Mengenal Kisah Suku Anak Dalam dari Rimba Jambi | Breaktime
Mengenal Kisah Suku Anak Dalam dari Rimba Jambi
13.06.2016

Seperti yang Anda ketahui, Indonesia memiliki ribuan suku bangsa. Dan mereka semua tersebar di pelosok tanah air. Ada beberapa yang saling terpengaruh dan dipengaruhi oleh kebudayaan daerah lain atau kebudayaan dari luar. Namun ada juga yang mempertahankan budayanya tanpa peduli dengan kemajuan zaman. Salah satunya adalah Suku Anak Dalam yang menempati wilayah Jambi dan Sumatera Selatan.

Suku Anak Dalam dari Rimba Jambi

Dikenal dengan nama Suku Kubu maupun Suku Anak Dalam atau Orang Rimba merupakan salah satu suku bangsa minoritas yang hidup di Pulau Sumatera. Tepatnya di Provinsi Jambi dan Sumatera Selatan, B’timers. Mayoritas dari mereka tinggal di Provinsi Jambi. Dan diperkirakan jumlah mereka di bawah 5.000 orang saja sekarang, B’timers.

Oleh para antropolog, Suku Kubu ini disebut merupakan percampuran suku bangsa dengan Suku Wedda atau yang disebut Suku Bangsa Weddoid, B’timers. Kehidupan mereka terkenal dengan kebiasaan hidup terisolasi dari dunia luar. Inilah yang mengakibatkan tingkat kebudayaan dan peradaban Suku Anak Dalam cukup rendah. Semuanya bisa terlihat dari bentuk rumah hingga pakaian yang dikenakan.

Mengenal Kisah Suku Anak Dalam dari Rimba Jambi | Breaktime
Ketika Anak Suku Dalam mendapat tamu kehormatan

Kisah suku yang penuh misteri

Meskipun dikenal memiliki kebudayaan yang rendah, namun Suku Anak Dalam ternyata sudah mengenal kebudayaan rohani, lho. Mereka percaya akan adanya setan dan dewa. Yang mengejutkan, hingga era modern ini, mereka masih menerapkan sistem barter. Dan dengan kehidupan yang seminomaden, Suku Kubu sering berpindah-pindah tempat tinggal, B’timers.

Sementara mengenai sejarah Suku Anak Dalam, masih dipenuhi misteri. Hanya ada beberapa teori dan cerita dari mulut ke mulut yang bisa mengupas searah mereka. Menurut versi pertama, leluhur mereka adalah orang Maalau Sesat yang meninggalkan keluarga, lalu lari ke hutan rimba di sekitar Air Hitam, Taman Nasional Bukit Buabelas. Yang akhirnya mereka dinamakan Moyang Segayo.

Lalu berdasarkan cerita versi kedua, penghuni rimba tersebut adalah masyarakat Pagaruyung, Sumatera Barat, yang melakukan migrasi untuk mencari sumber penghidupan yang lebih baik dari kehidupan mereka sebelumnya. Diperkirakan karena kondisi keamanan tidak kondusif dengan tidak memadainya pasokan pangan, mereka pun terpaksa menetap di dalam rimba.

Wah, kisah Suku Anak Dalam ini mirip seperti suku pedalaman yang tidak terjangkau kebudayaan modern, ya, B’timers? (NO)

Share This Article