Di Balik Kisah Heroik 10 November Surabaya | Breaktime
Di Balik Kisah Heroik 10 November Surabaya
10.11.2017

"Dan untuk kita saudara-saudara. Lebih baik kita hancur lebur daripada tidak merdeka. Semboyan kita tetap: merdeka atau mati!"

Penggalan pidato tersebut terdengar lantang begitu B’timers memasuki Museum 10 November. Museum yang terletak di Jalan Pahlawan, Surabaya itu menyimpan koleksi bersejarah berkaitan dengan peristiwa heroik 10 November 1945 di Surabaya. Serangan pasukan Inggris yang membonceng Belanda waktu itu dilawan dengan sangat bergelora oleh para pemuda Surabaya meski menewaskan banyak pejuang. Di museum tersebut, salah satu sudut yang terbilang cukup menarik ialah diorama Bung Tomo dan radio jadul miliknya yang jadi salah satu ujung tombak perjuangan arek Suroboyo kala itu.

"Dan kita yakni saudara-saudara. Pada akhirnya pastilah kemenangan akan jatuh ke tangan kita. Sebab Allah selalu berada di pihak yang benar. Percayalah saudara-saudara. Tuhan akan melindungi kita sekalian."

Di Balik Kisah Heroik 10 November Surabaya | Breaktime
Diorama Bung Tomo dan radionya di Museum 10 November, Surabaya

Di perang tersebut, Bung Tomo hadir sebagai orator ulung yang berpidato di depan corong radio demi membakar semangat para pejuang demi mengusir penjajah dari bumi Nusantara yang telah merdeka. Selain menjadi orator pada hari bersejarah 10 November, Bung Tomo merupakan seorang wartawan aktif di beberapa surat kabar dan majalah seperti Harian Soeara Oemoem, Harian berbahasa Jawa Ekspres, Mingguan Pembela Rakyat, dan Majalah Poestaka Timoer. Beliau juga memegang posisi kehormatan sebagai wakil pemimpin redaksi Kantor Berita pendudukan Jepang Domei dan pemimpin redaksi Kantor Berita Antara di Surabaya.

Di Balik Kisah Heroik 10 November Surabaya | Breaktime
Museum 10 November yang menyimpan berbagai peninggalan pertempuran arek Suroboyo

Uniknya, foto legendaris Bung Tomo berpidato dengan sorot mata berapi-api dan telunjuk mengacung kerap muncul tiap kali momen Hari Pahlawan. Namun tahukah B’timers bahwa rupanya foto tersebut tidak diambil pada momen perjuangan 10 November 1945? Diungkapkan oleh Istri Bung Tomo, Sulistina, keaslian foto tersebut sebenarnya terjamin meski momen pengambilan gambarnya terjadi pada saat pidato Bung Tomo di Lapangan Mojokerto pada 1947 dalam rangka mengumpulkan pakaian bagi korban perang Surabaya. Saat itu, warga Surabaya masih tertahan di pengungsian Mojokerto dan jatuh miskin karena Kota Pahlawan masih dikuasai Belanda.

Baca Juga Artikel :
Berita Terbaru
Uniknya Kisah Sejarah Candi Majapahit

Momen pidato penuh gelora tersebut diduga direkam oleh fotografer Alexius Mendur dari IPPhoS (Indonesia Press Photo Services) yang kemudian diterbitkan di majalah dwi bahasa Mandarin-Indonesia, Nanjang Post, di edisi Februari 1947. Alex yang juga merupakan kawan baik Bung Tomo kemudian memotret pidato yang penuh semangat tersebut. Foto itulah yang hingga kini banyak digunakan sebagai representasi perjuangan arek Suroboyo di Hari Pahlawan hingga kini dan seringkali disalahartikan sebagai momen orasi Bung Tomo yang terjadi pada 10 November.

Sebuah kisah unik pernah terjadi dalam hidup Bung Tomo yang telah sangat populer karena pidato-pidatonya yang bergelora, jauh sebelum peristiwa 10 November. Para petinggi pejuang kemudian menganggap bahwa keberanian Bung Tomo dinilai bisa membahayakan keselamatan Bung Karno dengan banyaknya kaki-tangan Belanda dan Inggris yang berkeliaran. Hingga suatu ketika, datanglah pasukan bersenjata ke rumah Bung Tomo dengan dalih hendak menjemput dan menahan beliau. Hal itu membuat ibunda Bung Tomo sangat khawatir karena dengan tuduhan mata-mata saja seseorang bisa langsung ditembak mati.

Baca Juga Artikel :
Berita Terbaru
Pesona Tanaman Langka Bunga Bangkai Raksasa

Faktanya terungkap begitu pimpinan pasukan tersebut menghubungi Markas Besar Tentara Jawa Timur Dr Mustopo hingga jelaslah perintah dari Pemuda Republik Indonesia (PRI) untuk melindungi Bung Tomo. Berbeda dengan tentara atau polisi, pasukan dari PRI terbilang elit sehingga sesuai dengan urgensi untuk melindungi Bung Tomo yang demikian masyhur. Lucunya, para prajurit menyalahartikan perintah “melindungi” dengan “menangkap / menahan,” suatu hal yang sering terjadi sebagai kode keamanan tentara saat itu. Sama halnya dengan penggunaan kata mengamankan saat ini yang pada dasarnya berarti meringkus. Mereka terbahak bersama Bung Tomo, sebelum bergegas membebaskan dan mengantar beliau kembali pulang dengan selamat.

Selain kisah konyol tersebut, Bung Tomo juga pernah mendapatkan telegram berupa teguran pedas dari atasannya, Menteri Pertahanan Amir Sjarifuddin. Sang Menteri meminta Bung Tomo untuk memilih apakah bersedia diangkat menjadi jenderal namun tak boleh lagi berpidato, atau sebaliknya. Dengan emosi membuncah, sang orator tersebut menegaskan bahwa dirinya tak berminat menjadi jenderal apabila tak lagi bisa vokal. Idealismenya kembali dibenturkan dengan Pemerintah di masa Orde Baru yang menurutnya melakukan kebijakan pembangunan yang tidak berpihak kepada rakyat serta condong kepada golongan tertentu.

Baca Juga Artikel :
Berita Terbaru
Vlog Jokowi Buat Mandalika Jadi Magnet Baru Lombok

Bung Tomo kemudian dipenjara pada 11 April 1978, hingga beliau berubah murung dan pendiam setelah dibebaskan. Akhir hayat sang orator ulung tersebut dihabiskan dengan beribadah hingga wafat di Tanah Suci pada tahun 1981. Setelah bertahun-wafat, jasa beliau sebagai penyematan perjuangan di Hari Pahlawan akhirnya mendapat pengakuan negara dengan pemberian tanda kehormatan dan bintang Mahaputera Adipradana kepada Bung Tomo yang diwakili sang istri pada peringatan Hari Pahlawan ke-63 tahun 2008. (dee)



artikel kompilasi
related img
LIVE
YOUR LIFE
related img
LIVE
YOUR LIFE
related img
LIVE
YOUR LIFE