Adat Kematian di Sabang yang Begitu Unik | Breaktime
Adat Kematian di Sabang yang Begitu Unik
25.07.2016

Terletak di ujung Indonesia, Sabang merupakan kota dengan keanekaragaman budaya dan adat yang hingga kini masih dijunjung tinggi. Memiliki total lima buah pulau, Sabang-lah titik 0 kilometer wilayah paling barat dari Indonesia. Karena letaknya cukup strategis, Kota Sabang menjadi pelabuhan penting yang dimiliki Indonesia. Dengan kelebihannya, Anda akan menemukan berbagai adat unik di Sabang. Yuk intip salah satunya, B’timers!

Adat Kematian di Sabang yang Begitu Unik | Breaktime
Tetangga datang untuk memberikan dukungan pada keluarga

Adat kematian keumunjoeng

Ketika ada seorang yang meninggal dunia, tentu adalah hal yang wajar untuk mengunjungi rumah duka, bukan, B’timers? Nah, ini juga yang dilakukan oleh warga Gampong. Hal tersebut merupakan salah satu bentuk kebersamaan untuk menunjukkan bela sungkawa. Yang unik dari adat kematian ini adalah, tuan rumah akan menyediakan beberapa ember kecil berisi beras.

Ada tujuan yang tersembunyi dari kebiasaan ini, lho, B’timers. Para tamu bisa langsung memasukkan uang sedekahnya ke dalam ember tersebut dan tidak perlu mengganggu tuan rumah. Selain itu, setelah jenazah dikuburkan, barulah tamu yang datang diperbolehkan untuk pulang. Setelah melangsungkan sholat magrib, akan diadakan samadiah oleh kaum bapak, B’timers.

Adat Kematian di Sabang yang Begitu Unik | Breaktime
Khanduri atau kenduri dalam budaya Jawa

Adat kematian khanduri

Biasanya pada awal hari meninggal, tidak diadakan acara besar di rumah mendiang. Hanya pada malam ketiga, biasanya diadakan pembacaan doa yang dilakukan oleh orang tua Gamong. Setelah pembacaan doa usai, para tamu yang datang akan dibawakan sedikit makanan berupa nasi, lengkap dengan lauk pauknya, B’timers. Hal yang sama akan dilakukan pada malam kelima.

Nah, pada hari ketujuh, keluarga mendiang akan mengadakan kenduri. Tapi jangan bayangkan ini adalah acara besar, lho, B’timers. Mereka hanya akan mengundang beberapa orang warga dan saudara untuk makan bersama di rumah. Di malam harinya akan dilanjutkan dengan pembacaan doa yang dipimpin oleh tokoh besar agama setempat. Tidak jarang acara akan dilanjutkan dengan pembacaan Al-Quran.

Baru pada hari kesepuluh, akan diadakan kenduri besar-besaran, B’timers. Akan ada pemotongan hewan dan seluruh warga masyarakat, sanak saudara dan teman akan hadir dalam acara ini. Inilah acara terbesar yang dilakukan pihak keluarga mendiang. Meskipun ada pembacaan doa setelah hari kesepuluh, itu hanya acara kecil, B’timers.

Cerita di balik adat kematian di Sabang tentu tidak terlepas dari masuknya agama Islam dengan mudah melalui jalur laut, B’timers. (NO)

Share This Article