Kabuenga Kapota, Serunya Tradisi Cari Pasangan | Breaktime
Kabuenga Kapota, Serunya Tradisi Cari Pasangan
02.08.2016

Dan ternyata cara pencarian jodoh tidak hanya bisa dilakukan melalui aplikasi canggih di smartphone, lho, B’timers. Di Indonesia bagian timur, tepatnya di Pulau Kapota, Kabupaten Wakatobi, ada tradisi unik untuk mendapatkan pasangan. Hmm, bagaimana ya, cara mereka menemukan jodoh yang tepat? Dengan melemparkan ayam jantan dan betina ke laut? Simak ceritanya di sini, B’timers!

Kabuenga Kapota, Serunya Tradisi Cari Pasangan  | Breaktime
Wanita lajang yang menanti jodoh datang

Tradisi unik mencari pasangan hidup

Well, tradisi ini bermula, karena pada saat itu para pemuda dan gadis tidak memiliki kesempatan untuk bertemu muka, B’timers. Dahulu para pemuda sering berlayar, jadi mereka kesulitan bertemu para gadis. Nah, karena itulah, akhirnya digelar tradisi untuk mempertemukan lelaki dan perempuan lajang. Namanya Tradisi Kabuenga, B’timers.

Tidak hanya bermaksud untuk mempertemukan jodoh para lajang, lho. Tradisi ini ternyata memiliki nilai sakral di dalamnya, B’timers. Masyarakat Wakatobi melangsungkan acara ini setiap usai merayakan Hari Raya Idul Fitri. Alasannya, ya, tidak jauh karena pemuda yang merantau di berbagai wilayah Indonesia saat Lebaran pulang ke kampungnya.

Kabuenga Kapota, Serunya Tradisi Cari Pasangan  | Breaktime
Jika bertemu jodoh, mereka akan diarak

Cerita menarik di balik Tradisi Kabuenga

Konon, tradisi ini bermula dari legenda La Lili Alamu, B’timers. Kerajaan Kambode di Pulau Kapota punya putra mahkota yang telah beranjak dewasa dan sudah waktunya untuk memilih wanita sebagai istrinya. Niatan itupun disampaikan pada sang ayah, yang tak lain adalah Raja Kambode. Namun ketika sang raja tahu nama wanita yang akan dipersunting, meledaklah amarahnya.

Ini karena nama yang disebutkan oleh  La Lili Alamu adalah Wa Siogena yang merupakan nama wanita di kalangan rakyat jelata, B’timers. Nah, tak mendapat persetujuan, putra mahkota pun memutuskan pergi merantau ke tempat jauh. Sayang, meskipun tahun-tahun berlalu dan dia juga mengenal banyak wanita, tapi nama pujaan hatinya masih begitu lekat di jiwanya.

Sepulangnya La Lili Alamu disambut sang raja dengan menggelar sayembara guna mencari pasangan untuk sang putra. Sayembara memilih Sarung Leja buatan tangan pun dimulai. Nantinya wanita yang memintal Sarung Leja yang terpilih putra mahkota, akan dipersunting. Dan, ya, La Lili Alamu ternyata memilih sarung buatan Wa Siogena, B’timers.

Wah, manis dan menyentuh ya, cerita di balik Tradisi Kabuenga dari Pulau Kapota ini, B’timers? (NO)

Share This Article