Buang Jung, Ritual Cinta Laut ala Bangka Selatan | Breaktime
Buang Jung, Ritual Cinta Laut ala Bangka Selatan
25.08.2017

B’timers tentu sepakat bahwa daya tarik wisata di Kepulauan Bangka-Belitung telah melonjak drastis beberapa tahun belakangan. Kepulauan yang terkenal dengan corak hidup khas masyarakat bahari ini juga dimanfaatkan oleh pemerintah daerah setempat untuk mengangkat potensi wisata di Kepulauan Bangka-Belitung, misalnya melalui berbagai festival seni dan budaya. Ialah Toboali City on Fire, gelaran festival tahunan yang telah diadakan sejak 2016 ini mengangkat kekhasan budaya, kuliner, hingga panorama alam. Diselenggarakan di Lapangan Laut Nek Aji Toboali, Bangka Selatan pada 28-30 Juli 2017 silam, festival tersebut meliputi berbagai kegiatan unik mulai dari festival layang-layang lomba melukis tudung saji, lomba mural, hingga yang paling menarik dan dilaksanakan di hari terakhir: ritual Buang Jung.

Jauh sebelum ritual ini menjadi salah satu atraksi wisata dalam Festival Toboali City on Fire, ritual Buang Jung telah dilaksanakan secara turun-temurun tiap tahun. Ritual ini dilaksanakan pada saat terjadi pasang dan angin laut berhembus kencang, yakni sekitar bulan Juni, Juli, maupun Agustus. Tradisi ini masih terus dilakukan oleh masyarakat adat yang mata pencahariannya tergantung kepada laut. Selama satu minggu penuh, masyarakat setempat akan “mengistirahatkan” laut dan mengadakan ritual khusus sebagai wujud rasa syukur mereka kepada lautan yang telah menghidupi mereka selama ini.

Baca Juga Artikel :
Berita Terbaru
Foto Ini Simpan Kisah Heroik - Meninggal Dalam Sepi

Berasal dari bahasa tradisional setempat, jung yang berarti perahu kecil merupakan tempat tinggal penduduk Suku Laut yang telah tersohor dengan keahlian mereka sebagai pemandu laut sejak masa lampau. Sejak abad ke-12, mereka tinggal di pesisir pantai Bangka Selatan di atas perahu kecil yang mengapung-apung bak penjaga laut dan kepulauan. Keturunan Suku Laut yang saat ini disebut juga sebagai Suku Sawang menghuni Desa Kumbung, Kecamatan Lepar Pongok, Pulau Lepar mengadakan ritual Buang Jung sebagai warisan leluhur dengan tujuan untuk merawat tradisi dan melestarikan habitat laut.

Selama seminggu penuh, semua orang dilarang beraktivitas yang berhubungan dengan laut dan alam sekitar, mulai dari menangkap ikan, menebang dan membakar pohon, mencari kerang, hingga kegiatan pariwisata seperti snorkeling dan diving. Berbagai tradisi seperti tarian gajah menunggang dan ritual budaya lainnya dilaksanakan selama seminggu penuh, kemudian diakhiri dengan ritual Buang Jung. Selama tempo seminggu tersebut, diharapkan biota laut seperti ikan, dan kepiting dapat beristirahat dan kembali bereproduksi, sehingga keanekaragaman hayati laut dapat tetap terjaga. 

Buang Jung, Ritual Cinta Laut ala Bangka Selatan | Breaktime
Ritual Buang Jung sebagai salah satu atraksi wisata dalam Festival Toboali City on Fire 2017

Ritual Buang Jung dilakukan dengan membuang perahu kecil ke laut. Sehari sebelum pelaksanaan ritual Buang Jung, warga setempat akan mempersiapkan segala kebutuhan tradisi berupa persembahan hasil bumi seperti beras, gula, kopi, mie instan, dan tak ketinggalan seekor ayam hitam yang akan diletakkan di atas perahu atau jung. Perahu khusus untuk ritual merupakan perahu layar yang dibuat dari kayu pohon jeruk antu. Kayu pohon tersebut diambil dari Pulau Ibul di seberang desa Kumbung yang diyakini sebagai tempat tinggal leluhur pertama Suku Sawang.

Baca Juga Artikel :
Berita Terbaru
Kepulauan Banda, Harta Karun Yang Dianaktirikan

Ketika hari ritual Buang Jung tiba, seluruh masyarakat dilarang berlayar maupun melakukan aktivitas apapun di laut. Tepat di tepi Pantai Kumbung ujung Gusung, Bangka Selatan, seluruh warga akan berkumpul untuk melakukan doa bersama yang dipimpin oleh ketua adat Suku Sawang sebelum ritual dimulai. Sebelum melarung perahu berisi sesaji, diadakanlah pertunjukan kesenian tradisional Suku Sawang yang bernama Tunjang Angin.

Tunjang Angin merupakan bagian tak terpisahkan dari ritual sedekah laut Bunag Jung. Dalam pertunjukan ini, seorang lelaki terpilih dari Suku Sawang akan memamerkan keahlian berdiri di atas 2 tiang kayu sambil menari mengikuti alunan gendang yang dimainkannya sendiri. Pria tersebut akan menari selama beberapa menit di atas tiang jitun dengan ketinggian sekitar 5 meter dari permukaan tanah. Seusai ritual Tunjang Angin, terdapat pertunjukan tari Gajah Manunggang yang menggambarkan sukacita Suku Sawang atas keberkahan hasil laut selama ini. Gerakan tarian yang menyerupai gerakan mendayung menunjukkan bahwa Suku Sawang sejak dulu banyak berprofesi sebagai nelayan.

Baca Juga Artikel :
Berita Terbaru
Tugu Pers Mendur: Perannya di Balik Proklamasi RI

Terakhir, dilaksanakanlah ritual larung sesaji berupa Buang Jung. Dengan diiringi pembacaan doa, perahu kecil berisi sesaji berupa aneka makanan dan ayam hitam akan dihanyutkan bersama ombak hingga terbawa ke tengah laut. Ketika perahu tak lagi terlihat dari tepi pantai, warga akan kembali ke rumah untuk melanjutkan aktivitas. B’timers yang berminat menikmati keelokan alam khas Bangka sekaligus menyaksikan kearifan lokal berupa ritual Bung Jung dapat berkunjung ke Bangka Selatan sekitar bulan Juni hingga Agustus, tepatnya saat pelaksanaan festival seni budaya tahunan Toboali City on Fire. (dee)



artikel kompilasi
related img
LIVE
YOUR LIFE
related img
LIVE
YOUR LIFE
related img
LIVE
YOUR LIFE