Asal Mula Kolak, Si Manis Pulau Jawa | Breaktime
Asal Mula Kolak, Si Manis Pulau Jawa
22.06.2017

Di bulan Ramadhan, salah satu tradisi yang menghiasi bulan istimewa bagi umat muslim adalah adanya ta’jil. Ta’jil adalah kegiatan menyelesaikan atau membatalkan puasa dengan menyantap suatu makanan atau pun minum. Pada umumnya, orang akan berbuka puasa dengan makan kurma dan minum air putih.

Tapi, lain negara Arab dan sekitarnya, lain pula Indonesia. Beragamnya kuliner dari Sabang hingga Merauke membuat takjil atau bukaan orang puasa menjadi lebih istimewa. Kok, bisa begitu? Makanan Indonesia yang bermacam-macam lah yang mendorong masyarakat untuk berbuka dengan makanan khas Indonesia itu sendiri. Memang sebagian orang masih menyantap kurma karena hukumnya sunnah. Tapi, lebih banyak lagi orang yang lebih memilih berbuka dengan kue tradisional atau pun gorengan.

Baca Juga Artikel :
Berita Terbaru
Sudah Tahukah Sejarah dan Asal Usul Nama Pempek?

Pasar-pasar Ramadhan didirikan agar lebih terpusat agar penjual lebih mudah mendapat pembeli dan pembeli lebih leluasa memilih makanan. Banyaknya makanan dan minuman yang dijual sering kali bikin bingung ya, B’Timers.

Di antara banyaknya menu yang dijual, ada makanan-makanan tertentu yang menjadi spesial di bulan Ramadhan dan hanya ada pada bulan tersebut sehingga banyak diburu orang. Salah satunya kolak. Makanan ini berasal dari daratan Jawa yang berisikan pisang yang sudah dipotong-potong dan dimasak dengan kuah santan yang ditambah dengan gula merah. Perpaduan rasa manis dan gurih yang pas sekaligus sensasi segar yang didapat menjadikan makanan ini banyak dijual di bulan Ramadhan dan diburu pembeli.

Bicara tentang kolak, ternyata makanan yang satu ini punya sejarahnya juga lho, B’Timers.  Berawal pada zaman penyebaran awal agama Islam dulu di pulau Jawa yang dilakukan oleh para Walisongo. Mereka menyiarkan agama Islam melalui akulturasi dan asimilasi budaya salah satunya melalui makanan yakni kolak.

Baca Juga Artikel :
Berita Terbaru
Ternyata Ini Asal Mula Nama Raja Ampat!

Kata ‘kolak’ berasal dari bahan utama pembuatnya pada masa itu yakni pisang kepok. Kata ‘kepok’ ini kemudian mengalami pergeseran menjadi ‘kapok’ (bahasa jawa) yang dalam bahasa Indonesia berarti ‘bertaubat’. Selain pisang, ada juga ubi sebagai pendamping setia kolak. Ubi yang kalau dalam bahasa Jawanya disebut telo pendem atau ketela yang dipendam ini memiliki arti yaitu mengubur kesalahan yang telah diperbuat di masa lalu dan tidak akan mengulanginya lagi di masa sekarang dan masa yang akan datang. 

Asal Mula Kolak, Si Manis Pulau Jawa | Breaktime
pisang kepok

Dulu, kolak disajikan pada saat bulan Sya’ban yaitu penghubung antara bulan Rajab dengan bulan Ramadhan. Bagi orang jawa, bulan ini disebut pula sebagai bulan Ruwah atau arwah dimana orang yang masih hidup mendoakan orang yang sudah mati dan menghormatinya sekaligus mendekatkan diri kepada Allah SWT. Di bulan sya’ban, umat muslim diperintahkan untuk memperbanyak ibadah sunnah sehingga kolak hadir sebagai takjil dan berlanjut hingga bulan Ramadhan sekarang.

Baca Juga Artikel :
Berita Terbaru
Gereja Bleduk, Gereja Berkubah Unik Asal Semarang

Selain sarat makna dan filosofi, kolak disajikan dengan isian yang beragam saat ini. Ada orang yang lebih suka menggunakan campuran ketela dengan nangka, ada yang hanya menggunakan pisang, kolang-kaling, bubur mutiara, dan sebagainya. Tidak hanya di Jawa, kolak juga tersebar di pulau lain di Indonesia.

Keunikan lain dari olak adalah bisa menyesuaikan cuaca. Saat cuaca sedang panas dan Anda membutuhkan makanan yang segar sekaligus memberikan tenaga secara cepat, Anda bisa menyaikan kolak yang ditambah dengan batu es. Jika cuaca dingin, kolak bisa dikonsumsi secara hangat yang secara langsung memberikan efek menghangatkan pada tubuh Anda. Kalau B’Timers, suka kolak yang dingin atau hangat?



artikel kompilasi
related img
icon maps
BORNEO
TRAVEL GUIDE
related img
icon maps
BORNEO
TRAVEL GUIDE
related img
icon maps
BORNEO
TRAVEL GUIDE