Filosofi Suku Tradisional Papua di Rumah Honai | Breaktime
Filosofi Suku Tradisional Papua di Rumah Honai
25.09.2017

Provinsi di ujung timur wilayah negara Indonesia ini memang memiliki sejuta keindahan alami yang seakan tiada henti untuk dieksplorasi. Mulai dari keindahan alam hingga keanekaragaman flora-fauna, kecantikan wilayah Papua semakin diperkuat dengan kekayaan budaya yang tentunya tak bisa Anda temukan di bumi Indonesia belahan manapun. Wilayah seluas 309.934,4 kilometer2 ini provinsi dengan wilayah terluas di Indonesia. Saking luasnya, pulau berbentuk kepala burung yang berbatasan dengan negara Papua Nugini ini dihuni oleh berbagai suku tradisional Papua yang hidup tersebar di wilayah yang luas tersebut, mulai dari Suku Dani, Asmat, Yali, Amungme, Arfak, dan masih banyak lagi.

Seluruh suku tradisional Papua tersebut memiliki adat-istiadat mereka masing-masing yang berbeda satu sama lain, meskipun terdapat beberapa aspek yang memiliki pola kesamaan tersendiri. Selain kesamaan genetis, rumah tradisional para suku tersebut memiliki bentuk yang hampir serupa. Secara umum, Bangsa Indonesia menjuluki rumah tradisional Papua sebagai Rumah Honai. Rumah yang sepenuhnya terbuat dari alam tersebut ternyata menyimpan filosofi khusus, salah satunya ialah untuk bertahan hidup di iklim Papua yang dingin. Tiang penyangga rumah terbuat dari kayu berbentuk bulatan, sedangkan lantai kedua bangunan terbuat dari papan kayu. Dinding rumah tersusun dari bilah papan bagian luar, dengan atap melengkung Rumah Honai yang berasal dari alang-alang kering atau jerami. 

Baca Juga Artikel :
Berita Terbaru
Seluk-beluk Koteka yang Mulai Binasa

Meski secara umum disebut sebagai Rumah Honai, sebenarnya nama tersebut secara tradisional merujuk pada rumah adat Papua yang dihuni pria dewasa. Terdapat 3 jenis rumah adat dalam suku tradisional Papua, yakni Rumah Honai, Ebei, dan Wamai. Rumah Ebei secara khusus dihuni oleh kaum wanita sedangkan Rumah Wamai digunakan sebagai kandang hewan peliharaan seperti babi. Di samping fungsinya yang berbeda, ketiga jenis rumah tersebut sebenarnya memiliki bentuk yang hampir sama. Perbedaan utama yang mencolok ialah ukuran Rumah Honai alias hunian para pria yang biasanya lebih tinggi. Selain pemisahan penghuni masing-masing rumah, adakah filosofi yang mengatur ketiganya secara terpisah? 

Filosofi Suku Tradisional Papua di Rumah Honai | Breaktime
Masyarakat Suku Dani di depan Rumah Honai khas Papua

Tak seperti rumah adat kebanyakan suku tradisional di seluruh penjuru Indonesia yang cenderung memiliki rumah adat berbentuk rumah panggung, Rumah Honai hanya beralaskan tanah biasa. Ketiga jenis bangunan Rumah Honai tersebut sama-sama memiliki 2 tingkat, yakni tingkat dasar beralaskan tanah dan tingkat atas yang beralaskan papan. Tingkat dasar yang beralas tanah biasanya dipakai sebagai tempat berkumpul, bermusyawarah, serta beraktivitas di malam hari, sedangkan tingkat atas yang beralas papan dikhususkan sebagai kamar tidur. Di bagian tengah lantai dasar biasanya terdapat tungku untuk membakar kayu perapian untuk menghangatkan rumah di malam hari. Lantai pertama dan kedua dihubungkan oleh tangga yang terbuat dari kayu.

Baca Juga Artikel :
Berita Terbaru
Suku Mosuo dari Lembah Himalaya yang Mulai Punah

Ukuran Rumah Honai yang relatif sempit yakni tinggi sekitar 3 meter dan diameter 5 meter dihuni oleh cukup banyak orang, yakni 5 hingga 10 orang. Alih-alih nampak berdesakan, penghuni rumah yang banyak tersebut menjadikan Rumah Honai tetap hangat. Minimnya pintu yang hanya terdapat 1 buah di bagian depan saja serta tidak adanya jendela menjadikan suhu di rumah yang dihuni banyak orang tersebut menjadi semakin hangat. B’timers yang kebetulan berkunjung ke Tanah Papua dan memasuki Rumah Honai mungkin tak langsung terbiasa dan justru merasa pengap dengan kondisi rumah yang minim ventilasi ini.

Rumah Honai bagi masyarakat tradisional Papua memiliki makna filosofis yang lebih dari sekedar tempat beristirahat dan berlindung dari cuaca dingin Papua. Meski wanota dan pria tinggal secara terpisah, masing-masing Rumah Honai dianggap sebagai tempat untuk mengajarkan kehidupan bagi penghuninya, terutama generasi muda. Di Rumah Honai yang dihuni kaum pria, para pemuda dididik agar dapat bertahan hidup serta menjadi pria sejati yang bertanggung jawab atas segala aspek kehidupan kelompoknya. Berbeda halnya pada Rumah Honai yang dihuni kaum wanita, yakni Rumah Ebei yang merupakan tempat pengajaran untuk para gadis dan anak perempuan tentang bagaimana mengurus rumah tangga dan menjadi wanita seutuhnya setelah menikah dan melahirkan anak.

Baca Juga Artikel :
Berita Terbaru
Aneh! Fakta Mengenai Korea Utara yang Mencengangkan

Uniknya, meski telah menikah para pria dan wanita tetap tinggal terpisah di rumah masing-masing sesuai jenis kelamin. Apabila suami-istri hendak melakukan hubungan intim, hal tersebut akan dilakukan di rumah perempuan dengan meminta anak-anak dan penghuni lain untuk keluar sejenak. Apakah B’timers tertarik menyelami keunikan tradisi Papua beserta sistem masyarakat dalam rumah Honai? (dee)



artikel kompilasi
related img
LIVE
YOUR LIFE
related img
LIVE
YOUR LIFE
related img
LIVE
YOUR LIFE