Monumen Pers Nasional: Sejarah Masih Bertahan | Breaktime
Monumen Pers Nasional: Sejarah Masih Bertahan
09.02.2017

Tepat hari ini, 9 Februari 2017 bertepatan dengan Hari Pers Nasional. Selain adanya pers Indonesia, ternyata pemerintah juga sangat menghargai kerja para pejuang pers dengan membangun sebuah Monumen Pers Nasional yang berada di kota Solo. Monumen letaknya berada di Jalan Gajah Mada No. 59, Surakarta, Jawa Tengah.

Untuk sampai di lokasi monumen atau bisa juga dibilang dengan museum ini sangat mudah. B’timers bisa menggunakan kendaraan pribadi ataupun kendaraan umum. Kalau dari Yogyakarta, Anda bisa menggunakan bus jurusan Solo, lalu berhenti di Jalan Kerten dan dilanjutkan dengan minibus ke arah Jalan Gajah Mada. Atau Anda bisa juga naik kereta api Pramex dan turun di Stasiun Balapan.

Monumen Pers Nasional ini menyimpan berbagai barang dan peninggalan yang berhubungan dengan pers tentunya. Salah satu koleksi yang dimiliki adalah peninggalan Mangkunegara VII yang merupakan Koran-koran terbitan jaman kolonial Belanda, Jepang, masa revolusi, Orde Lama, Orde Baru, dan reformasi. Bahkan koran-koran terbitan wilayah pelosok Indonesia juga ada di sana.

Monumen Pers Nasional: Sejarah Masih Bertahan | Breaktime
Salah satu koleksi antik Monumen Pers Nasional. (Photo by Google)

Tak hanya mengkoleksi barang-barang nyata, museum ini juga punya dokumentasi film tentang sejarah berdirinya Monumen Pers Nasional dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.

Nah, kalau soal sejarah berdirinya museum ini sangat panjang B’timers. Bangunannya juga sudah mengalami pembaruan. Gedungnya dibangun pada tahun 1918 atas perintah Mangkunegara VII yang merupakan seorang Pangeran Surakarta. Monumen Pers Nasional ini dulunya bernama “Societeit Sasana Soeka”. Monumen ini adalah hasil rancangan Mas Abu Kasan Atmodirono.

Pada tanggal 9 Februari 1956, tepatnya dalam acara perayaan 10 tahun PWI, tiga orang wartawan yang bernama Rosihan Anwar, B.M. Diah, dan S. Tahsin memiliki ide untuk mendirikan sebuah yayasan yang akan menaungi Monumen Pers Nasional tersebut. Akhirnya ide tersebut terlaksana pada 22 Mei 1956. Namun, museum ini baru resmi dibuka pada 9 Februari 1978

Hingga sampai saat ini, Monumen Pers Nasional jadi tempat wisata sejarah ataupun wisata pendidikan. Namun, karena beberapa tempat tidak terawat dengan baik, maka pengunjung yang datang ke sana juga semakin sedikit. Tidak adanya pemasukan untuk merawat museum ini yang membuat museum ini hampir saja ditutup.

Monumen Pers Nasional: Sejarah Masih Bertahan | Breaktime
Pahatan kepala tokoh sejarah pers Indonesia. (Photo by Google)

Namun, para pengelola museum dan juga yayasan yang telah didirikan untuk menaungi tempat ini tak kehabisan akal untuk kembali menarik minat pengunjung berwisata dan menyempatkan diri sejenak mengunjungi monumen ini, mereka mengadakan perlombaan yang berhubungan dengan Monumen Pers Nasional.

Salah satu yang paling sering dilakukan adalah dengan mengadakan lomba fotografi. Tak hanya itu, mereka juga mengadakan pameran keliling ke sejumlah kota tetangga seperti Jogja dan Magelang. Nyatanya sampai saat ini Monumen Pers Nasional bisa bertahan dengan kolek-koleksi lawasnya yang keren-keren banget, B’timers.

Bahkan di bagian depan museum juga terdapat patung-patung kepala tokoh sejarah jurnalisme Indonesia, antara lain Tirto Adhi Soerjo, Djamaludin, Adinegoro, Sam Ratulangi, dan Ernest Douwes Dekker. Bahkan, monumen ini juga punya koleksi artefak milik jurnalisme dari berbagai negara.

Keren banget, deh pokoknya! Sayang kalau Anda liburan ke Solo tidak menyempatkan diri datang ke Monumen Pers Nasional. Jadi, kalau bisa luangkan waktu untuk mengenal sejarah pers Indonesia di sana. Selamat Hari Pers Nasional untuk insane-insan pers di luar sana! (vpd)



artikel kompilasi
related img
icon maps
PAPUA
TRAVEL GUIDE
related img
icon maps
PAPUA
TRAVEL GUIDE
related img
icon maps
PAPUA
TRAVEL GUIDE