Begini Wujud Pulau Jawa Saat Abad Ke-16 | Breaktime
Begini Wujud Pulau Jawa Saat Abad Ke-16
09.09.2017

B’timers pernah terbayang bagaimana peta dunia saat ini tergambarkan sedemikian rupa? Pada masanya, para penjelajah dunia dan kartografer alias pembuat peta bekerja sama melintasi berbagai belahan dunia untuk menjelajahi berbagai wilayah baru sembari menyusun peta dunia. Pernah mengalami ratusan tahun tertinggal di belakang kemajuan peradaban Eropa, Indonesia hanya bisa mengandalkan para penjelajah dari berbagai kawasan di Eropa untuk menelusuri serta memetakan berbagai wilayah di Indonesia, termasuk Pulau Jawa.

Pulau yang kini merupakan salah satu wilayah berpenduduk terbanyak di Indonesia tersebut hingga abad ke-16 Masehi masih terselubung misteri. Salah satu hal misterius dari Pulau Jawa di masa lampau ialah bentuknya yang berubah-ubah dari satu peta ke peta lainnya. Setiap kartografer dan penjelajah memiliki versi mereka sendiri mengenai bentuk Pulau Jawa yang sebenarnya. Salah satu di antara peta tersebut bahkan menggambarkan Pulau Jawa yang memiliki luas bidang melampaui Pulau Kalimantan.

Baca Juga Artikel :
Berita Terbaru
Orang Cina Identik dengan Gila Kerja, Kenapa Ya?

Abraham Ortellius, seorang kartografer dan ahli geografi tersohor asal Belgia, pernah mengeluarkan peta berjudul Indiæ Orientalis pada tahun 1570. Peta tersebut menggambarkan kawasan Asia Tenggara beserta seluruh pulau yang ada dan lokasinya masing-masing terhadap satu sama lain. Abraham Ortellius juga merupakan kartografer pertama yang berpendapat bahwa seluruh dunia bermula dari satu benua raksasa sebelum terpecah menjadi sedemikian rupa. Karena minimnya informasi yang didapatkannya dari para penjelajah, dia membuat Pulau Jawa seakan berbentuk bulat dengan garis pantai selatan yang cembung membesar melebihi wilayah Pulau Jawa seperti yang dikenal kini. Selain itu, luas Pulau Jawa dalam peta tersebut bahkan 2 kali lipat lebih besar dari Pulau Kalimantan.

Lain lagi dengan peta Asia Tenggara bikinan kartografer Willem Lodewijcksz yang terbit pada tahun 1598. Peta tersebut menampilkan Pulau Jawa yang nampak tidak utuh karena sisi selatan yang terpotong bingkai peta bagian bawah. Hal tersebut nampaknya disengaja oleh si pembuat peta, lagi-lagi karena aspek misterius Pulau Jawa yang masih belum benar-benar diketahui wujud aslinya. Demikian juga dengan banyak kartografer lainnya yang termakan simpang siur mengenai wujud asli dari Pulau Jawa yang digambarkan oleh para penjelajah dunia. Para petualang asal Eropa memiliki versi mereka masing-masing mengenai penjelajahan ke dunia timur, termasuk tentang eksotisme Hindia Belanda yang belum sepenuhnya terkuak saat itu. 

Begini Wujud Pulau Jawa Saat Abad Ke-16 | Breaktime
Peta Jawa di abad ke-16 Masehi masih misterius (Google)
Baca Juga Artikel :
Berita Terbaru
Sosok Wanita Indonesia, Pelatih Skydiving Dunia

Ialah Marco Polo, seorang penjelajah ulung asal Venesia yang kerap dijadikan referensi para kartografer dalam menyusun peta dunia. Perjalanannya ke Asia Tenggara di Abad 13 menambahkan satu lagi unsur misteri dalam wujud Pulau jawa yang menurutnya merupakan pulau terbesar di dunia. Hal tersebut tentunya adalah gambaran paling absurd yang melingkupi eksistensi Pulau Jawa. Sayangnya, pernyataan Marco Polo yang meragukan itu juga diamini oleh para pelaut kelas dunia lainnya sehingga para kartografer pun serta-merta merujuk dalam gambaran tersebut untuk menuangkan wujud Pulau Jawa ke dalam peta mereka.

Sebelum memasuki era penjajahan Belanda, bangsa Portugis telah terlebih dahulu menyambangi Nusantara dan menyusun persepsi mereka sendiri mengenai Pulau Jawa. Para penghuni Pulau Jawa kuno menuturkan bahwa sisi utara dan selatan pulau tersebut dibatasi oleh gugusan gunung yang memanjang dari ujung barat ke ujung timur. Topografi semacam itu rupanya menghentikan alur komunikasi dari pantai utara ke pantai selatan. Dampaknya, para pelaut Portugis mengurungkan diri untuk melanjutkan penjelajahan ke sisi selatan Pulau Jawa.

Baca Juga Artikel :
Berita Terbaru
Penggalian Ulang Makam Tokoh-tokoh Ternama Dunia

Hingga pada tahun 1580, misteri Pulau Jawa mulai terkuak ketika pelaut Francis Drake yang juga merupakan politikus asal Inggris mendaratkan kapalnya di pesisir selatan Jawa usai berkeliling dunia selama 3 tahun sebelumnya. Cilacap diduga merupakan kota pesisir di tepi selatan Pulau Jawa yang jadi lokasi kru kapal Francis Drake untuk membuang sauh seusai berlayar melintasi Kepulauan Maluku dan celah Timor. Hasil ekspedisi tersebut kemudian menginspirasi peta berjudul Insulæ Indiæ Orientalis karya kartografer Jodocus Hondius yang terbit pada tahun 1606. Meski sepanjang garis pantai selatan Pulau Jawa digambarkan dengan garis putus-putus, peta tersebut juga menyisakan garis tegas yang meliuk mengelilingi bentuk teluk dan berbagai kawasan pelabuhan.

Peta tersebut kemudian menjadi akhir dari misteri wujud Pulau Jawa dalam peta dunia di abad ke-16 Masehi. Pulau yang dikenal juga oleh para penjelajah dunia sebagai Java Major tersebut kemudian mulai digambarkan semakin jelas dan utuh oleh para kartografer setelahnya. (dee)



artikel kompilasi
related img
LIVE
YOUR LIFE
related img
LIVE
YOUR LIFE
related img
LIVE
YOUR LIFE