Ada Banyak Tradisi Lebaran, Begini Sejarahnya! | Breaktime
Ada Banyak Tradisi Lebaran, Begini Sejarahnya!
20.06.2017

Tidak terasa Lebaran didepan mata ya B’timers. Sebagai orang Indonesia kita mempunyai kebiasaan tersendiri ketika Lebaran tiba. Tiga kebiasaan yang sering ditemui adalah mengenakan baju baru, melakukan halal bihalal, dan makan ketupat. Namun pernahkah kita bertanya – tanya darimana kebiasaan itu berasal. Berikut adalah sejarah asal usul dari tiga kebiasaan yang selalu dilakukan saat Lebaran.

Sejarah memakai baju Lebaran, ternyata dimulai sejak tahun 1596. Dalam buku Sejarah Nasional Indonesia tulisan Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto dijelaskan, ketika menyambut Lebaran, mayoritas penduduk di bawah kerajaan Banten sibuk menyiapkan baju baru.

Baca Juga Artikel :
Berita Terbaru
Hampir Lebaran, Begini Cara Atasi Arus Mudik

Namun yang membedakan waktu itu, hanya sedikit masyarakat yang membeli baju baru. Mayoritas dari mereka justru menjahit sendiri. Hal ini lantaran masih terbatasnya teknologi waktu itu. Hanya kalangan ningrat yang memiliki akses luas mendapatkan baju bagus untuk Lebaran.

Digambarkan suasana Banten waktu itu ketika menyambut Lebaran sangat ramai, berbeda dari hari-hari biasanya. Mayoritas penduduk yang berprofesi sebagai petani, ramai-ramai berubah menjadi tukang jahit dadakan. Pada malam hari, sepanjang jalanan dipenuhi oleh cahaya obor yang menghiasi tiap sisi perkampungan mereka.

Hal tersebut juga terjadi di kerajaan Mataram (Yogyakarta). Memasuki hari terakhir Ramadan, orang-orang Muslim Mataram sibuk membuat pakaian baru untuk dipakai pada hari raya. Namun memang dalam ajaran Islam sendiri, umatnya disunnahkan untuk menggunakan baju baru saat Lebaran, karena makna Lebaran sendiri adalah kembali ke fitrah.

Eits, selain tradisi memakai baju baru, ada juga tradisi lain yang dilakukan oleh masyarakat Indonesi, yaitu halal bi halal. Pada tahun 1948, yaitu di pertengahan bulan Ramadan, Bung Karno memanggil KH. Wahab Chasbullah ke Istana Negara, untuk dimintai pendapat dan sarannya untuk mengatasi situasi politik Indonesia yang tidak sehat. Kemudian Kyai Wahab memberi saran kepada Bung Karno untuk menyelenggarakan silaturrahmi, sebab sebentar lagi Hari Raya Idul Fitri, dimana seluruh umat Islam disunahkan bersilaturrahmi. Lalu Bung Karno menjawab, “Silaturrahmi kan biasa, saya ingin istilah yang lain”.

“Itu gampang”, kata Kyai Wahab.

Begini, para elit politik tidak mau bersatu, itu karena mereka saling menyalahkan. Saling menyalahkan itu kan dosa. Dosa itu haram. Supaya mereka tidak punya dosa (haram), maka harus dihalalkan. Mereka harus duduk dalam satu meja untuk saling memaafkan, saling menghalalkan. Sehingga silaturrahmi nanti kita pakai istilah ‘halal bi halal”, jelas Kyai Wahab. 

Ada Banyak Tradisi Lebaran, Begini Sejarahnya! | Breaktime
Salah satu tradisi Lebaran adalah makan ketupat
Baca Juga Artikel :
Berita Terbaru
Daftar Promo Paket Liburan Murah Lebaran 2017

Dari saran Kyai Wahab itulah, kemudian Bung Karno pada Hari Raya Idul Fitri saat itu, mengundang semua tokoh politik untuk datang ke Istana Negara untuk menghadiri silaturrahmi yang diberi judul ‘Halal bi Halal’ dan akhirnya mereka bisa duduk dalam satu meja, sebagai babak baru untuk menyusun kekuatan dan persatuan bangsa.

Sejak saat itulah, instansi-instansi pemerintah yang merupakan orang-orang Bung Karno menyelenggarakan halal bi halal yang kemudian diikuti juga oleh warga masyarakat secara luas, terutama masyarakat muslim di Jawa sebagai pengikut para ulama. Jadi Bung Karno bergerak lewat instansi pemerintah, sementara Kyai Wahab menggerakkan warga dari bawah.Jadilah Halal bi Halal sebagai kegaitan rutin dan budaya Indonesia saat Hari Raya Idul Fitri seperti sekarang.

Berlanjut ke tradisi membuat dan makan ketupat yang diperkirakan berasal saat Islam masuk ke tanah Jawa. Dalam sejarah, Sunan Kalijaga adalah orang yang pertama kali memperkenalkannya pada masyarakat Jawa.

Beliau membudayakan dua kali Bakda, yaitu Bakda Lebaran dan Bakda Kupat. Bakda Kupat dimulai seminggu sesudah Lebaran. Pada hari yang disebut Bakda Kupat tersebut, di tanah Jawa waktu itu hampir setiap rumah terlihat menganyam ketupat dari daun kelapa muda.

Setelah sudah selesai dimasak, kupat tersebut diantarkan ke kerabat yang lebih tua, menjadi sebuah lambang kebersamaan. Ketupat sendiri menurut para ahli memiliki beberapa arti, diantaranya adalah mencerminkan berbagai macam kesalahan manusia, dilihat dari rumitnya anyaman bungkus ketupat. Kedua, mencerminkan kebersihan dan kesucian hati setelah mohon ampun dari segala kesalahan, dilihat dari warna putih ketupat jika dibelah dua. Ketiga, mencerminkan kesempurnaan, jika dilihat dari bentuk ketupat.

Baca Juga Artikel :
Berita Terbaru
Laos Jadi Paket Liburan Murah Saat Lebaran

Semua itu dihubungkan dengan kemenangan umat Muslim setelah sebulan lamanya berpuasa dan akhirnya menginjak hari yang fitri. Rupa (jenis-jenis) Ketupat Indonesia Ketupat atau Kupat adalah hidangan khas Asia Tenggara yang dibuat dari beras. Beras ini dimasukkan ke dalam anyaman daun kelapa dan dikukus sehingga matang.

Nah, setelah menyimak semua cerita asal usul itu sekarang kita bisa paham mengenai sejarah kebiasaan yang dilakukan ketika Lebaran. Selain untuk menambah pengetahuan, hal ini juga bisa B’timers ceritakan ke sanak saudara atau teman – teman untuk berbagi informasi. Kebiasaan melakukan hal baik akan semakin bermakna jika kita mengetahui sejarahnya, bukan? (am)



artikel kompilasi
related img
LIVE
YOUR LIFE
related img
LIVE
YOUR LIFE
related img
LIVE
YOUR LIFE