Desa Adat Waerebo, Unik dan Alami di Balik Puncak Pegunungan Flores | Breaktime
Desa Adat Waerebo, Unik dan Alami di Balik Puncak Pegunungan Flores
20.04.2015

Pulau Flores di Nusa Tenggara Timur terkenal dengan keindahan alamnya. Bukan hanya pantai berwarna pink, danau tiga warna, atau pulau-pulau cantik di gugusan kepulauan Taman Nasional Komodo, tapi juga kebudayaan asli yang tersembunyi dibalik lebatnya hutan di pegunungan Manggarai.

Adalah desa adat Waerebo yang terletak di ketinggian 1100 meter di atas permukaan laut. Desa yang terletak di lembah Gunung Curunumbe ini memang unik dan terjaga keasliannya, tak heran bila Desa Waerebo meraih Award of Excellence dari Asia-Pacific Awards for Cultural Heritage UNESCO.

Secara administratif, Waerebo berada di wilayah Desa Satar Lenda, Kecamatan Satar Mese Barat, Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Salah satu keunikan Waerebo yang masih dilestarikan hingga kini adalah bangunan rumah adat yang disebut Mbaru Niang. Karena keunikannya, rumah adat yang terbuat dari kayu setinggi 15 meter ini juga masuk daftar UNESCO sebagai situs Warisan Budaya Dunia.

Desa Adat Waerebo, Unik dan Alami di Balik Puncak Pegunungan Flores

Untuk mencapai desa adat Waerebo, B’timers harus trekking sejauh kurang lebih 9 kilometer. Bila berjalan normal, jarak tersebut bisa ditempuh dalam waktu tiga jam. Perlu tenaga ekstra untuk menuju Waerebo mengingat medan yang berbatu, melewati sungai, bibir jurang, dan tanah liat yang licin saat musim hujan.

Sebelum mulai trekking, Anda bisa transit di desa Denge. Ada beberapa penginapan di kawasan ini. Traveler bisa menitipkan barang bawaan atau sekedar mandi dan sarapan atau makan siang. Waktu terbaik untuk mendaki Waerebo adalah pagi atau sore. Trekking pagi untuk one-day trip, sedangkan trekking sore bisa jadi opsi bila ingin menginap di Waerebo.

Selama trekking, Anda akan dipandu oleh guide yang merupakan penduduk asli desa Denge atau Waerebo. Dari guide ini Anda bisa banyak tahu informasi tentang sejarah, budaya, dan perkembangan desa Waerebo. Guide juga akan mengingatkan bila akan melewati rute yang terjal, licin, atau rawan longsor.

Saat tiba di desa Waerebo, Anda akan disabut oleh upacara adat sederhana yang dipimpin langsung oleh tiga kepala adat. Upacara adat bernama Waelu ini dimaksudkan untuk meminta ijin pada leluhur agar menerima kehadiran sebagai tamu, menjaga selama di Waerebo, hingga nantinya pulang kembali ke tempat asal.

Selama menginap di Waerebo, B’timers akan menghuni Mbaru Niang, sebuah rumah adat yang terbuat dari kayu dan bisa menampung 6 sampai 8 keluarga. Rumah adat ini terdiri dari beberapa tingkatan lantai. Lantai pertama disebut lutur yang digunakan untuk melakukan aktivitas sehari-hari, termasuk menerima tamu.

Desa Adat Waerebo, Unik dan Alami di Balik Puncak Pegunungan Flores

Lantai ke dua disebut lobo sebagai tempat menyimpan bahan makanan atau gudang. Lantai ke tiga disebut lentar, untuk menyimpan benih tanaman. Lantai empat disebut rae, sebagai tempat menyimpan stok hasil panen. Sedangkan lantai paling atas adalah lantai puncak sebagai tempat sesajian.

Kopi, jeruk, dan coklat adalah komoditas perkebunan penduduk Waerebo. Anda bisa membeli jeruk segar dan kopi bubuk dalam kemasan. Selain itu beberapa warga juga menjual kain tenun khas Waerebo yang bisa kita dapatkan dengan harga Rp 100 sampai 300 ribu.

Saat pagi, Anda bisa berkumpul dan bermain dengan anak-anak Waerebo. Menyaksikan aktivitas pagi warga yang beternak, atau menuju ladang kopi dan jeruk. Sementara itu pada awal pekan, anak-anak Waerebo harus berjalan kaki sekitar 8 kilometer untuk menuju sekolah.

Suasana Waerebo yang tenang, nyaman, dan damai membuat B’timers tak sulit untuk langsung jatuh cinta dengan desa adat di puncak perbukitan ini. Keindahan alam dan keramahan penduduknya seperti memberi gambaran wujud asli keunikan dan keindahan bumi Flores.

Share This Article