Cerita di Balik Subak, Sistem Pengairan Bali | Breaktimev
Cerita Klasik di Balik Subak, Sistem Pengairan Bali
20.07.2016

Pernah mendengar tentang Subak, B’timers? Sistem pengairan yang ada di Bali ini tak hanya indah untuk dipandang, namun juga memiliki cerita unik di baliknya, lho. Untuk Anda yang belum pernah mendengar kata ini, harus siap-siap terkejut, nih. Karena pada tahun 2012 Subak telah dinyatakan sebagai salah satu warisan dunia oleh UNESCO. Wow! Dan inilah cerita klasik di balik Subak, sistem pengairan yang ada di Bali, B’timers!

Cerita di Balik Subak, Sistem Pengairan Bali | Breaktime
Subak, satu warisan dunia yang diakui UNESCO

Kisah klasik yang ada di balik Subak

Subak merupakan sistem pengelolaan air atau irigasi sawah yang digunakan di Pulau Dewata. Sistem ini telah dikenal dan dikembangkan sejak abad ke-9. Yang membedakan Subak ini dengan sistem irigasi lain di Indonesia adalah, di Bali irigasi tidak hanya untuk menyediakan air untuk sawah saja, B’timers. Selain itu, Subak juga digunakan untuk membangun kompleks.

Dan yang menjadikan Subak semakin istimewa adalah asas kerjanya yang didasarkan pada asas keadilan, B’timers. Bahkan Subak memiliki organisasi dengan ketua yang disebut Pekaseh. Nah, Pekaseh bersama dengan para petani, peternak serta pengelola kegiatan lain yang memiliki berhubungan dengan air akan selalu melakukan perencanaan untuk melaksanaan sistem pengairan yang baik untuk semua.

Cerita di Balik Subak, Sistem Pengairan Bali | Breaktime
Tak hanya untuk pengairah sawah, juga untuk pengairan kuil

Hubungan sistem Subak dengan agama

Dengan keindahan alam pertanian Bali yang memanjakan mata, Subak juga menyimpan hubungan yang selaras dengan agama, lho, B’timers. Sistem irigasi tradisional ini memiliki kelanjutan ekologis mengikat bagi masyarakat agraris Bali. Pengelola air di bawah otoritas para imam menjelaskan hubungan penting antara manusia, bumi dan Dewata.

Komponen penting dari Subak adalah hutan yang menjadi pemasok air, lanskap sawah bertingkat, kanal yang menghubungkan, terowongan dan bendungan, hingga kuil-kuil dengan berbagai ukuran. Semuanya memiliki dasar agar aliran air berjalan dengan baik dan tidak melewatkan apapun. Totalnya, Bali punya sekitar 1200 yang digunakan untuk menghidupi sistem Subak ini.

Wow, segalanya memang telah direncanakan sejak awal, ya, B’timers? (NO)

Share This Article