Waktu Terasa Berhenti di Kejayaan Myanmar | Breaktime
Old Bagan, Waktu Terasa Berhenti di Kejayaan Masa Lalu Myanmar
13.11.2015

Sekitar jam 4 pagi waktu setempat, bis malam eksekutif yang saya tumpangi berhenti di terminal Bagan. Perjalanan delapan jam dari Yangon tak terasa melelahkan karena kondisi bis yang sangat nyaman, lengkap dengan layanan snack dan minuman dari pramugari bis dan makan malam di rest area.
 
            Pagi itu merupakan hari ketiga saya berada di Myanmar, negara Asia Tenggara yang terletak di antara Thailand, China, dan India. Destinasi wisata Myanmar memang belum banyak dieksplor wisatawan mancanegara, namun CNN dan Lonely Planet menobatkan negara ini sebagai "World's Number 2 Best Destinations" pada tahun 2012.
 
            Destinasi utama wisatawan ke Myanmar adalah Bagan yang berada di kawasan dataran rendah dan aliran sungai Ayeyawaddy. Keindahan kawasan ini telah menjadi ikon wisata Myanmar dan menarik jutaan wisatawan asing berkunjung ke negara ini.
 
            Keunikan Bagan bisa kita temukan di area Old Bagan Archeological Zone, dimana area seluas 42 kilometer persegi ini memiliki lebih dari 2000 pagoda kuno yang masih terawan hingga sekarang, meski beberapa di antaranya pernah rusak karena gempa maupun termakan usia.

Waktu Terasa Berhenti di Kejayaan Myanmar | Breaktime
Suasana pagi dengan latar belakang balon udara di Old Bagan Archeological Zone

Ribuan pagoda di area Old Bagan mulai dibangun pada tahun 849 M hingga abad ke-11 dan akhir abad ke-13. Pada saat itu Old Bagan merupakan ibukota Kerajaan Myanmar Kuno. Pada tahun 1287 kerajaan ini takluk dari serangan Mongol. Diperkirakan saat itu banyak pagoda mengalami kerusakan dan kehancuran, namun sisa-sisanya masih ada dan terawat sampai sekarang.
 
            Dari ribuan pagoda di Old Bagan, ada empat pagoda yang paling terkenal, yaitu Dhammayan, Thabinnyu, Ananda, dan Shwezigon yang letaknya sekitar 5 kilometer dari area Old Bagan. Karena banyaknya pagoda di area ini, satu hari pun tak akan cukup untuk mengeksplore sebagian besar pagoda di Old Bagan.
 
            Untuk memudahkan bepergian dari satu pagoda ke pagoda lain, saya menyewa electric motorbike seharga 10 ribu kyat atau sekitar Rp 100 ribu. Motor listrik ini memudahkan kita berkeliling dari Nyaung-U (semacam kecamatan dekat Old Bagan) menuju kawasan Old Bagan Arccheological Zone, dimana wisatawan asing dikenakan tiket masuk USD 30 yang berlaku untuk tiga hari.

Waktu Terasa Berhenti di Kejayaan Myanmar | Breaktime
Pemandangan Old Bagan dari Buledi Pagoda

Buledi Pagoda merupakan spot favorit wisatawan untuk menikmati sunrise. Jarak Buledi pagoda dari terminal Bagan kurang lebih 10 kilometer dan bila memakai taksi akan dikenakan tarif 15000 kyat. Selain sunrise, pemandangan luar biasa akan tersaji dari Buledi ketika puluhan balon udara mulai terbang mengelilingi area Old Bagan.
 
            Setelah puas menikmati sunset dari Buledi Pagoda, saya menuju Nyaung-U Traditional Market untuk hunting kuliner khas Myanmar. Hampir sebagian besar menu Myanmar merupakan campuran antara kuliner India dan kuliner lokal. Kari dan nasi briyani dapat dengan mudah kita temukan di kawasan ini. Selain itu terdapat banyak kedai kopi yang menyuguhkan kopi dan teh (semacam teh tarik) khas Myanmar.

Waktu Terasa Berhenti di Kejayaan Myanmar | Breaktime
Sajian menu khas Myanmar di sebuah kedai kopi Nyaung-U

Rasa penasaran akan kuliner Myanmar terjawab sudah. Kini saatnya menuju spot lain di kawasan Old Bagan. Pagoda Shwezigon adalah tempat yang saya tuju karena pagoda ini merupakan salah satu yang paling "modern" di antara pagoda-pagoda kuno di seantero Old Bagan.
 
            Pagoda Shwezigon berjarak sekitar lima kilometer dari pasar Nyaung-U. Lokasi pagoda ini berada di tepi jalan raya utama dari Nyanung-U. Shwezigon merupakan pagoda dengan kubah emas dan patung Buddha Berbaring yang cukup terkenal. Di tempat ini warga sekitar berdoa dan memberi persembahan bagi Buddha setiap pagi dan sore hari.
 
            Perjalanan dengan electric motorbike mengelilingi Old Bagan berakhir di Pagoda Pyathada, sebuah kuil yang menjadi spot sunset favorit wisatawan. Tak heran bila menjelang sore, tempat ini sangat ramai oleh pengunjung yang ingin mengabadikan sunset. Pyathada terletak 500 meter di selatan Ananda Temple, sebuah pagoda berwarna putih yang cukup unik di Old Bagan.

Waktu Terasa Berhenti di Kejayaan Myanmar | Breaktime
Pagoda Shwezigon merupakan salah satu spot favorit kami di Old Bagan

Usai sunset, wisatawan biasanya kembali ke hotel masing-masing, atau nongkrong di sekitar Nyaung-U dimana di kawasan ini juga sudah terdapat banyak cafe dan penginapan. Saya memilih untuk melanjutkan perjalanan ke Yangon. Bis malam dari Bagan ke Yangon biasanya berangkat sekitar jam 20.00 dan akan tiba di terminal Aung Mingalar jam 7 pagi keesokan harinya.
 
            Selain bis malam, Bagan juga bisa diakses dengan kereta api dari Mandalay dan Yangon. Selain itu Bagan juga punya bandara domestik di Nyaung-U Airport, dimana terdapat beberapa maskapai yang beroperasi setiap hari seperti Air Bagan, Yangon Airways, Air Mandalay dan Myanmar Airways.

Waktu Terasa Berhenti di Kejayaan Myanmar | Breaktime
Bis malam eksekutif Yangon-Bagan yang sangat nyaman

Travel tips ke Bagan:

 1. Dari Yangon, perjalanan ke Bagan ditempuh dalam waktu 12 jam. Usahakan naik bis atau kereta api pada malam hari dan sampai Bagan pagi sebelum matahari terbit agar bisa menikmati sunrise di Pagoda Buledi.
 
 2. Ingin naik balon udara di Bagan? Siapkan anggaran lebih karena tiap wisatawan dikenakan harga USD 300 dan booking jauh hari. Balon-balon udara akan mulai terbang sekitar pukul 6 pagi.
 
 3. Untuk berkeliling Old Bagan bisa sewa sepeda motor listrik dengan harga 10 ribu kyat per hari. Selain pagoda-pagoda di Old Bagan, kita bisa berkeliling di Nyaung-U yang banyak terdapat cafe dan kedai kuliner tradisional khas Bagan.(za)

Share This Article