Bakar Tongkang Jadi Wisata Budaya Bagansiapiapi | Breaktime
Festival Bakar Tongkang Jadi Wisata Budaya Bagansiapiapi
17.11.2016

Ada yang menarik di Kep. Riau. Bukan, bukan tentang wisata alam yang memang sangat indah. Tetapi adalah tentang wisata budaya yang menjadi ciri khas masyarakat Riau. Mungkin tak banyak yang tahu tentang tradisi ini.

Namanya tradisi Bakar Tongkang. Tradisi atau festival ini memiliki sejarah yang panjang B’timers. Selain itu, pelaksanaannya juga sangat seru. Penasaran, kan? Yuk, simak ulasan tentang menariknya festival Bakar Tongkang di Riau ini.

Apa itu festival Bakar Tongkang?

Festival Bakar Tongkang ini adalah festival seni budaya yang berasal dari Bagansiapiapi, kabupaten Rokan Hulu, Riau. Festival ini dilakukan untuk memperingati kehadiran masyarakat Tionghoa ke tanah Bagansiapiapi pada tahun 1820.

Bakar Tongkang Jadi Wisata Budaya Bagansiapiapi | Breaktime
Arak-arakan tongkang yang dilakukan oleh ratusan orang

Selain itu, tradisi ini juga dilakukan sebagai bentuk penghormatan terhadap dewa laut. Masyarakat Tionghoa mengalami rezim yang sangat kejam sekitar dua abad yang lalu, akhirnya mereka mengungsi dan sampai di Riau pada saat itu dengan menggunakan tiga tongkang. Namun naasnya, dua tongkang tenggelam karena badai.

Dalam satu kapal yang selamat, ada dua arca dewa, yaitu Tuan Raja (Ong Ya), Tai Sun Ong Ya, dan Kie Ong Ya. Ketika sampai di daratan Bagansiapiapi, para pengungsi ini mendirikan kelenteng In Hok Kiong.

Apa saja yang dilakukan selama festival berlangsung?

Festival ini dilakukan dengan sangat meriah. Pada malam sebelum fastival, masyarakat akan sembahyang di kelenteng In Hok Kiong. Sembahyang pertama adalah dengan membakar hio-hio (dupa) raksasa dan menyusun persembahan.

Bakar Tongkang Jadi Wisata Budaya Bagansiapiapi | Breaktime
Tongkang pun dibakar di sebuah area

Singkatnya, acara peresmian tongkang dilakukan oleh ahli gaib yang disebut Tang Ki. Saat festival ini akan banyak sekali hiburan. Yang paling inti adalah melakukan arak-arakan tongkang menuju area pembakaran. Tak hanya dilakukan oleh masyarakat Tionghoa, masyarakat lain dan wisatawan pun bisa juga ikut menyaksikan fastival ini.

Ini adalah satu tradisi unik masyarakat Indonesia keturunan Tionghoa yang juga harus dilestarikan, B’timers. (vpd)



artikel kompilasi
related img
icon maps
BORNEO
TRAVEL GUIDE
related img
icon maps
BORNEO
TRAVEL GUIDE
related img
icon maps
BORNEO
TRAVEL GUIDE