Kepulauan Mergui; Pesona Surga Terakhir di Bumi | Breaktime
Kepulauan Mergui; Pesona Surga Terakhir di Bumi
21.01.2017

Bangunan tinggi dan kendaraan bermotor yang menderu. Dua pemandangan tersebut adalah pemandangan yang kian jamak ditemui di masa modern ini. Kemanapun B’timers pergi, tidak akan dengan mudah terlepas dari hiruk pikuk dunia. Bahkan ketika Anda berkunjung ke berbagai macam tempat wisata alam, tidak ada satupun dari mereka yang belum terjamah oleh tangan manusia. Di sana Anda akan dengan mudah menemukan cafe, restoran, dan hotel-hotel berbintang untuk mengakomodasi kebutuhan Anda. Hal itu tentu tidak terlalu mengejutkan, ya? Terutama jika mengingat jumlah pulau-pulau di dunia yang mulai dihuni oleh populasi manusia. Sehingga tidak mengherankan jika Anda menganggap bahwa tidak ada tempat di Bumi ini yang tidak dihuni oleh manusia modern.

Well, pendapat tersebut akan luntur dalam sekejap jika B’timers telah mengunjungi Kepulauan Mergui di Myanmar. Gugusan pulau yang disebut sebagai salah satu dari The Last Paradise ini memiliki pemandangan lautan dan pantai yang sangat indah serta sangat terpencil. Maksud dari kata “terpencil” adalah benar-benar terpencil! Anda tidak akan menemukan satu orang pun yang tinggal di kepulauan tersebut. Anda juga tidak akan menemukan hotel-hotel berbintang, restoran, cafe atau jalan beraspal. Bahkan jika Anda mengetik Kepulauan Mergui di Google Maps, Anda tidak akan menemukannya karena kepulauan ini memang tidak terdaftar di search engine tersebut. Wow!

Sebaliknya yang Anda temukan adalah pepohonan mangrove yang sangat lebat membentuk hutan rimba dan dilindungi oleh gugusan batu karang yang tangguh memagari kepulauan mungil tersebut. Selain menjadi habitat asli bagi pepohonan mangrove, Kepulauan Mergui juga menjadi hunian bagi berbagai satwa lokal yang hidup di darat maupun di laut. 

Kepulauan Mergui; Pesona Surga Terakhir di Bumi | Breaktime
Pemandangan yang sangat indah dari Kepulauan Mergui

Anda dapat menikmati keindahan terumbu karang berwarna-warni yang tumbuh di dasar laut. Berbagai macam spesies ikan, mulai dari ikan-ikan kecil beraneka warna, hingga hiu pari dan ikan duyung (dugong) berenang dengan bebas di dalam lautan yang masih sangat jernih ini. Pulau Lampi yang merupakan salah satu pulau dari Kepulauan Mergui ini merupakan salah satu dari Taman Nasional Myanmar, sehingga segala macam flora dan fauna yang ada di pulau tersebut dilindungi oleh pemerintah.

Selain itu, Anda juga dapat berjumpa dan berinteraksi dengan suku asli yang telah berabad-abad menghuni kepulauan Mergui. Suku Moken, atau yang juga dikenal dengan Suku Gipsi Laut (Sea Gypsies) adalah suku asli dengan populasi di bawah 3000 orang. Eits, jika Anda berpikiran bahwa suku ini barbar dan gemar menyerang orang luar, that’s really wrong idea! Sebaliknya, suku Moken dikenal sebagai salah satu suku berkepribadian pemalu namun sangat ramah.

Suku ini dalam kesehariannya berinteraksi dengan lautan, sehingga tidak mengherankan jika mereka memiliki insting memahami bahasa lautan yang sangat baik, bahkan jauh lebih baik dibandingkan dengan manusia perkotaan.

Ingatkah Anda dengan tragedi tsunami di bulan Desember tahun 2004 yang memakan banyak ratusan ribu nyawa? Penduduk yang tinggal di kepulauan ini pun tidak terlepas dari imbasnya. Namun, mereka dapat menghindari jatuhnya korban jiwa karena mereka bergegas pindah ke dataran yang lebih tinggi beberapa saat sebelum ombak tsunami melanda. Dan tentu saja, mereka sama sekali tidak menggunakan peralatan modern apapun. Keren, kan?

B’Timers, apakah Anda ingin mencoba mengunjungi pulau terpencil ini? Maka bersiap-siaplah untuk menghadapi berbagai macam regulasi yang ketat, mengingat kepulauan ini baru dibuka sebagai sarana wisata pada tahun 1997. Selain itu mengingat statusnya sebagai cagar alam tentunya tidak mengherankan, ya? (dkp)



artikel kompilasi
related img
icon maps
PAPUA
TRAVEL GUIDE
related img
icon maps
PAPUA
TRAVEL GUIDE
related img
icon maps
PAPUA
TRAVEL GUIDE