Kisah Romantis dan Tragis Asal Mula Banyuwangi | Breaktime
Kisah Romantis dan Tragis Asal Mula Banyuwangi
08.06.2016

Banyuwangi adalah salah satu Kabupaten yang ada di ujung Provinsi Jawa Timur yang memiliki banyak destinasi wisata yang cantik. Nama Banyuwangi sendiri terdiri dari dua kata yaitu Banyu (air) dan wangi (harum). Lantas, ada kisah apa yang terjadi hingga nama Banyuwangi menjadi nama sebuah Kabupaten? Simak selengkapnya, ya!

Legenda Banyuwangi

Dahulu kala, wilayah ujung timur Pulau Jawa ini dipimpin oleh seorang raja bernama Prabu Sulahkromo. Ia dibantu oleh seorang Patih yang gagah berani, arif, tampan bernama Patih Sidopekso dalam menjalankan pemerintahan. Patih Sidopekso memiliki seorang istri bernama Sri Tanjung yang sangat cantik rupawan dan pembawaan yang lemah lembut yang membuat Raja tergila- gila padanya.

Hasrat Prabu Sulahkromo untuk memiliki Sri Tanjung begitu kuat. Karena itu, ia melakukan muslihat dengan memerintahkan sang Patih menjalankan tugas berat dengan alasan untuk kerajaan. Patih Sidopekso menerima titah dengan gagah dan senang hati. Akhirnya, ia berangkat untuk menjalankan tugas yang diemban dari sang raja.

Kisah Romantis dan Tragis Asal Mula Banyuwangi | Breaktime
Wisata pantai di Banyuwangi

Akal busuk sang raja

Begitu Patih Sidopekso meninggalkan kerajaan, Raja mulai melancarkan aksinya untuk merayu Sri Tanjung. Pendirian kuat Sri Tanjung membuat Raja murka karena cintanya ditolak. Alhasil, ketika Patih Sidopekso kembali dari misinya, Sang Raja membalikkan fakta dengan memfitnah Sri Tanjung. Katanya, istri Patih Sidopekso itu mendatanginya dan merayunya.

Dengan penuh amarah, Patih Sidopekso menemui Sri Tanjung. Penjelasan sang istri yang jujur dan lembut itu tak membuat Patih Sidopekso berubah. Alih-alih hatinya lega, Patih Sidopekso justru mengancam akan membunuh istri setianya itu. Ia menyeret sang istri ke sebuah sungai keruh untuk dibunuh.

Kisah Romantis dan Tragis Asal Mula Banyuwangi | Breaktime
Penangkaran penyu di pantai Banyuwangi

Sebelum ditikam pisau oleh suami tercintanya, Sri Tanjung mengucapkan satu pesan bahwa jika Air sungai berubah jadi bening dan berbau harum, itu adalah bukti bahwa dirinya tidak pernah melakukan hal yang dituduhkan dan selalu setia pada sang suami.

Patih Sidopekso tidak lagi mampu menahan diri, segera menikamkan kerisnya ke dada Sri Tanjung. Darah memercik dari tubuh Sri Tanjung dan mati seketika. Mayat Sri Tanjung diceburkan ke sungai dan sungai yang keruh itu berangsur-angsur menjadi jernih seperti kaca serta menyebarkan bau harum. Melihat hal itu, Patih Sidopekso terhuyung-huyung, jatuh dan ia jadi linglung menyadari kesalahannya.

Tanpa sadar, ia berteriak “Banyu! Wangi! Banyu! Wangi!” dengan air matanya yang bercucuran menahan penyesalan yang dalam. Hmm, romantis dan tragis ya, B’timers. Dengan kata lain, Banyuwangi ini adalah sebuah kota bukti cinta istri untuk suaminya. (nap)

Share This Article