Mengulik 5 Kisah Legenda Daerah Asli Indonesia | Breaktime
Mengulik 5 Kisah Legenda Daerah Asli Indonesia
21.07.2017

Kalau kita ingat-ingat lagi, memang masa lalu itu menyimpan banyak nilai sejarah yang masih eksis sampai sekarang. Bukan cuma tentang benda peninggalan sejarah kerajaan atau zaman perang, tapi juga cerita rakyat yang melegenda. Bahkan, cerita rakyat ini juga menyimpan cerita sejarah tentang berbagai daerah yang ada di Indonesia.

Coba, yuk, kita lihat seberapa ingat B’timers tentang cerita-cerita rakyat ini yang mungkin sudah sering kita dengar, tapi seringkali terlupa ceritanya. Pernah dengar cerita tentang Si Pahit Lidah? Nah, ini adalah mitos yang melegenda dari daerah Sumatera Selatan. Cerita pertama yang akan Breaktime ulas kali ini adalah kisah tentang seorang pangeran bernama Serunting.

Serunting dipercaya adalah anak keturunan raksasa bernama Putri Tenggang. Ia memiliki kesaktian untuk mengutuk apapun jadi batu, sehingga ia mendapat julukan Si Pahit Lidah. Nah, konon Batu Macan yang ada di Kecamatan Pulau Pinang, Desa Pagar Alam Pagun, sudah ada sejak abad ke-14 pada zaman Majapahit. Menurut cerita, dulu Si Pahit Lidah melihat masyarakat desa sering diganggu macan betina.

Baca Juga Artikel :
Berita Terbaru
Kok Bisa Tomat Busuk Jadi Alat Perang Di Lembang?

Macan tersebut diingatkan olehnya supaya tak lagi mengganggu desa. Tapi, macan itu tidak menurut dan akhirnya dikutuklah menjadi batu. Hingga kini, masih ada patung macan tersebut, diyakini patung batu itu adalah macan betina tadi beserta wanita dan anak yang sedang digendongnya. Percaya tidak percaya, ya, B’timers. Ke cerita berikutnya, kalau yang ini pasti Anda sudah sering dengar.

Ini adalah kisah tentang Malin Kundang si anak durhaka. Malin adalah anak dari keluarga miskin yang dibesarkan oleh ibunya sendirian. Saat kecil, ayahnya pergi berlayar dan tak pernah kembali. Suatu ketika Malin diajak bekerja di kapal oleh seorang nakhoda dan ia pun meninggalkan ibunya. Tak kunjung pulang, bertahun-tahun kemudian Malin kembali ke kampung halamannya.

Malin kembali sebagai pemuda kaya dan ibunya pun menghampirinya. Namun, Malin tak mau mengakui ibunya dan justru membentak ibunya, bersikap seakan tidak mengenalnya. Ibu Malin akhirnya mengutuknya menjadi batu dan konon Malin Kundang benar-benar berubah jadi batu. Dari kisah Malin Kundang kita bisa belajar untuk tidak durhaka terhadap orang tua, ya.

Nah, yang selanjutnya adalah cerita Sangkuriang. Cukup nyeleneh kisah percintaan Sangkuriang ini. Sangkuriang yang pergi jauh dari rumah waktu kecil, kembali saat ia dewasa dan ingin menikahi wanita cantik bernama Dayang Sumbi yang ternyata adalah ibunya sendiri. Meski ibunya telah melarang Sangkuriang namun ia tak mau menurutinya sama sekali.

Mengulik 5 Kisah Legenda Daerah Asli Indonesia | Breaktime
Legenda Malin Kundang yang dikutuk menjadi batu (cr. Dongeng.referensiana)

Akhirnya, Dayang Sumbi memberi syarat Sangkuriang untuk membendung Sungai Citarum dan membuat sampan yang sangat besar untuk menyeberang sungai. Keduanya harus selesai sebelum fajar menyingsing. Dayang Sumbi meminta bantuan masyarakat sekitar untuk menggelar kain sutera merah di timur kota, dan Sangkuriang pun mengira hari sudah hampir pagi, ia pun menghentikan pekerjaannya.

Baca Juga Artikel :
Berita Terbaru
Hue, Pesona Kota Kuno di Bekas Ibukota Vietnam

Sangkuriang yang kecewa akhirnya menjebol bendungan yang sudah ia buat. Terjadilah banjir yang merendam seluruh kota. Sampan yang sudah dibuat Sangkuriang pun ditendangnya hingga akhirnya terbalik dan menjadi gunung Tangkuban Perahu. Setelah legenda Tangkuban Perahu, kini kita beralih ke kisah legenda asal mula Danau Toba. Alkisah, ada seorang petani yang hidup sebatang kara.

Suatu hari ia pergi mencari ikan, ketika tertangkap seekor, ikan itu sangat besar dan cantik. Tiba-tiba ikan tersebut bisa bicara dan meminta sang petani untuk membiarkannya hidup. Petani yang terkejut tersebut tak berpikir panjang dan langsung melepaskan ikan itu. Ternyata ikan tersebut berubah menjadi wanita cantik yang merupakan putri yang dikutuk.

Sebagai imbalan untuk petani yang membiarkannya hidup, wanita itu pun menikah dengan sang petani. Namun, satu syaratnya yaitu petani itu tak boleh memberitahu siapapun kalau wanita tersebut merupakan jelmaan ikan. Kehidupan petani semakin bahagia setelah istrinya melahirkan anak laki-laki. Tapi, anak itu sangat aneh karena suka memakan apa saja, makannya sangat banyak.

Baca Juga Artikel :
Berita Terbaru
City of Lantern Hoi An, Romantisme di Vietnam

Suatu hari, anak tersebut diminta ibunya untuk mengantarkan makan siang pada ayahnya yang bekerja di sawah. Namun, justru makanan untuk ayahnya dimakan olehnya dan ia tertidur gubuk. Ayahnya yang mencari-cari tak sengaja melihatnya dan kontan menyuruhnya untuk bangun. Saat tahu makanannya sudah dihabiskan oleh sang anak, sang petani langsung membentaknya.

Ia berkata bahwa anak tersebut tak tahu diuntung dan tak tahu diri, serta menyebutnya anak ikan. Setelah itu seketika anak dan istrinya lenyap tanpa jejak dan juga bekas. Lalu dari bekas injakan kakinya, menyembur air yang amat sangat deras. Luapan air sangat tinggi serta luas, hingga membentuk sebuah telaga, sampai menjadi danau. Danau inilah yang dikenal dengan nama Danau Toba.

Yang terakhir adalah kisah Cindelaras. Cindelaras merupakan cerita tentang anak seorang raja yang jago sekali dalam adu ayam. Di samping itu ia pun menggantikan kedudukan sang ayah, Raden Putra, yang telah meninggal dan menjadi raja yang dapat memerintah negeri dengan bijaksana dan juga adil. Itulah kelima mitos dari sejumlah daerah di Indonesia. Menarik, ya, kisah-kisahnya, B’timers? (md)



artikel kompilasi
related img
icon maps
PAPUA
TRAVEL GUIDE
related img
icon maps
PAPUA
TRAVEL GUIDE
related img
icon maps
PAPUA
TRAVEL GUIDE