Kepulauan Banda, Harta Karun Yang Dianaktirikan | Breaktime
Kepulauan Banda, Harta Karun Yang Dianaktirikan
19.08.2017

Kepulauan Banda atau ‘pulau rempah-rempah’ adalah nama dari kelompok pulau-pulau vulkanis yang tersebar di laut Banda. Kepulauan ini termasuk ke dalam wilayah Maluku dengan kota terbesarnya yaitu Banda Neira. Selain Banda Neira, ada pulau Gunung Api, pulau Banda Besar, pulau Rhun, pulau Ai, pulau Hatta, pulau Syahrir, pulau Karaka, Manukan, dan pulau Batu Kapal.

Dulunya pulau ini sangat tersohor dan menjadi rebutan Belanda dan Portugis. Rempah-rempah, pedagang asing, perang dan gempa bumi adalah gambaran Kepulauan Banda di masa lalu. Kepulauan Banda mempunyai banyak gunung vulkanik sehingga tidah mengherankan tanahnya subur.

Baca Juga Artikel :
Berita Terbaru
Tugu Pers Mendur: Perannya di Balik Proklamasi RI

Mundur ke masa lalu, yang pertama kali datang ke kepulauan iniadalah Portugis. Awal mulanya, Portugis menjalin hubungan baik dengan raja-raja setempat, tapi itu tidak berlangsung lama karena adanya monopoli rempah-rempah, pembangunan benteng, terhalangnya budaya, dan lainnya. Dulu, Kepulauan Banda adalah salah satu penghasil pala terbesar sehingga banyak yang ingin menguasainya.

Zaman dulu, belum ada teknologi canggih seperti sekarang dan orang-orang Eropa memanfaatkan rempah-rempah untuk bertahan hidup. Bahkan, tidak semua orang bisa menggunakannya karena harganya mahal. Konon, harga pala jauh lebih mahal dari emas.

Pala digunakan dalam mengawetkan daging dan bumbu dalam masakan. Dari sisi medis, pala dipercaya sebagai obat untuk penyakit pes yang dulu mewabah di daratan Eropa, membantu pencernaan, mengobati diare, meningkatkan nafsu makan, dan mengobati perut kembung. Tumbuhan ini tumbuh sepanjang tahun sehingga bisa menjadi pendapatan tetap bagi masyarakat Banda.  

Kepulauan Banda, Harta Karun Yang Dianaktirikan | Breaktime
nelayan di Kepulauan Banda

Kembali ke Portugis, hubungannya yang tidak baik dengan masyarakat lokal akhirnya dimanfaatkan oleh Belanda. Portugis pun berhasil dikalahkan dan Belanda mulai menunjukkan taringnya dengan cara memonopoli dan menjadikannya penguasa utama di kepulauan tersebut.

Untuk mempertahankan kekuasaannya, Kolonial Belanda menmbah produksi pala dengan memproduksi secara masal untuk kebutuhan dagang, membangun benteng-benteng untuk menjaga pala tetap aman, dan membentuk sistem pemerintahan khas kolonial. 

Baca Juga Artikel :
Berita Terbaru
Ke Lombok? Cicipi 5 Kuliner Khas Sasak Ini

Selain produksi pala, laut juga memainkan peran penting pada masa penjajahan. Selain sebagai akses utama dan satu-satunya ke kepulauan, laut juga berfungsi sebagai sumber makanan bagi penduduk dan penjajah. Sampai sekarang, sebagain profesi masyarakat kepulauan Banda adalah nelayan. Para nelayan sangat bergantung pada ikan-ikan tertentu yang hidup di terumbu karang agar laku di pasaran. Meskipun gunung vulkaniknya masih aktif, terumbu karang di kepulauan Banda memiliki daya tahan yang tinggi berkat keunikannya dan konservasi yang dilakukan sehingga ekosistem laut selalu terjaga. 

Kepulauan Banda, Harta Karun Yang Dianaktirikan | Breaktime
Salah satu benteng di Kepulauan Banda

Mayoritas penduduk Belanda adalah migran dari berbagai wilayah di Indonesia dan bercampur dengan penduduk asli. Setelah masa penjajahan berakhir, identitas budaya orang-orang khas kolonial tetap ada. Dialek bahasanya pun beragam misalnya Melayu Ambon dan dialek lokal yang sudah terpengaruh bahasa Belanda. Sekitar 95% masyarakat Banda beragama muslim dan 5% beragama kristen.

Baca Juga Artikel :
Berita Terbaru
Keajaiban Pohon Purba di Lombok yang Masih Kokoh

Sekarang, pengunjung kepulauan Banda datang tidak untuk mengambil rempah-rempahnya melainkan menikmati lautnya melalui fotografi dan aktivitas air seperti snorkling dan diving. Banda juga dinobatkan sebagai salah satu lokasi diving terbaik di dunia.

Walaupun masih kurang terkenal di telinga orang Indonesia, budayawan dan tokoh masyrakat Banda tetap optimis untuk membangun Banda di bidang ekowisata. Selain itu, Banda juga masuk dalam nominasi Warisan Dunia UNESCO dan rencananya akan dibangun taman laut nasional. Semoga bisa menjadi kenyataan ya, B’Timers. (ar)



artikel kompilasi
related img
icon maps
BORNEO
TRAVEL GUIDE
related img
icon maps
BORNEO
TRAVEL GUIDE
related img
icon maps
BORNEO
TRAVEL GUIDE