Tradisi Rakyat Aceh Dalam Menyambut Hari Besar | Breaktime
Meugang: Tradisi Masyarakat Aceh Dalam Menyambut Hari Besar
28.02.2017

Indonesia memang kaya akan budaya dan tradisi yang dibeberapa daerah masih dijaga atau dilestarikan sampai hari ini. Sebagai warga Indonesia tentu akan memalukan bila Anda tidak “kenal” dengan budaya sendiri. Hal ini sering terjadi, dimana anak remaja saat ini lebih mencintai budaya dari negara lain dibandingkan dengan budayanya sendiri.

Setiap daerah di Indonesia memiliki kebudayaan dan tradisi yang unik, begitu juga dengan Aceh. Masyarakat Aceh yang mayoritasnya muslim juga mempunyai tradisi yang unik lho B’timers. Sebagai daerah yang dijuluki serambi mekkah Aceh sangat menjunjung tinggi nilai religiusnya. Salah satu tradisi tersebut adalah tradisi Meugang.

Tradisi Meugang ini dilakukan oleh masyarakat Aceh dalam menyambut hari besar Islam, khususnya saat menjelang bulan Ramadhan, hari raya Idul Fitri, dan hari raya Idul Adha. Tradisi ini dilakukan dengan cara menyembelih hewan kurban berupa sapi atau kambing dan nantinya daging kurban tersebut akan dibagikan kepada warga atau masyarakat yang kurang mampu. Sekilas tradisi ini sama dengan tradisi kurban saat Idul Adha, hanya saja di Aceh tradisi ini tidak hanya dilakukan saat Idul Adha tapi dilakukan juga saat hari-hari besar Islam lainnya.

Tradisi Rakyat Aceh Dalam Menyambut Hari Besar | Breaktime
Daging dibagi secara rata dan akhirnya dibagiakan pada warga (Photo by Kompasiana.com)

Tradisi Meugang ini adalah salah satu tradisi masyarakat Aceh yang sudah dilakukan sejak lama dan bertahan sampai saat ini. Bahkan, menurut beberapa sumber tradisi ini sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu atau dimulai saat kepemimpinan Sultan Iskandar Muda di Kerajaan Aceh. Saat itu Sultan Iskandar Muda memotong hewan kurban dalam jumlah yang banyak dan dagingnya dibagi-bagikan kepada seluruh rakyatnya. Dan akhirnya hal tersebut menjadi tradisi di kalangan masyarakat Aceh yang masih dilakukan setiap tahunnya.

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, Tradisi Meugang ini biasanya dilakukan 3 kali dalam setahun atau tepatnya 2 hari sebelum bulan puasa Ramadhan, hari raya Idul Fitri, dan hari raya Idul Adha. Dan untuk tempat pelaksanaan biasanya dilakukan di tanah lapang atau tempat yang sebelumnya sudah disiapkan oleh warga. Tidak hanya masyarakat saja, tapi banyak instansi-instansi sekolah maupun perusahaan yang juga ikut melaksanakannya setiap tahun.

Dalam pelaksaannya, hewan kurban dikumpulkan dalam satu tempat yang sudah ditentukan. Dengan dipimpin oleh kepala adat, dan semua warga yang ditugaskan berkumpul dan melaksanakan tugasnya masing-masing, baik yang memotong, membersihkan, dan yang membagikan. Pembagian daging kurban ini dilakukan secara adil dan merata, agar semua warga dapat menerimanya. Bagi masyarakat Aceh, Tradisi Meugang ini kaya akan nilai-nilai berharga selain religius, seperti mengajarkan berbagi, kebersamaan, dan masih banyak lagi pelajaran yang bisa didapatkan dari tradisi yang sudah berusia ratusan tahun ini.

Sebagai salah satu warisan budaya yang kaya akan nilai-nilai di dalamnya, Tradisi Meugang ini selalu menjadi tradisi yang ditunggu setiap tahunnya dan selalu dilakukan dengan meriah. Semangat kebersamaan masyarakat juga sangat terasa dalam perayaan ini, dimana masyarakat berkumpul untuk memotong dan berbagi daging. Sungguh suatu pemandangan yang sangat baik untuk dilestarikan.

Perayaan tradisi ini secara tidak langsung telah menunjukkan bagaimana masyarakat Aceh mengapresiasikan datangnya hari-hari besar Islam dimana mayoritas masyarakatnya memang memeluk agama Islam. Berkat tradisi ini, nilai kekerabatan antar warga juga meningkat. Jadi ada banyak sekali poin penting dalam Tradisi Meugang ini. (dsa)



artikel kompilasi
related img
icon maps
PAPUA
TRAVEL GUIDE
related img
icon maps
PAPUA
TRAVEL GUIDE
related img
icon maps
PAPUA
TRAVEL GUIDE