Kok Bisa Tomat Busuk Jadi Alat Perang Di Lembang? | Breaktime
Kok Bisa Tomat Busuk Jadi Alat Perang Di Lembang?
17.07.2017

Bukan rahasia umum lagi jika negeri ini punya banyak sekali tradisi di setiap daerahnya. Tradisi-tradisi tersebut rasanya tak akan pernah mati, karena di era sekarang saja, masyarakat begitu menggebu-gebu untuk terus melestarikan. Di beberapa negara lain juga ada tradisi yang mereka lestarikan, unik, dan penuh makna. Misalnya saja perang tomat.

Perang  tomat biasanya dikenal dengan sebutan La Tomatina di negara Spanyol. Perang tomat yang satu ini merupakan perang tomat terbesar dan paling populer di dunia yang diselenggarakan setiap bulan Agustus. Namun, tak hanya Spanyol. Indonesia juga punya tradisi yang sama. Berbeda dengan perang tomat di Spayol, di daerah Kabupaten Lembang, Kota Bandung terdapat perang tomat yang merupakan bagian dari ritual adat masyarakat setempat.

Baca Juga Artikel :
Berita Terbaru
City of Lantern Hoi An, Romantisme di Vietnam

Wah, lalu apa bedanya perang tomat di Lembang ini dengan perang tomat yang ada di negara Spanyol, ya? Well, perang tomat di daerah Lembang ini merupakan ritual adat dari masyarakat kampung Cikareumbi, Desa Cikidang, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Ritual ini dilakukan setiap satu tahun sekali saat menyambut datanganya bulan Muharram dalam kalender Islam.

Jika perang tomat, La Tomatina di Spanyol menggunakan bahan tomat segar dengan bobot ratusan ton, berbeda dengan perang tomat kampung Cikareumbi ini. Hal ini dikarenakan bahan tomat yang digunakan adalah tomat yang memang sudah tidak layak konsumsi jadi atau dengan kata lain adalah tomat busuk. Ritual ini bukanlah asal ikut-ikutan saja untuk ‘mendompleng’ popularitas ritual perang tomat di spanyol. Melainkan memang digelar sebagai rangkaian acara Hajat Lembur. Dimana kegiatan ritual ini dilakukan selama tiga hari lengkap dengan arak-arakan tumpeng dan hasil bumi masyarakat sekitar.

Ritual perang tomat sendiri hanya berlangusng selama 30 menit dan memiliki filosofi. Apa ya filosofinya? Jika tomat busuk yang dilempar dapat membuang dan menjauhkan sifat-sifat buruk yang berada di dalam diri manusia. 

Kok Bisa Tomat Busuk Jadi Alat Perang Di Lembang? | Breaktime
Serunya perang tomat di Lembang (pikiran-rakyat.com)
Baca Juga Artikel :
Berita Terbaru
Hue, Pesona Kota Kuno di Bekas Ibukota Vietnam

Nah, ide awal tercetusnya perang tomat ini sendiri bermula dari kejadian di tahun 2011 silam yang mana para penati tomat di kampung Cikareumbi beramai-ramai membuang hasil panen tomat mereka karena harga tomat yang anjlok. Tomat-tomat ini lalu dibiarkan membusuk di pinggir jalan desa.

Sang pencetus, Mas Nanu Muda alias Abah Nanu. Lantaran tak sebanding dengan modal bertaninya, para petani pun membiarkan buah tersebut busuk. Kemudian Abah Nanu mengajak warga sekitar untuk memanfaatkan tomat-tomat busuk tersebut jadi aktivitas yang lebih menyenangkan. Perang tomat ini bukan sekedar dilakukan, tetapi juga pengembangan dari tradisi Hajat Buruan yang digelar rutin.

Hajat Buruan ini sendiri merupakan hiburan sebagai wujud syukur keberhasilan sayuran yang ditanam para petani di wilayah tersebut. Dilakukan dengan memberikan sedekah sajian tumpeng dan pembagian air keramat sebagai harapan mendapat berkah agar tanaman selalu tumbuh subur dan diberi keselamatan.

Baca Juga Artikel :
Berita Terbaru
Legenda Menyelimuti Kecantikan Danau Sentani

Sedangkan perang tomat sendiri sebagai wujud buang sial para petani dari segala macam hal buruk dan sifat yang tidak baik. Simbol keburukan digambarkan melalui tomat busuk tersebut yang harus dilempar dan dibuang jauh. Proses tradisinya pun diawali dengan pertunjukan atraksi prajurit perang yang memakai topeng dari anyaman bambu.

Meski terbilang baru, tradisi perang tomat ini terus dilestarikan hingga saat ini. Tak hanya satu tradisi saja. B’timers juga harus mempertahankan tradisi yang ada di kota Anda, ya. (vpd)



artikel kompilasi
related img
icon maps
CELEBES
TRAVEL GUIDE
related img
icon maps
CELEBES
TRAVEL GUIDE
related img
icon maps
CELEBES
TRAVEL GUIDE