Jelajah Jaipur, Cantiknya Eks Ibukota Rajasthan | Breaktime
Jelajah Jaipur, Cantiknya Eks Ibukota Rajasthan
29.12.2016

Traveling di India tak lepas dari Jaipur, bekas ibukota Kerajaan Rajasthan. Apabila Agra terkenal dengan Taj Mahal-nya, maka Jaipur terkenal sebagai kota tua dengan mayoritas bangunan berwarna merah bata atau terakota.

Jaipur juga disebut sebagai "Pink City" karena mayoritas bangunan, tembok, gerbang, dan struktur kota yang mempertahankan warna pink, merah, dan terakota. Kota ini juga mempertahankan bangunan-bangunan peninggalan kerajaan sebagai aset budaya dan wisata.

Pagi itu udara masih dingin dan sedikit berkabut. Belum banyak suara klakson tuk-tuk yang bersahutan di jalan raya. "Good morning, Sir. How are you? Ready to go?" Saya menyapa Muhammad Raihan, sopir tuk-tuk yang akan membawa saya berkeliling kota Jaipur hari itu.

Jelajah Jaipur, Cantiknya Eks Ibukota Rajasthan | Breaktime
Deretan tuk-tuk, transportasi termurah untuk keliling kota di Jaipur

Seperti halnya sopir tuk-tuk saya yang seorang Muslim, banyak warga Jaipur yang juga memeluk Islam. Raihan sangat ramah dan bercerita panjang lebar tentang sejarah panjang dan kebanggaannya pada kota Jaipur.

"Indonesia is beautiful country. I saw it on television and Youtube. Many people in Indonesia are Moslem," kata Raihan ketika tahu saya berasal dari Indonesia, meskipun awalnya ia mengira saya adalah seorang wisatawan dari Malaysia.

Perbincangan akrab kami -dengan sedikit nada keras dan tinggi karena bersahutan dengan suara klakson dan deru mesin tuk-tuk, harus berhenti saat kami sampai di City Palace. Sebuah kompleks bangunan istana kerajaan yang megah dan kokoh berdiri di hadapan saya.

Jelajah Jaipur, Cantiknya Eks Ibukota Rajasthan | Breaktime
Seniman ular India di sekitar City Palace

Kompleks istana City Palace ini dibangun oleh Raja Sawai Jai Singh II pada pertengahan abad ke-17. Sekarang, City Palace merupakan kompleks museum yang menjadi tujuan wisatawan domestik India maupun mancanegara.

Salah satu bagian dari City Palace adalah Chandra Mahal, sebuah museum yang memamerkan produk buatan tangan eksklusif dan produk warisan budaya kerajaan lainnya. Pengunjung tak hanya menikmati keindahan arsitektur, tetapi juga peninggalan bersejarah dari Kerajaan Rajastan di masa lalu.

Tepat di seberang jalan pintu keluar City Palace, terdapat sebuah kompleks bangunan lainnya yang disebut Jantar Mantar. Tempat ini merupakan kompleks observatorium terbuka yang pada masa Kerajaan Rajastan dulu digunakan sebagai pengamatan terhadap waktu, arah mata angin, arsitektur, filosofi, dan astronomi.

Jelajah Jaipur, Cantiknya Eks Ibukota Rajasthan | Breaktime
Pemandangan dari salah satu pintu masuk di Amber Fort

Kompleks arsitektur dengan nilai pengetahuan dan fisika yang tinggi ini dibangun pada periode Maharaja Jai Singh II, memiliki jam matahari terbesar di dunia dan merupakan observatorium terbuka terbesar di dunia.

"Are you hungry, Sir? We can go to food stall or restaurant if you want," Raihan mencoba menawarkan makan siang setelah saya keluar dari Jantar Mantar. Suasana siang itu memang sangat terik dan panas. Dua botol air mineral 1,5 liter pun habis hanya beberapa jam di City Palace dan Jantar Mantar.

Raihan memacu tuk-tuknya menuju batas luar kota Jaipur. Kali ini lokasi yang kami tuju adalah Amber Fort, sebuah benteng besar sekaligus simbol kota Jaipur. Amber Fort yang berada di perbukitan ini disebut juga sebagai "Great Wall" yang mengingatkan kita pada Tembok Raksasa di China.

Jelajah Jaipur, Cantiknya Eks Ibukota Rajasthan | Breaktime
Kolam air dan jembatan menuju pintu masuk Amber Fort

Amber Fort disebut juga sebagai Amer, merujuk pada lokasi tembok dan benteng ini yang terletak sekitar 10 kilometer dari pusat kota Jaipur. Amber Fort dibangun pada akhir abad ke-15 oleh Raja Jai Singh I. Konstruksi benteng dan dinding mencerminkan perpaduan arsitektur Hindu dan Islam.

Pintu masuk utama Amber Fort menghadap timur dengan sebuah kolam di bagian depan. Selain pintu masuk utama ini masih ada tiga pintu masuk lainnya. Ada empat halaman di Istana Amber. Salah satu halaman memiliki ruang terbuka yang disebut Diwani Aam. Di tempat ini wisatawan bisa naik gajah wisata di sekitar benteng.

Sekitar tiga kilometer dari Amber Fort terdapat sebuah danau yang di tengahnya terdapat bangunan istana. Tempat ini disebut Jal Mahal yang berarti Istana Air. Lokasi yang unik dan tempat yang relatif lebih sejuk dibandingkan lokasi lain di Jaipur membuat Jal Mahal menjadi salah satu tujuan wisatawan setelah dari Amber Fort.

Jelajah Jaipur, Cantiknya Eks Ibukota Rajasthan | Breaktime
Istana Rajasthan yang berada di tengah danau

Menurut cerita Reihan, Jal Mahal ini dulunya digunakan oleh keluarga raja untuk berlibur pada musim panas. Karena lokasi Jaipur yang jauh dari laut, maka dibangunlah sebuah tempat peristirahatan di tengah danau oleh penguasa saat itu, Maharaja Sawai Madho Singh.

Menjelang sore, tuk-tuk yang membawa saya dan Reihan menebus kemacetan dan ramainya kota Jaipur akhirnya tiba di Hawa Mahal, salah satu bangunan paling cantik yang saya temui di kota unik ini. Hawa Mahal ibarat rangkuman keindahan arsitektur kota Jaipur dan mendapat julukan "Palace of the Winds".

Jelajah Jaipur, Cantiknya Eks Ibukota Rajasthan | Breaktime
Hawa Mahal, bangunan megah dengan ratusan jendela di Jaipur

Hawa Mahal memiliki 953 jendela sebagai ventilasi tiap ruang pada bangunan berlantai lima ini. Wisatawan hanya perlu mengikuti petunjuk arah dan naik anak tangga untuk menuju ke puncak. Pada jaman dahulu, bangunan ini digunakan sebagai tempat tinggal keluarga kerajaan.

Sekitar jam empat sore, Reihan memacu tuk-tuknya untuk membawa kami kembali ke penginapan. Meskipun terlihat lelah, Reihan tetap melanjutkan ceritanya tentang budaya dan sejarah Jaipur, serta berharap kelak saya bisa kembali mengunjungi kota kecil dan indah yang ia banggakan ini. (za)



artikel kompilasi
related img
icon maps
PAPUA
TRAVEL GUIDE
related img
icon maps
PAPUA
TRAVEL GUIDE
related img
icon maps
PAPUA
TRAVEL GUIDE