Menyusuri Hitam Putih Etos Kerja Orang Jepang | Breaktime
Menyusuri Hitam Putih Etos Kerja Orang Negeri Sakura
28.04.2016

B’timers mungkin sering mendengar bahwa penduduk Jepang adalah orang-orang pekerja keras. Hal ini tidak sepenuhnya salah dan tidak pula salah. Ada sisi-sisi gelap dan terang di balik etos kerja orang Jepang selama ini. Seperti apa?

Fakta yang terdistorsi

Berdasarkan data 3 tahun belakangan ini, jam kerja rata-rata di Jepang ternyata berada cukup rendah dibandingkan negara lainnya. Pada tahun 2012 tercatat rata-rata Jepang memiliki 1735 jam per tahun, masih tergolong sedikit dibandingkan Korea Selatan yang rata-rata 2163 jam per tahun dan USA yang rata-rata 1788 jam per tahun. Hal ini menjadi bukti statistik bahwa sebenarnya Jepang tidak terlalu bekerja keras dibandingkan negara lain.

Menyusuri Hitam Putih Etos Kerja Orang Jepang | Breaktime
Banyak murid dan penduduk Jepang yang memilih bekerja part time

Namun, data tersebut tidak sepenuhnya benar. Hal ini disebabkan karena pekerja part time di Negeri Matahari Terbit itu tergolong banyak dan mengurangi rata-rata. Padahal fakta yang ada pekerja penuh di Jepang ternyata menghabiskan waktu lebih banyak di bandingkan negara lain. Waktu ini juga tidak termasuk waktu lembur. Beberapa restoran Jepang mempekerjakan pekerjanya untuk bersih-bersih setelah restoran tutup tanpa tambahan biaya. Itulah sebabnya fakta yang ada menjadi tidak akurat.

Kerja keras semu

Di luar pemikiran bahwa Jepang adalah negara yang bekerja keras, B’timers harus dapat membedakan mana yang benar-benar bekerja keras dengan dipaksa kerja keras. Kekurangan motivasi untuk bekerja membuat banyak penduduk Jepang tidak seproduktif negara lain. Hal ini didukung pula dengan kebebasan ambil lembur sehingga mereka memutuskan untuk tidak bersemangat menyelesaikan tugas karena mereka mengetahui nantinya akan dipaksa lembur juga.

Menyusuri Hitam Putih Etos Kerja Orang Jepang | Breaktime
Lelah tidak dapat ditangkis bila harus lembur setiap hari

Tidak heran bila B’timers menaiki kereta maupun bis umum di Jepang saat hari kerja, Anda akan menemui banyak pekerja yang tertidur di bangkunya. Waktu kerja yang panjang memaksa pekerja untuk terjaga semalam suntuk dan berangkat pagi hari demi menghidupi dirinya dan keluarga di tengah gempuran harga-harga yang terus meningkat.

Tentunya tidak semua perusahaan atau penyedia lapangan kerja di Jepang menuntut pekerjanya untuk kerja rodi sepanjang hari. Hal ini dapat menjadikan gambaran bagi B’timers yang berencana bekerja di Negeri Sakura itu. Asalkan Anda memiliki motivasi tinggi maka kerja lembur akan dapat terhindarkan. Semoga membantu! (ft)

Share This Article