Kenapa di Bali Bertebaran Sesajen? Ini Kisahnya! | Breaktime
Kenapa di Bali Bertebaran Sesajen? Ini Kisahnya!
14.04.2015
“Don't talk about heaven if you've never been to Bali.” -Toba Beta-

Saat berlibur ke Pulau Dewata, tentunya B’timers sering menemukan sasejan bertebaran. Tak hanya di tempat ibadah, namun juga di lokasi umum bahkan tak jarang sesajen tersebut diletakkan di daerah yang padat wisatawan. Sebenarnya apa tujuan peletakan sesajen ini ya, B’timers?

Singkat cerita, pada abad ke-8 di tahun Saka 858, seorang Maha Resi bernama Markandeya bersama dengan pengikutnya membuka sebuah daerah baru di Puakan yang sekarang ini disebut dengan Taro, Tegal Lalang daerah Gianyar, Bali. Dalam pembentukan daerah baru tersebut sang Maha Resi mengajarkan untuk membuat upakara atau sesajen yang digunakan untuk sarana upacara, awalnya hanya terbatas pada para pengikutnya saja namun lama kelamaan menyebar ke penduduk lain di sekitar desa Taro. 

Penduduk desa Taro yang melakukan upacara pemujaan menggunakan sesajen dengan bahan baku daun, bunga, air, dan api disebut orang-orang Bali. Karena kebiasaan yang dibawa oleh Maha Resi tersebut berkembang hingga ke seluruh pulau, maka daerah tersebut dinamakan Bali. Secara jelasnya Bali adalah sebuah pulau yang dihuni oleh orang-orang yang melakukan pemujaan dengan menggunakan sarana sesajen. 

Sesajen diletakkan di dekat kolam ikan, bukti tradisi masih berlangsung hingga sekarang
Sesajen diletakkan di dekat kolam ikan, bukti tradisi masih berlangsung hingga sekarang

Kebiasaan meletakkan sesajen ini ternyata tidak hanya berhenti pada abad ke-8 saja. Tradisi upacara menggunakan sesajen tersebut juga diteruskan oleh Maha Resi lainnya, seperti halnya Mpu Sangkulputih, Mpu Kuturan, Mpu Manik Angkeran, Mpu Jiwaya, dan Mpu Nirartha. 

Baca Juga: Sejarah Di Balik Leak Bali

Nah, sebagai alat bantu yang sangat sakral, sesajen tersebut memiliki banyak fungsi. Contohnya sebagai persembahan atau tanda terima kasih, alat konsentrasi terhadap Hyang Widhi, simbol manifestasi Yang Maha Kuasa, serta sebagai alat pensucian dan juga pengganti mantra. 

Karena begitu sakral dan pentingnya fungsi serta makna sesajen, tidak heran hingga detik ini B’timers masih menemui tradisi tersebut saat berkunjung ke Bali. Dan ingat, hormati kepercayaan tersebut dengan tidak usil mengambil atau memindahkan sesajen, ya!

Share This Article