Di Balik Persiapan Tradisi Sekaten Keraton Solo | Breaktime
Di Balik Persiapan Tradisi Sekaten Keraton Solo
05.12.2017

Umat Islam baru saja merayakan Maulid Nabi yang merupakan hari kelahiran Nabi Muhammad, tepatnya pada 12 Rabiul Awal setiap kalender Hijriah. Berdasarkan perhitungan kalender Masehi, hari istimewa bagi kaum Muslim tersebut dirayakan pada 1 Desember 2017 kemarin. Terlepas dari simpang-siur kabar perayaan Maulid Nabi yang konon tidak diatur dalam syariat Islam, perayaan tersebut senantiasa terasa istimewa di beberapa budaya Indonesia, seperti Keraton Solo dan Keraton Yogya. Selain tradisi mengarak dan memperebutkan gunungan Maulid yang juga disebut dengan acara Sekaten, ada berbagai unsur budaya dan keagamaan yang menarik untuk diamati.

Pada masa kejayaannya, Keraton Solo dan Keraton Yogya pernah menjadi penopang kehidupan masyarakat Yogyakarta, Jawa Tengah, dan sekitarnya. Status istimewa yang disandang para petinggi dan kerabat kerajaan menjadikan momen Sekaten selalu ditunggu karena menjembatani keluarga keraton dengan masyarakat awam meski selama sekali setahun sekalipun. Tak hanya sebagai ritual tahunan, tradisi Sekaten juga dipercaya membagikan kesejahteraan kalangan keraton kepada rakyat biasa agar turut mencicipi hidup makmur.

Baca Juga Artikel :
Berita Terbaru
Menyelami Arifnya Budaya Lokal Bangka Belitung

Pada puncak ritual Grebeg Sekaten di Masjid Agung Solo, Jawa Tengah, para abdi dalem dan kerabat Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat akan mengarak seluruh gunungan yang tersedia sebelum diperebutkan oleh masyarakat. Dua pasang gunungan lanang atau lelaki dan gunungan putri atau perempuan tersebut diisi oleh aneka hasil bumi yang melambangkan kesejahteraan. Tak hanya aneka makanan, berbagai benda perlengkapan sekaten seperti cambuk juga dianggap sebagai perantara untuk membagikan berkah kepada masyarakat. Dengan memperebutkan bunga hiasan hingga pelengkap gunungan, masyarakat berharap akan mendapatkan kehidupan ekonomi yang lebih baik serta meningkatkan kemakmuran. 

Di Balik Persiapan Tradisi Sekaten Keraton Solo | Breaktime
Abdi dalem keraton mengarak gunungan sekaten sebelum mulai diperebutkan warga

Di balik kemeriahan tradisi Grebeg Sekaten, terdapat tradisi menarik yang selama ini jarang disoroti dan kurang diketahui kalangan umum. Masih dalam perayaan Maulid Nabi, setelah perhelatan Gerebek Sekaten, Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat akan menggelar upacara Adang atau menanak nasi di Pawon Gondorasan Keraton Surakarta. Ritual sakral tersebut konon diselenggarakan Keraton Surakarta setiap tahun Dal atau 8 tahun sekali.  Dilakukan langsung oleh Sampeyandalem Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan (SISKS) Paku Buwono XIII, Upacara Adang tersebut akan menggunakan dandang atau panci penanak nasi bernama Kyai berusia lebih dari 500 tahun.

Baca Juga Artikel :
Berita Terbaru
Jelajah Alor, Surga di Ujung Timur Nusa Tenggara

Ketiga dandang yang terbuat dari logam tersebut membutuhkan sebanyak 70 kilogram beras untuk prosesi upacara Adang. Setelah dimasak pada malam hari Minggu, 3 Desember 2017, nasi akan dibagikan kepada para abdi dalem, sentana dalem, kerabat keraton dan tamu undangan Keraton pada Senin, 4 Desember 2017 yang dipercaya sebagai hari lahir Kanjeng Nabi Nabi Muhammad SAW. Meski kalender nasional menunjukkan perayaan Maulid Nabi yang jatuh pada Jumat, 1 Desember 2017, prosesi pembagian hasil memasak nasi tersebut dibagikan pada hari Senin untuk memperingati miyosipun atau hari lahir Kanjeng Nabi yang dipercaya bertepatan dengan hari Senin. Pemilihan angka dal atau delapan tahun sekali konon berasal dari momen penciptaan kalender Jawa oleh Sultan Agung, Raja Kesultanan Mataram yang menyesuaikan tahun Hijriah dengan Saka.

Ketika tak digunakan dalam Upacara Dandang pada perayaan Maulid Nabi, Dhandhang Kyai Dudo akan disimpan di Keputren Keraton Surakarta sebelum kembali digunakan setiap 8 tahun sekali. Berbagai perlengkapan menanak nasi dalam rangkaian prosesi Upacara Dandang menggunakan peralatan dari kawasan Delanggu dan Lumbung Selayur, sedangkan air untuk memasak berasal dari mata air Pengging, Mungup, Cokrotulung, Bonowelang, dan Sumur Jolotundo. Penutup dhandhang atau kekeb secara khusus dibuat dari gerabah sekali pakai dari tanah di Bayat, Kabupaten Klaten dan Selo, Kabupaten Grobogan. Api untuk memasak nasi di tungku sendiri berasal dari api abadi di Makam Kyai Ageng Selo di Grobogan. 

Baca Juga Artikel :
Berita Terbaru
Ada Sejarah Pulau Pisang Di Balik Pesonanya

Tak hanya menjembatani keluarga keraton dengan masyarakat, ritual Upacara Adang juga sebagai ajang napak tilas dhandhang Kyai Dudo yang dipercaya merupakan peninggalan Dewi Nawangwulan. Menurut mitos, Dewi Nawangwulan merupakan bidadari yang dicuri selendangnya oleh Jaka Tarub saat mandi di Bumi sehingga tak bisa kembali ke kahyangan. Setelah diperistri oleh Jaka Tarub, Dewi Nawangwulan memiliki kesaktian dapat membuat satu butir beras dimasak menjadi satu dhandhang penuh nasi. Dhandhang sakti itulah yang hingga kini disimpan di Keraton Solo dan dikenal dengan nama Dhandhang Kyai Dudo. Nasi yang dimasak dalam dhandhang tersebut akan dimakan bersama-sama di emperan Paningrat Keraton Surakarta dengan lauk sate pentol.

Dhandang Kyai Dudo akan kembali digunakan 8 tahun yang akan datang pada perayaan Maulid Nabi selanjutnya yang ditandai dengan dibunyikannya Gamelan Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari. (dee)



artikel kompilasi
related img
LIVE
YOUR LIFE
related img
LIVE
YOUR LIFE
related img
LIVE
YOUR LIFE