Kisah Legenda Tan Bun An dari Tanah Sumatera | Breaktime
Kisah Legenda Tan Bun An dari Tanah Sumatera
03.08.2016

Legenda apa yang paling melekat di bayangan Anda ketika mendengar kata Pulau Sumatera, B’timers? Selain kisah si anak durhaka, Malin Kundang tentunya. Nah, di salah satu delta kecil yang ada di Sungai Musi, ada cerita legenda yang menarik, lho. Ya, kisah dari Pulau Kemaro ini begitu manis dan mengharu biru. Apa lagi jika bukan cerita cinta yang melegenda dari Tan Bun An, B’timers?

Kisah Legenda Tan Bun An dari Tanah Sumatera | Breaktime
Di batu ini legenda cinta kedua insan terpatri

Pulau kecil dengan cerita manis paling romantis

Terletak sekitar 6 km dari Jembatan Ampera, Pulau Kemaro merupakan tempat rekreasi paling terkenal di Sungai Musi, lho. Di sini Anda akan menemui vihara China yang lebih dikenal dengan nama Klenteng Hok Tjing Rio. Selain itu ada juga makam putri Palembang nan cantik jelita, Siti Fatimah. Kecantikan yang ditambah dengan perangai baik, membuat para pemuda takut untuk meminangnya, B’timers.

Namun pada suatu hari, datang seorang putra raja dari dataran China bernama Tan Bun An dengan niat berdagang di Palembang. Karena ingin mengembangkan usahanya, dia pun memutuskan menetap lebih lama. Nah, tentu sebagai pendatang, dia datang menghadap Raja Sriwijaya. Demi mendapat persetujuan dari sang raja, Tan Bun An menyanggupi persyaratan, yaitu menyerahkan sebagian keuntungan.

Kisah Legenda Tan Bun An dari Tanah Sumatera | Breaktime
Makam Siti Fatimah dan Tan Bun An di Pulau Kemaro

Pertemuan dengan sang putri yang berbuah cinta

Karena setiap minggu sang putra raja China datang menemui Raja Sriwijaya, pertemuan kedua insan itu pun tak terhindarkan. Cinta pada pandangan pertama pun tercipta. Setelah lama menjalin asmara, Tan Bun An pun mengungkapkan keinginannya untuk mempersunting sang putri. Ayah sang putri memberi izin dengan satu syarat, yaitu Tan Bun An harus menyediakan sembilan guci berisi emas.

Dikirimkanlah utusan ke negeri China untuk menyampaikan berita gembira ini pada kedua orangtua dari sang putra mahkota. Persyaratan pernikahan guci berisi emas turut dikirimkan beserta doa restu kedua orangtua untuk sang putra terkasihnya. Nah, untuk mengelabui bajak laut dari barang bawaan berharga, emas-emas tersebut pun dilapisi dengan sayur sawi.

Sayang, sesampainya di Muara Sungai Musi, Tan Bun An  yang tidak mengetahui emas-emas disimpan di dalam sayuran tersebut memilih terjun ke Sungai Musi setelah membuang semua gucinya. Meliha calon suaminya terjun, Siti Fatimah pun ikut terjun, B’timers. Sebelum terjun, dia berpesan pada sang dayang, jika dia tidak kembali, dan ada gundukan tanah yang menyembul, itu adalah kuburannya.

Tak lama setelah peristiwa itu muncullah tumpukan tanah di tepian Sungai Musi, yang lama kelamaan menjadi sebuah pulau, B’timers. Dalam bahasa Indonesia, Pulau Kemaro berarti Pulau Kemarau, karena tidak pernah digenangi air meskipun air Sungai Musi pasang.

Hiks, kisah cinta yang mengharukan, ya, B’timers? (NO)

Share This Article