Cinta Terlarang Di Balik Pesona Tangkuban Perahu | Breaktime
Cinta Terlarang Di Balik Pesona Tangkuban Perahu
28.09.2017

Berbicara tentang wisata alam di Jawa Barat, Tangkuban Perahu jadi salah satu yang paling populer. Daya tarik wisatanya adalah perkebunan teh, pohon-pohon pinus di sepanjang perjalanan, dan kawah gunung yang cantik. Lokasinya terletak sejauh 20 km dari pusat kota Bandung. Gunung ini punya ketinggian 2084 mdpl. Suhu udaranya pun cukup dingin, sekitar 17 derajat pada siang hari dan bisa mencapai 2 derajat saat malam hari. Tangkuban perahu pun juga termasuk gunung api yang masih aktif.

Meski memiliki keindahan alam yang cantik dan mempesona sejak dalam perjalanan sampai di lokasi, gunung ini juga tak jauh-jauh dari misteri. Gunung ini punya legenda yang berkembang di masyarakat sekitar dan sudah cukup populer di Indonesia. Kisah pilu Dayang Sumbi dan Sangkuriang membuat keindahan gunung ini bercampur misteri.

Baca Juga Artikel :
Berita Terbaru
Filosofi Suku Tradisional Papua di Rumah Honai

Alkisah dikisahkan dari kayangan hidup seorang dewa dewi yang melanggar kodrat. Mereka pun diusir ke bumi dan dijadikan babi hutan dan seekor anjing. Tanpa sengaja, sang babi yang merupakan jelmaan dewa meminum air seni Raja Sungging Perbangkara yang sedang berburu. Mereka pun menjelma lagi menjadi dewa dewi. Sampai akhirnya, mereka memiliki seorang buah hati perempuan yang cantik dan diberi nama Dayang Sumbi.

Putri cantik ini hidup dan tumbuh menjadi wanita yang mempesona. Sampai-sampai banyak pangeran dan raja yang memperebutkannya. Dayang Sumbi merasa risih dan memilih untuk mengasingkan diri ke hutan. Karena kesal, ia tak sengaja mengucapkan sumpah serapah, bagi yang memungut dan mengembalikan alat tenunnya yang jatuh, jika wanita akan ia jadikan saudara dan jika pria akan ia jadikan suami.

Ternyata ada seekor anjing yang merupakan jelmaan dewa yang menemukan alat tenun tersebut. Dayang Sumbi pun mengatakan pada ayah dan ibunya. Namun, sang ayah justru mengusirnya ke dalam hutan bersama Tumang yang merupakan seekor anjing tadi. Saat pindah ke dalam hutan, Tumang berubah wujud menjadi pria tampan. Mereka menikah, hidup di hutan, dan memiliki seorang anak bernama Sangkuriang. Nama ini pasti tidak asing di telinga Anda, karena memang sangat berkaitan erat dengan Tangkuban Perahu.

Cinta Terlarang Di Balik Pesona Tangkuban Perahu | Breaktime
Kisah pilu melingkupi keelokan Tangkuban Perahu (histori.id)
Baca Juga Artikel :
Berita Terbaru
Seluk-beluk Koteka yang Mulai Binasa

Ketika Sangkuriang beranjak dewasa, ia sering ikut ayahnya untuk berburu. Suatu ketika, Dayang Sumbi ingin makan hati Manjangan. Sangkuriang dan Tumang pun berburu, namun tidak menemukan hati Manjangan. Entah apa yang merasuki pikiran Sangkuriang, ia menancapkan panah pada Tumang dan mengambil hatinya untuk diberikan pada sang ibu.

Sang ibu justru murka dan mengusir Sangkuriang, setelah memukul kepalanya dengan centong. Sejak saat itu, Dayang Sumbi hanya bertapa dan makan lalapan. Bertahun-tahun berlalu, Sangkuriang berubah jadi pria dewasa yang tampan. Dayang Sumbi tetap cantik dan awet muda karena bertapa selama bertahun-tahun.

Ketika mereka bertemu, mereka saling jatuh cinta. Ketika melewati hari-hari bersama, Dayang Sumbi akhirnya mengenali luka yang ada di kepala Sangkuriang. Ia pun sadar bahwa itu putranya. Alih-alih menyudahi kisah cintanya, Sangkuriang justru tidak peduli dan bersikukuh ingin menikahi Dayang Sumbi. Wanita ini pun akhirnya memberi syarat agar Sangkuriang membuat sebuah perahu dan danau dalam waktu satu malam. Tak disangka Sangkuriang menyanggupi. Dayang Sumbi pun meminta tolong pada Sang Hyang Tunggal agar keinginan Sangkuriang tidak terlaksana.

Baca Juga Artikel :
Berita Terbaru
Suku Mosuo dari Lembah Himalaya yang Mulai Punah

Dayang Sumbi menebarkan helai kain boeh rarang (kain putih hasil tenunannya), hingga kain putih itu bercahaya bagai fajar yang merekah di ufuk timur. Para guriang, makhluk halus anak buah Sangkuriang ketakutan karena mengira hari mulai pagi, maka merekapun lari menghilang.

Sangkuriang mulai gusar karena tidak bisa memenuhi syarat tersebut. Sampai di puncak kemarahannya, ia menendang perahunya ke arah utara dan mendarat tertelungkup seperti Tangkuban Perahu jika dilihat dari jauh.

Legenda Tangkuban Perahu ini memang merupakan tradisi lisan turun-temurun. Ternyata legenda ini ada pada naskah Bujangga Manik yang ditulis di atas daun lontar pada abad ke-15 atau awal abad ke-16. Entah benar atau tidak, yang jelas kisah ini bisa menjadi pelajaran bagi kita semua untuk selalu sabar dalam menjalani hidup. (vpd)



artikel kompilasi
related img
LIVE
YOUR LIFE
related img
LIVE
YOUR LIFE
related img
LIVE
YOUR LIFE