Mengintip Kehidupan Asli Suku Sasak Lombok di Desa Adat Sade | Breaktime
Mengintip Kehidupan Asli Suku Sasak Lombok di Desa Adat Sade
10.04.2015

Indonesia dikenal memiliki keragaman budaya yang sangat unik. Salah satunya di Pulau Lombok, yakni Desa Adat Sasak Sade yang tetap mempertahankan budaya leluhur secara turun temurun tanpa terpengaruh arus modernisasi.

Menurut catatan sejarah, suku Sasak yang merupakan penduduk asli Lombok ini berasal dari keturunan Austronesia yang diperkirakan bermigrasi ke Asia Tenggara pada tahun 5.000 SM. Karena lokasinya yang bertetangga dengan Pulau Bali, suku Sasak Lombok memiliki kebudayaan yang hampir sama dengan penduduk Bali. Bedanya, mayoritas suku Sasak Lombok merupakan pemeluk agama Islam. Tak heran, Lombok sendiri disebut juga sebagai Pulau Seribu Masjid.

Islam yang dipeluk oleh suku Sasak merupakan asimilasi antara kepercayaan Islam dengan Hindu, Budha, dan kepercayaan tradisional animisme-dinamisme, atau sering disebut sebagai Islam Wektu Telu. Suku Sasak sendiri saat ini mendominasi sekitar 85% jumlah penduduk Lombok.

Salah satu bagian rumah adat Sasak Sade
Salah satu bagian rumah adat Sasak Sade

Sebagian besar masyarakat Sasak Sade berprofesi sebagai petani dan peternak, sementara para perempuan menenun kain khas Lombok. Perempuan Sasak diwajibkan bisa menenun kain. Di desa wisata Sade ini pun kita bisa belajar menenun kain tenun khas Lombok dengan peralatan yang masih asli, mulai dari benang dan alat penenunnya.

Keunikan lain dari desa adat Sade adalah bentuk rumah khas suku Sasak yang terbuat dari kayu dan beratap alang-alang. Rumah adat ini disebut dengan Bale Tani. Bangunannya terdiri dari tiga bagian, yaitu ruang tamu atau Berugak, bagian dalam yang disebut Bale Dalam dan Bale Luar, serta lumbung padi di bagian dalam yang disebu Bale Lumbung.

Mengintip Kehidupan Asli Suku Sasak Lombok di Desa Adat Sade

Rumah-rumah adat suku Sasak di desa adat Sade ini masih sangat tradisional dan unik. Lantainya yang terbuat dari tanah liat, dibersihkan dengan kotoran sapi tanpa meninggalkan bekas maupun bau. Tarian dan musik khas Sasak juga masih terjaga di desa ini, seperti Bau Nyale dan Paresean.

Sebelum perayaan Bau Nyale, biasanya digelar beberapa kesenian dan acara tradisional seperti betandak (berbalas pantun), bejambik (pemberian cendera mata kepada kekasih), dan Belancaran (pesiar dengan perahu). Festival ini sudah menjadi agenda tahunan pariwisata Lombok dan mampu menarik wisatawan lokal maupun asing.

Mengintip Kehidupan Asli Suku Sasak Lombok di Desa Adat Sade

Paresehan merupakan pertarungan adat dua pria dengan senjata rotan dan perisai dari kulit sapi. Paresean ini hampir mirip dengan Perang Pandan yang ada di Desa Tenganan, Bali. Paresehan menjadi bukti bahwa masyarakat adat Lombok masih memegang teguh kebudayaan nenek moyang dan gotong royong.

How to get there

Tidak sulit menemukan lokasi Desa Adat Sade karena terletak di tepi jalan utama Lombok Selatan. Dari arah bandara Internasional Lombok, B’timers tinggal mengikuti jalan menuju Pantai Kuta dan akan menemukan petunjuk jalan menuju Desa Sade. Sesampainya di pintu masuk desa ini, Anda akan ditemani seorang guide yang menjelaskan secara detail tentang sejarah, kehidupan sehari-hari, dan hal-hal unik lainnya tentang masyarakat desa adat Sade.

Mengunjungi Desa Sade membuat Anda makin mengenal budaya asli Suku Sasak di Lombok, yang merupakan bagian dari keragaman budaya Indonesia yang harus dijaga dan dilestarikan.

Share This Article