Uniknya Kampung Cia-Cia, Koreanya Indonesia | Breaktime
Uniknya Kampung Cia-Cia, Koreanya Indonesia
23.09.2016

Demam Korea di Indonesia tidak hanya ditunjukkan dengan munculnya boyband/girlband dan kuliner khas Korea saja, tetapi ternyata tahukah Anda bahwa di Indonesia ada Kampung Korea, lho! Terletak di Pulau Buton Sulawesi Tenggara yang dihuni oleh etnis Cia-Cia memiliki keunikan sendiri.

Kota Bau-Bau menjadi sangat Korea, lho B’timers. Hal itu ditunjukkan dengan nama jalan yang ditulis dengan huruf Hangeul. Tidak hanya itu, nama sekolah di kota ini juga ditulis dengan huruf Korea.

Sejarah berdirinya Kampung Korea

Ada beberapa kebudayaan dan bahasa Cia-cia yang mirip dengan Korea. Keunikan tersebut membuat seorang Professor Korea tertarik pada daerah ini, khususnya etnis Cia-cia. Para antropolog Korea mulai meneliti lebih dalam apa yang menyebabkan Cia-cia mirip dan bahkan sama dengan Korea.

Hingga saat ini belum ada kesimpulan resmi dari peneliti Korea tentang kemiripan budaya dan bahasa. Namun, dari situ terjadi kerjasama antara Cia-cia dan Korea seperti pertukaran pelajar, pertukaran guru, penelitian, dan pertukaran budaya.

Uniknya Kampung Cia-Cia, Koreanya Indonesia | Breaktime
Salah satu SD di Bau-Bau yang menggunakan bahasa Korea

Bahkan sejak di bangku SD, anak-anak di Bau-Bau diberikan pelajaran tentang bahasa Korea. Mereka juga sangat fasih untuk mengerti dasar-dasar bahasa Korea. Meskipun begitu, bahasa lisan untuk sehari-hari, etnis Cia-cia tetap menggunakan bahasa Indonesia.

Oh, iya, selain kemiripan bahasa dan budaya, kampung Cia-cia ini juga memiliki peinggalan-peninggalan tradisional yang sama dengan properti di Negara Korea, lho. Aneh sekali, ya B’timers. Bau-bau memiliki kekayaan bahasa yang luar biasa, yaitu mencapai 90 bahasa.

Hal itulah yang membuat Kota Bau-bau menjadi sangat terkenal di dunia, khususnya di Korea. Banyak media internasional yang meliput aktivitas dan keunikan di Cia-cia ini.

Memang unik sekali, ya B’timers. Namun meskipun begitu, semoga saja masyarakat Bau-bau tidak melupakan bahasa dan budaya aslinya, ya. (vpd)

Share This Article