Kisah Kedekatan R.A Kartini & Saudaranya | Breaktime
Kisah Kedekatan R.A Kartini & Saudaranya
21.04.2017

Hari ini, tepat 21 April 2017 adalah peringatan Hari Kartini di Indonesia. Seluruh masyarakat Indonesia mungkin sudah mengenal sosok R.A. Kartini yang merupakan seorang pahlawan perempuan di era penjajahan. Kartini adalah seorang keturunan priyayi. Ayahnya adalah seorang patih yang kemudian diangkat menjadi seorang Bupati Jepara. Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat menikah dengan M.A. Ngasirah. Namun, akhirnya ia harus menikah lagi dengan seorang wanita yang juga keturunan bangsawan agar bisa menjadi seorang bupati. Itu adalah peraturan dari pemerintah Belanda. Beliau menikah lagi dengan R.A. Moerjam.

Meski begitu keluarga mereka hidup sangat rukun dan penuh kasih sayang. Hanya saja saat usia Kartini 12 tahun, ia dilarang untuk melanjutkan studinya. Kartini sangat fasih berbahasa Belanda. Ayahnya bersih keras untuk menikahkan anaknya itu. Kartini terus memberontak. Sampai akhirnya ia sering mengalami cekcok dengan sang Ayah. Kartini pun hanya bisa menulis surat-surat untuk teman-temannya yang kebanyakan orang Belanda.

Kisah Kedekatan R.A Kartini & Saudaranya | Breaktime
Kegigihan Kartini memberikan pendidikan untuk kaum perempuan

Baca juga : DIAN SASTROWARDOYO UNJUK GIGI DALAM FILM KARTINI

Kartini mengenal Rosa Abendanon yang sangat mendukung cita-citanya untuk terus bersekolah. Kartini terinspirasi dari perempuan-perempuan Belanda yang punya pemikiran sangat maju. Ia mengetahui hal tersebut dari buku-buku dan koran Eropa yang ia baca. Semakin dilarang oleh sang Ayah, Kartini semakin getol mewujdkan cita-citanya untuk mengangkat derajat kaum wanita pribumi, khususnya untuk mereka yang berada pada status sosial rendah.

Kartini dan Rosa terus berkirim surat. Sampai akhirnya kumpulan surat Kartini yang berjudul Door Duisternis tot Licht dicetak menjadi sebuah buku. Surat dalam bahasa Belanda itu ditranslasi oleh Arminj Pane seorang pujangga baru menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang. Perempuan yang akhirnya menikah pada usia 24 tahun dengan seorang Bupati Rembang, K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat ini, ternyata juga mendapatkan dukungan besar dari sang suami. Satu tahun menikah, Kartini melahirkan seorang anak bernama, Soesalit Djojoadhiningrat. Empat hari setelah melahirkan anaknya, Kartini meninggal di usia 25 tahun.

Ternyata, dukungan perjuangan Kartini demi kaum perempuan Indonesia tak hanya berasal dari sahabatnya, Rosa, dan suaminya, tetapi juga dari saudara kandung dan saudara tirinya. Apakah Anda mengenal siapa saja saudara-saudari Kartini?

Kisah Kedekatan R.A Kartini & Saudaranya | Breaktime
Soesalit Djojoadhiningrat bersama dengan istri dan anaknya

Baca juga : HABIS GELAP TERBITLAH TERANG, KUMPULAN SURAT ASLI R.A. KARTINI

Ada tiga saudaranya yang sangat mendukung perjuangan Kartini. Pertama adalah Drs. R.M.P Sosrokartono. Pria yang akrab dipanggil Kartono ini lahir pada 10 April 1877. Ia adalah kakak kandung Kartini dengan pendidikan dan kecerdasan yang paling tinggi. Ia adalah lulusan Universitas Leiden dan menjadi wartawan perang pertama Indonesia yang meliput Perang Dunia I. Kartono salah satu yang paling getol mendukung Kartini untuk melanjutkan sekolah.

Selanjutnya adalah R.A Roekmini yang lahir pada 4 Juli 1880. Perempuan yang menikah dengan Raden Santoso ini adalah adik tiri Kartini. Meski begitu, Kartini dan Roekmini memiliki kedekatan yang melebihi saudara tiri.

Kartini juga sangat dekat dengan adik kandungnya, R.A Kardinah yang lahir pada 1 Maret 1881. Kardinah menikah dengan R.M.A.A Rekso Negoro yang merupakan seorang Patih Pemalang yang menjadi Bupati Tegal. Satu lagi saudara tirinya yaitu R.A Kartinah yang lahir pada 3 Juni 1883. Ia menikah dengan Raden Dirdjoprawiro. Roekmini, Kardinah, dan Kartnah sangat dekat dengan Kartini dan selalu mendukung apa yang ingin dicapai oleh saudarinya itu.

Kisah Kedekatan R.A Kartini & Saudaranya | Breaktime
Potret Kartini, Kardinah, dan Roekmini

Baca juga : GOOGLE DOODLE: FAKTA UNIK KARTINI WANITA PRIBUMI

Sebenarnya, Kartini masih punya saudara dan saudari lainnya. Tetapi mereka tidak sedekat dengan keempat saudaranya yang sangat mendukung segala hal yang dilakukan oleh Kartini. Tetapi, yang terpenting cita-cita Kartini yang dikenal dengan emansipasi wanita sudah tercapai. Kini wanita tak lagi dianggap lemah, memiliki pendidikan tinggi, karir yang cemerlang, dan keluarga yang bahagia.

Namun, perjuangan Kartini tak hanya sampai disitu. Kita sebagai seorang wanita juga harus tetap melanjutkannya dengan bersikap gigih, percaya diri, cerdas, dan menghargai orang lain. Kartini akan tetap hidup dalam jiwa wanita Indonesia masa kini dan di masa depan. (vpd)



artikel kompilasi
related img
icon maps
PAPUA
TRAVEL GUIDE
related img
icon maps
PAPUA
TRAVEL GUIDE
related img
icon maps
PAPUA
TRAVEL GUIDE