Legenda Batu Menangis, Kisah Anak yang Durhaka | Breaktime
Legenda Batu Menangis, Kisah Anak yang Durhaka
19.09.2016

Legenda Batu Menangis ini berasal dari Kalimantan yang dikenal dengan julukan Seribu Sungai, B’timers. Nah, di salah satu wilayahnya, ada batu yang dapat mengeluarkan airmata, lho. Konon di zaman dahulu, dia adalah seorang gadis yang memiliki kecantikan luar biasa. Hmm, bagaimana kisah gadis tersebut bisa berubah wujud, ya? Check this out, yuk, B’timers!

Legenda gadis cantik yang menjelma menjadi batu

Konon di sebuah desa terpencil Kalimantan Barat, tinggal seorang ibu tua bersama putrinya nan begitu cantik rupawan, bernama Darmi. Tempat tinggal mereka hanyalah gubuk reyot di pinggiran desa. Hidup keduanya sangat penuh dengan kesulitan, terlebih semenjak ayah Darmi meninggal. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, sang ibu menjadi buruh upah yang bekerja di sawah.

Sayang, kecantikan wajah yang dimiliki sang putri tidak sebanding dengan kecantikan hatinya, B’timers. Dia enggan membantu ibunya di sawah, karena takut kecantikannya akan pudar. Ya, kerjaan yang gadis itu lakukan sepanjang hari jika ditinggal ibunya bekerja, hanyalah bersolek. Bahkan dia selalu merengek meminta uang hasil upah ibunya bekerja hanya untuk membeli bedak.

Legenda Batu Menangis, Kisah Anak yang Durhaka | Breaktime
Salah satu tujuan wisata di Kalimantan Barat

Kutukan ibunda pada anak gadisnya yang durhaka

Setiap hari, Darmi hanya bisa meminta uang ibunya demi memenuhi keinginannya membeli pakaian dan alat kecantikan baru. Hingga suatu hari, dia meminta uang lagi, dan sang ibu menolak. Tapis setelah dia memaksa dan membentak sang ibu, mereka pun akhirnya pergi ke pasar berdua, Namun persyaratannya adalah, sang ibu harus berjalan di belakang Darmi.

Sepanjang jalan, Darmi bertemu teman-temannya. Dan ketika ditanya, siapa wanita tua yang berjalan di belakangnya, gadis itu justru menjawab, “Dia adalah pembantuku!” Hal ini tentu sangat menyakiti hati sang ibu. Hingga sampai akhirnya sang ibu merasa sakit hatinya sudah tida mampu ditolerir lagi. Diapun memanjatkan doa pada yang Kuasa, agar memberikan hukuman yang setimpal.

Meski Darmi menangis dan meminta maaf, namun luka di hati ibunya sudah tak mampu lagi dilupakan. Dan Batu Menangis hingga kini masih bisa Anda kunjungi, lho, B’timers. (NO)

Share This Article