Mengenal Surak Ibra, Kesenian Seru Khas di Garut | Breaktime
Mengenal Surak Ibra, Kesenian Seru Khas di Garut
09.08.2016

Ada begitu banyak kesenian tradisional di Indonesia. Dan semua itu merupakan bukti kekayaan yang ada di nusantara, B’timers. Nah, salah satu dari kesenian unik milik Indonesia adalah Surak Ibra. Berasal dari Desa Cinunuk, Garut, kesenian ini sudah ada sejak tahun 1910, lho. Wow! Penasaran dengan kesenian unik Garut, Surak Ibra, B’timers? Simak lebih lanjut di sini!

Mengenal Surak Ibra, Kesenian Seru Khas di Garut | Breaktime
Biasa digelar setiap hari jadi Kabupaten Garut

Cerita kemunculan Surak Ibra

Seni tradisional Surak Ibra diciptakan oleh Raden Djajadiwangsa, yang merupakan putra Raden Wangsa Muhammad, B’timers. Bentuk perlawanan masyarakat atas kesewenang-wenangan pemerintah kolonial Belanda pada saat itu. Kesenian Garut ini juga merupakan ekspresi gotong royong dan keinginan warga untuk mandiri. Itu alasan Surak Ibra dimainkan oleh setidaknya 40 hingga 100 orang, B’timers.

Apa jadinya kesenian tanpa hadirnya alunan musik dari alat-alat tradisional, ya? Untuk mengiringi Seni Surak Ibra, para pemain menggunakan obor dari bambu, gendang pencak, dogdog, angklung, keprak dan kentongan bambu, B’timers. Wah, bisa dibayangkan, bukan, bagaimana ramai dan serunya ketika Surak Ibra dimainkan? Apalagi dengan jumlah pemain yang begitu banyak.

Mengenal Surak Ibra, Kesenian Seru Khas di Garut | Breaktime
Ada unsur gotong royong yang diusung dalam seni ini

Versi lain dari Kesenian Surak Ibra

Ternyata ada versi lain dari Surak Ibra, lho, B’timers. Ya, kesenian yang diciptakan oleh Pak Ibra, warga dari Kertajaya, Cibatu, Garut, menggabungkan Kesenian Badeng, Ngadu Lisung dan Seni Tepuk Tangan. Namun ke depannya, hanya Seni Tepuk Tangan saja yang dikembangkan. Nah, versi Surak Ibra yang satu ini memiliki keunikan tersendiri, lho.

Ya, itu karena setiap kali diadakan pentas Surak Ibra versi Cibatu ini ternyata mengandung unsur magis. Pemain akan mengalami ketidaksadaran karena kerasukan makhluk gaib, B’timers. Karena itulah, di awal pertunjukan mereka menyediakan sesaji. Untuk alas yang digunakan pun wajib diberi mantra dulu, B’timers.

Wow! Semoga kesenian yang bisa dibilang semakin langka ini tetap terjaga kelestariannya, ya, B’timers? (NO)

Share This Article