebagai ahli warisnya. Setelah Daly, seorang wanita asal Spanyol, mengaku sebagai putri Salvador Dali, bulan Juni kemarin tim hakim memerintahkan dilakukannya uji DNA untuk memastikan kebenaran klaim tersebut. Meski telah meninggal sejak 23 Januari 1989, DNA Salvador Dali masih bisa didapatkan penguji forensik melalui rambut, gigi geraham, dan tulang petrosa dekat telinga bagian dalam.

Lain lagi dengan kasus pembongkaran makam astronom terkenal Abad Pertengahan, Nicolaus Copernicus pada tahun 2005 silam. Kegemparan tersebut diawali oleh makam Copernicus yang tak pernah jelas di mana lokasi yang sebenarnya. Sesaat setelah menyelesaikan buku catatannya mengenai matahari sebagai pusat alam semesta pada tahun 1542, Copernicus meninggal dunia dan dimakamkan di Katedral Frombork, Polandia, tanpa identitas yang ejlas. Setelah 2 abad dilakukan upaya pencarian,ditemukanlah sisa-sisa kerangka manusia di bawah katedral yang tampak seperti ciri-ciri fisik Copernicus. Sayangnya, tak ada keturunan Copernicus yang dapat ditemukan untuk mengkonfirmasi identitas DNA kerangka tersebut.

Setelah menyelidiki arsip Copernicus, ditemukanlah beberapa helai rambut sang astronom yang kemudian diteliti oleh Laboratorium Forensik Pusat Polisi Polandia. Uji genetik tersebut membuktikan bahwa terdapat kecocokan DNA antara helaian rambut tersebut dengan kerangka yang baru saja ditemukan di bawah bangunan katedral. Akhirnya, jenazah Copernicus kelmbali dikuburkan secara layak dan ditandai dengan batu nisan yang diberi identitas jelas.

Baca Juga Artikel :
Berita Terbaru
Terkuak Sebab Kursi Pesawat Berwarna Biru!

Kisah selanjutnya datang dari belahan benua Amerika, tepatnya pada jenazah John Wilkes Booth, pembunuh Presiden Amerika Serikat Abraham Lincoln. Sang kriminal tersebut diketahui telah mati ditembak pada tahun 1865 setelah beberapa saat sempat menjadi buron. Selama 2 tahun sejak kematiannya, jenazah Booth telah diperiksa sebanyak 2 kali untuk memastikan identitasnya, hingga terjadi kehebohan pada tahun 1907. Seorang pengacara bernama Finis Bates mengungkapkan pernyataan mencengangkan bahwa pada tahun 1903, terdapat seseorang yang mengaku sebagai Booth yang asli lalu segera bunuh diri. Menurut orang tersebut, selama ini dia menggunakan identitas samaran “John St. Helens”. Agar tak berlarut-larut, kerabat Booth menggali kembali kuburan saudara laki-lakinya, Edwin untuk mendapatkan sampel DNA agar bisa menjadi jejak untuk menemukan jenazah Booth yang sebenarnya. Sayangnya, jenazah Booth yang telah diautopsi pada tahun 1865 kini telah disimpan di Museum Nasional Kesehatan dan Kedokteran di Maryland. Pihak Museum menolak menyerahkan kerangka Booth yang dikhawatirkan akan rusak apabila dilakukan uji DNA.

Baca Juga Artikel :
Berita Terbaru
5 Tempat Menikmati Pesta Kembang Api Singapura

Simpang-siur yang serupa juga terjadi pada jenazah Zachary Taylor, Presiden Amerika Serikat ke-12. Berbagai teori bermunculan mengenai kematian Beliau yang mendadak, mulai dari penyakit kolera hingga serangan panas. Jenazah sang mantan Presiden kembali diusik pada tahun 1991 ketika seorang sejarawan Clara Rising mendapat pesan untuk menggali jenazah Taylor yang dicurigai mati dibunuh dengan racun arsenik. Kecurigaan tersebut awalnya cukup meyakinkan karena aktivitas Taylor semasa hidup dalam menentang perbudakan. Sayangnya, hasil uji aktivasi neutron oleh Laboratorium Nasional Oak Ridge tidak berhasil mendeteksi keberadaan arsenik dalam jumlah yang cukup tinggi untuk menyebabkan kematian. Analisis lebih lanjut terhadap jenazah Taylor oleh tim medis Kentucky kemudian mengungkapkan bahwa kematian Beliau disebabkan oleh infeksi Gastroentritis. 

Penggalian Ulang Makam Tokoh-tokoh Ternama Dunia | Breaktime
Kondisi makam Evita Peron

Selanjutnya terdapat Evita Peron, mantan aktris asal Argentina yang juga merupakan istri Juan Peron yang menjadi Presiden Argentina pada tahun 1946. Wanita cantik tersebut diketahui meninggal pada usia 33 di tahun 1952 karena kanker, meski banyak teori konspirasi yang muncul di sekitar kematiannya. Banyak yang menghubungkan tragedi kematian Evita Peron dengan pertempuran politik. Hal tersebut membuat kuburannya sempat dipindahkan ke Italia selama 20 tahun, sebelum digali dan dibawa kembali ke Argentina. Pada tahun 2012, muncul kontroversi lainnya setelah seorang ahli syaraf menerbitkan laporan mengenai foto rontgen tua yang menunjukkan bahwa Evita Peron pernah melakukan prosedur lobotomi yang biasa dilakukan kepada pasien gangguan jiwa atau untuk mengatasi penderitaan ekstrem bagi orang yang sekarat. Sayangnya, hal tersebut tidak pernah diketahui kebenarannya karena upaya autopsi yang tidak disetujui pihak keluarga.

Baca Juga Artikel :
Berita Terbaru
Ini Dia 5 Pahlawan Yang Sering Jadi Nama Jalan

Beberapa kisah tersebut membuktikan bahwa pembongkaran makam maupun uji DNA terhadap jenazah sebenarnya masih banyak ditentang karena isu moralitas yang terus diperdebatkan dan juga tidak adanya persetujuan dari keluarga atau pihak berwenang. (dee)



artikel kompilasi
related img
icon maps
BORNEO
TRAVEL GUIDE
related img
icon maps
BORNEO
TRAVEL GUIDE
related img
icon maps
BORNEO
TRAVEL GUIDE