Di Afrika, Keperawanan Seperti Makanan Ringan | Breaktime
Di Afrika, Keperawanan Seperti Makanan Ringan
26.02.2017

Di tengah ramainya isu penistaan agama, kemerosotan moral bangsa, dan kebebasan untuk perempuan yang makin ke sini makin dibatasi, B’timers mungkin masih ingat dengan #BikiniParty ataupun #PoolParty yang beberapa waktu lalu sempat membuat heboh jagad nasional. Pasalnya, acara tersebut secara tersirat seakan mengajak para remaja yang baru lulus SMA itu untuk melakukan kegiatan yang belum sepantasnya dilakukan remaja seumuran mereka. Selain itu, beberapa agenda dan dresscode serta konsumsi yang disediakan selama acara juga kurang sesuai dengan budaya ketimuran Indonesia. Kewajiban memakai bikini dan fasilitas kamar hotel lengkap dengan minuman beralkohol, misalnya.

Namun, betapa mengejutkannya ketika ternyata di Afrika Selatan sana, menjaga keperawanan tak lagi menjadi prioritas utama. Di Afrika Selatan, lulus SMA tidak menjadi hal yang membanggakan jika saat lulus masih dalam status perawan. Remaja yang masih perawan tadi malah akan menjadi bahan olok-olokan teman sebayanya. Gaya hidup di Afrika Selatan yang bebas bermesraan di mana saja menjadi salah satu faktor mengapa keperawanan hanya seperti makanan ringan. Yang terjadi selanjutnya bahkan lebih mengerikan lagi, tapi sebelumnya Breaktime akan share BAGI-BAGI IPHONE 7 GRATIS!, khusus B'Timers yang hobi selfie, KLIK DISINI

Di Afrika, Keperawanan Seperti Makanan Ringan | Breaktime
Masyarakat Afrika Selatan punya tradisi ‘aneh’

Tak heran pula jika kebanyakan remaja di sana akhirnya terbiasa melaksanakan pesta perayaan kelulusan di mana saat pesta tersebut, semuanya bebas berhubungan badan dan bahkan sudah disediakan kamar untuk melakukan kegiatan tersebut.Cukup mencengangkan sekali bukan? Banyak yang meyakini tingkah masyarakat Afrika Sleatan yang seperti ini ada hubungan dan pengaruhnya oleh gaya masyarakat Amerika Serikat yang segala-galanya serba bebas. Lebih spesifiknya lagi, kehidupan di Afrika Selatan sekan-akan mencontoh film American Pie.

Kebebesan dan kegiatan seperti ini sebelumnya cenderung dinikmati dan kurang mendapatkan perhatian serta peringatan dari pemerintah dan warganya sendiri sampai akhirnya bahaya akan HIV/AIDS mulai melahap tak hanya satu persatu remaja Afrika Selatan, tapi juga merebak ke segala penjuru di sana. “Kebebasan” yang akhirnmya sukses menempatkan Afrika Selatan di ranking pertama Negara dengan penderita HIV/AIDS terbanyak di dunia. Setelah sadar akan pentingnya menjaga keperawanan dan perilaku asusila semacam itu, pemerintah Afrika Selatan sepakat menentukan batasan umur untuk seorang remaja bisa melakukan hubungan badan. Jika melanggar dan melakukannya dengan anak di bawah umur, hukumannya sangat berat sekali. Hal ini dilakukan karena ada beberapa kepercayaan yang meyakini bahwa berhubungan badan dengan balita bisa mengurangi resiko terkena HIV/AIDS.

Di Afrika, Keperawanan Seperti Makanan Ringan | Breaktime
Tradisi lepas perawan yang penuh makna

Tak hanya menetapkan aturan, sebuah distrik bernama uThukela juga mulai menggalakkan ritual adat kerajaan Zulu untuk tes keperawanan  yang bernama “ukuhlolwa.” Ritual dalam wujud kamp ini dimaksudkan untuk mengurangi tingkat kehamilan yang sangat tinggi idi Afrika Selatan. Pasalnya, terhitung di tahun 2016 kemarin, Commision for Gender Equality of South African (CGE) mencatat ada 383 remaja perempuan usia sekolah yang hamil dengan total 20.000 yang drop out sekolah selama tiga tahun terakhir. Cara berbau budaya ini diterapkan karena berbagai workshop dan penyuluhan yang dilakukan tidak mempan.

Akan tetapi, Tes Keperawanan ini cukup menuai perdebatan. Soalnya dilakukan dengan cara menari sambil membawa buluh bambu yang jika ternyata pecah, maka menandakan gadis tersebut tak lagi perawan.Meskipun memiliki tujuan baik untuk mengajarkan betapa berharganya sebuah keperawanan dalam kamp tersebut, namun metode yang digunakan sama sekali tidak ilmiah dan kurang meyakinkan. Beberapa aktivis juga menganggap pemeriksaan keperawanan oleh adat Zulu itu termasuk melanggar privasi dan hak asasi. Sebab, sama seperti di Indonesia, bagi yang tidak lolos tes  keperawanan, maka ia tidak dibolehkan untuk melanjutkan jenjang  pendidikan. 

Tapi, terlepas dari perdebatan yang ada dan opini tidak adil bila hanya menguji kemampuan satu orang hanya dari satu aspek yakni keperawanan, karena keperawanan bisa hilang bukan hanya saat berhubungan badan tapi juga bisa karena aktifitas yang padat dan kecelakaan, ada baiknya jika B’timers tidak melakukan hal-hal “liar” laiknya rimba Afrika  itu sekalipun menyenangkan karena resiko HIV/AIDS yang menghantui. (FF)



artikel kompilasi
related img
icon maps
CELEBES
TRAVEL GUIDE
related img
icon maps
CELEBES
TRAVEL GUIDE
related img
icon maps
CELEBES
TRAVEL GUIDE