Tambang Belerang Tradisional dan Fenomena “Blue Fire” di Kawah Ijen | Breaktime
Tambang Belerang Tradisional dan Fenomena “Blue Fire” di Kawah Ijen
06.03.2015

Bagi B’timers penggemar wisata pegunungan, belum lengkap ke Jawa Timur kalau belum mendaki Kawah Ijen. Destinasi ini berada di Gunung Ijen yang berlokasi di wilayah tiga kabupaten, yakni Situbondo, Bondowoso dan Banyuwangi.

Kawah Ijen merupakan pusat dari Gunung Ijen yang masih aktif hingga sekarang. Menurut catatan sejarah, gunung berapi ini pernah empat kali meletus hebat, yaitu di tahun 1796, 1817, 1913 dan 1936.

Kawah Ijen sendiri tercatat sebagai danau kawah terbesar di dunia, dengan produksi 36 juta meter kubik belerang dan hidrogen klorida dengan luas sekitar 5.466 hektar. Meski berbahaya, Kawah Ijen menyimpan keindahan yang luar biasa berupa danau belerang berwarna hijau. Danau Ijen memiliki derajat keasaman nol dan memiliki kedalaman 200 meter.

Tambang Belerang Tradisional dan Fenomena “Blue Fire” di Kawah Ijen

Di kawasan gunung berapi ini terdapat tambang belerang tradisional. Pendaki bisa menyaksikan dan bertemu para penambang yang hilir mudik menyusuri jalanan yang curam dan membawa tumpukan belerang dengan berat hingga 70 kg.

Fenomena alam yang jadi ciri khas Kawah Ijen adalah blue fire alias api biru. Konon fenomena api biru yang muncul dari kawah gunung berapi ini hanya ada dua di dunia, yaitu di Kawah Ijen dan Gunung Api Islandia.

Tambang Belerang Tradisional dan Fenomena “Blue Fire” di Kawah Ijen

Agar B’timers bisa menyaksikan langsung fenomena api biru di Kawah Ijen ini, waktu terbaiknya adalah dini hari hingga sunrise. Api biru akan menghilang dengan sendirinya saat matahari terbit dan cuaca mulai terang. Pengunjung biasanya mulai melakukan pendakian dari pos Paltuding sekitar jam 2 dini hari.

Kondisi jalan menuju puncak Kawah Ijen saat malam hari sangat gelap, karena itu pendaki wajib membawa lampu senter. Selain itu cuaca dini hari yang dingin, lembab, dan basah juga menuntut pengunjung berada dalam kondisi fit dan mempersiapkan diri dengan jaket pelindung atau windbreaker. Jangan lupa membawa masker untuk menghindari gas beracun saat berada di area Kawah Ijen.

Tambang Belerang Tradisional dan Fenomena “Blue Fire” di Kawah Ijen

Waktu terbaik untuk berkunjung ke Kawah Ijen adalah musim kemarau, antara Juni sampai September. Saat musim hujan kondisi jalur trekking cukup licin dan berbahaya. Selain itu mendung dan kabut di pagi hari akan mengurangi keindahan pemandangan di puncak Kawah Ijen.

Karena aktivitas menuju Kawah Ijen banyak dilakukan malam dan dini hari, pengunjung sebaiknya menginap terlebih dulu di kawasan ini. Ada beberapa lokasi penginapan yang tersedi, seperti Paltuding, guest house Perkebunan Belawan dan Jampit, serta penginapan Arabica.

Tambang Belerang Tradisional dan Fenomena “Blue Fire” di Kawah Ijen

How to get There?

Kawah Ijen bisa diakses melalui dua jalur, yakni dari arah Banyuwangi dan arah Situbondo. Bila mengambil jalur Banyuwangi, B;timers harus menempuh waktu sekitar 2 jam perjalanan dengan rute Banyuwangi - Licin - Paltuding.

Jalur Situbondo ditempuh dengan jarak dan waktu lebih panjang. Jalur yang dilalui adalah Situbondo - Bondowoso - Wonosari - Paltuding, kurang lebih 3 jam. Perjalanan Surabaya ke Situbondo sendiri dalam kondisi normal ditempuh dalam waktu kurang lebih 4 jam, sehingga total butuh waktu 6-7 jam dari Surabaya hingga Pos Paltuding Kawah Ijen.

Share This Article