Ngayau, Tradisi Penggal Kepala Suku Dayak
Ngayau, Tradisi Penggal Kepala Suku Dayak
06.01.2017

Pernahkah B’timers mendengar tradisi Ngayau? Yup, ini adalah tradisi khas Suku Dayak yang mendiami pulau Kalimantan. Tradisi Ngayau disebut juga dengan tradisi penggal kepala musuh pada jaman dahulu. Mendengarnya saja memang cukup ngeri, ya. Dua suku yang masih memiliki tradisi ini adalah Suku Iban dan Suku Kenyah.

Tradisi ini semakin mendunia karena seorang penulis Inggris membuat karya denga judul The Head Hunters of Borneo pada tahun 1881. Tradisi ini sudah memiliki banyak penjelasa dari berbagai penulis mulai dari penjelajah hingga akademisi.

Untuk Suku Dayak Ngaju, tradisi mengayau ini dilakukan untuk kepentingan upacara Tiwah. Upacara ini merupakan upacara terbesar Dayak Ngaju untuk mengantarkan jiwa atau roh manusia yang telah meninggal menuju langit ke tujuh.

Suku Dayak jaman dulu melakukan tradisi mengayau. Photo by Google
Suku Dayak jaman dulu melakukan tradisi mengayau. Photo by Google

Berbeda dengan Dayak Kenyah, tradisi ini berhubungan dengan Mamat atau pesta pemotongan kepala. Mamat merupakan upacara untuk mengakhiri masa perkabungan dan upacara inisiasi memasuki sistem status bertingkat, khusus untuk prajurit perang.

Para pemburu kepala yang berhasil berhak memakai gigi macan di telinganya, hiasan kepala dari bulu burung enggang, dan tato tradisional Dayak dengan desain khusus. Perburuan kepala ini dilakukan secara diam-diam dan tiba-tiba. Setelah berhasil, kepala-kepala yang didapat akan digantung di depan rumah panjang.

Kalau Dayak Iban, menyebut tradisi berburu kepala ini dengan nama Gawai. Kalau di Dayak Iban, upacara ini tidak bersifat religius. Justru melakukan pesta besar-besaran dengan minum-minum dan bersenang-senang.

Kepala hasil buruan yang digantung di rumah panjang. Photo by Google
Kepala hasil buruan yang digantung di rumah panjang. Photo by Google

Pada dasarnya, masyarakat Dayak menganggap bahwa penggalan kepala tersebut merupakan sihir terbesar di dunia. Namun sayangnya, pada tahun 1874 Damang Batu atau kepala suku Dayak Kahayan mengumpulkan sub-sub suku Dayak untuk mengadakan musyawarah.

Hasil dari musyawarah tersebut dikenal dengan nama Perjanjian Tumbang Anoi yang menyebutkan bahwa seluruh masyarakat sepakat untuk menghindari dan menghilangkan tradisi Ngayau. Hal ini dianggap telah menimbulkan perselisihan antar suku Dayak yang mendiami tanah Kalimantan.

Meski begitu, tradisi Mengayau berhasil menjadi identitas dan citra kelompok suku Dayak di Kalimantan. Unik, misterius, dan buat bergidik selalu ada dalam kehidupan masyarakat Dayak. Keren! (vpd)



artikel kompilasi
related img
icon maps
BALI
GUIDE
related img
icon maps
BALI
GUIDE
related img
icon maps
BALI
GUIDE