Di Balik Gunung Agung yang Kini Berstatus Awas | Breaktime
Di Balik Gunung Agung yang Kini Berstatus Awas
22.10.2017

Pada 22 Oktober 2017, sudah hari ke-31 Gunung Agung, Bali berada dalam status awas akibat aktivitas vulkanik yang terdeteksi. Gunung tertinggi di Bali dengan ketinggian mencapai 3.142 meter dari atas permukaan laut ini terakhir kali mengalami aktivitas vulkanik pada 18 Februari 1963 hingga meletus pada 17 Maret di tahun yang sama. Pada 24 September tahun 2017 kemarin, Badan Nasional Penanggulangan Bencana di Indonesia telah menetapkan radius bebas aktivitas 12 kilometer di sekitar kawah setelah berbagai aktivitas seismik mulai terasa di sekitar gunung. Sebanyak 122.500 penduduk setempat telah dievakuasi dari hunian mereka di sekitar Klungkung, Karangasem, Buleleng, dan berbagai kawasan di sekitarnya.

Tak hanya mengungsi, gunung yang statusnya telah meningkat ke level IV atau awas sejak 22 September 2017 tersebut juga mendorong warga setempat dan pemeluk agama Hindu melakukan ritual keagamaan untuk mencegah terjadinya bencana alam yang sedahsyat tahun 1963 silam. Gubernur Bali Made Mangku Pastika dan Bupati Karangasem I Gusti Ayu Mas Sumantri telah bekerja sama dengan pemuka agama setempat dan para tokoh masyarakat untuk menggelar ritual Pengelempana atau yang disebut juga dengan Peneduh Jagat pada 20 September 2017 kemarin. Tak hanya di Pura Besakih yang terletak di kaki Gunung Agung, ritual tersebut juga dilaksanakan secara bersamaan di Pura Bangun Sakti, Pura Basukian, serta Pura Pangubengan yang terletak di kompleks kawasan suci Pura Besakih.

Baca Juga Artikel :
Berita Terbaru
Serunya Liburan di Jepang dengan Paket Liburan

Ritual agama Hindu tersebut dilakukan dengan tujuan memohon kepada Ida Sanghyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa untuk mengendalikan aktivitas Gunung Agung agar normal kembali sekaligus menyelamatkan seluruh umat. Tak hanya memohon perlindungan, ritual keagamaan tersebut juga dilakukan untuk menyampaikan permohonan maaf alias guru piduka atas segala kesalahan yang dilakukan masyarakat, tak hanya di Bali namun juga di seluruh Indonesia. 

Di Balik Gunung Agung yang Kini Berstatus Awas | Breaktime
Altar pemujaan di tepi kawah Gunung Agung

Tak hanya sebagai gunung tertinggi secara fisik di Pulau Dewata, Gunung Agung juga memegang peranan penting dalam dunia spiritual umat Hindu Bali. Menurut kepercayaan setempat, kosmologi Hindu menasbihkan adanya Nyegara Gunung yang menuntut adanya keseimbangan kesucian antara Segara / laut hingga Gunung. Dengan demikian, keberadaan Gunung Agung menjadi penanda penting yang tak terpisahkan dari laku spiritual umat Hindu Bali. Narasi kesucian Gunung Agung dimulai sejak masa Hindu kuno dan dapat ditemukan di berbagai peninggalan sejarah lisan hingga tertulis seperti dongeng, cerita rakyat, hingga lontar. 

Baca Juga Artikel :
Berita Terbaru
Menjelajah Baduy Dengan Mengandalkan 7 Bekal
Di Balik Gunung Agung yang Kini Berstatus Awas | Breaktime
Pura Besakih yang terletak di kaki Gunung Agung

Dikutip dari buku Custodian of the Sacred Mountains: Budaya dan Masyarakat di Pulau Bali karya Thomas A. Reuter, peradaban Hindu Bali terbentuk ketika Maharishi Markandeya, orang Majapahit yang memimpin pelarian ke Bali pertama kali menetap di kaki Gunung Agung. Artinya, selain secara spiritual Gunung Agung juga memegang peranan penting dalam masyarakat Hindu Bali. Tak hanya masayarakat Hindu Bali terhadap Gunung Agung, masyarakat Hindu di berbagai penjuru dunia juga mengagungkan alam semesta secara umum, serta gunung secara khusus sebagai tempat suci. Berdasarkan ajaran Hindu dalam Kitab Purana, gunung dinyatakan sebagai simbol Lingga sekaligus hunian Dewa Siwa. 

Baca Juga Artikel :
Berita Terbaru
Eksotisme Papua Nugini dalam Keragaman Budaya

Sama halnya dengan umat Hindu Jawa yang mendewakan Gunung Semeru dan Bromo maupun umat Hindu Lombok yang mendewakan Gunung Rinjani, Gunung Agung memiliki posisi istimewa dalam ritual Hindu Bali. Sebelum kini memasuki status awas sejak September hingga Oktober 2017, Gunung Agung pernah mengalami letusan besar pada tahun 1963. Istimewanya, dalam dua kali peristiwa letusan besar tersebut, Pura Besakih dan kompleks bangunan suci di sekitarnya hanya mengalami kerusakan kecil seakan tak tersentuh bencana. Sayangnya, gempa tektonik berskala 6 Richter yang mengguncang Bali pada 18 Mei 1963 akhirnya menaklukkan dan menyebabkan kerusakan dahsyat pada Pura Besakih.

Hingga kini sudah sebulan Gunung Agung di Bali berada dalam status awas, meski tak ada yang bisa memprediksi apakah Gunung Agung benar-benar akan mengalami erupsi nantinya. (dee)



artikel kompilasi
related img
LIVE
YOUR LIFE
related img
LIVE
YOUR LIFE
related img
LIVE
YOUR LIFE