Desa Adat Rende, Menjaga Tradisi Tanpa Tergerus Modernisasi | Breaktime
Desa Adat Rende, Menjaga Tradisi Tanpa Tergerus Modernisasi
09.06.2015
"Rinduku pada Sumba adalah rindu padang-padang terbuka. Dimana matahari membusur api di atas sana. Rinduku pada Sumba adalah rindu peternak perjaka. Bilamana peluh dan tenaga tanpa dihitung harga."

Penggalan puisi "Beri Daku Sumba" karya Taufik Ismail di atas seolah menjadi gambaran sederhana bagaimana kondisi alam Pulau Sumba. Lembah membentang di antara bukit dan padang savana, beserta gerombolan kuda dan hewan ternak sapi dan kerbau.
 
Jauh di tepi padang savana Sumba, terdapat beberapa bangunan yang atapnya tinggi menjulang terbuat dari rumbai. Rumah-rumah itu berkumpul di suatu tempat, membentuk sebuah perkampungan adat.

Desa Adat Rende, Menjaga Tradisi Tanpa Tergerus Modernisasi

Di Sumba, kita akan mudah menemukan beberapa kampung atau desa adat yang masih terjaga kelestarian budaya dan adatnya hingga sekarang. Seolah tak tersentuh oleh kemajuan teknologi dan derasnya arus informasi di perkotaan dan ibu kota.
 
Salah satu desa adat yang bisa kita kunjungi di Sumba adalah Rende, terletak sekitar satu jam perjalanan dari pusat kota Waingapu, Sumba Timur. Sebuah desa adat yang masih sangat alami, terletak di tengah-tengah padang rumput dan perbukitan rendah khas alam Sumba.

Desa Adat Rende, Menjaga Tradisi Tanpa Tergerus Modernisasi

Memasuki area desa adat, kita akan disambut oleh seorang lelaki setengah baya yang sehari-hari bertugas menyambut tamu seraya menyerahkan sebuah buku tamu. Tampak dari isian buku tamu, sudah banyak wisatawan domestik dan mancanegara yang berkunjung ke desa adat ini. Tak lupa, sediakan uang secukupnya sebagai donasi.
 
Pada bangunan utama yang terbuat dari kayu tersebut, kita bisa melihat beberapa gantungan kain tenun khas Sumba, lengkap dengan dua buah mesin tenun yang sehari-hari dipakai untuk membuat hasil kerajinan yang nilainya sangat berharga bagi warga Sumba. Untuk membuat satu buah kain tenun berukuran sekitar enam kali empat meter bisa menghabiskan waktu antara tiga sampai enam bulan.

Desa Adat Rende, Menjaga Tradisi Tanpa Tergerus Modernisasi

Beranjak dari bangunan utama, terdapat sebuah rumah kayu yang tampak sudah berusia tua. Sepintas, tak ada beda antara rumah kayu ini dengan rumah-rumah lainnya di desa adat Rende. Namun rumah ini tidak berfungsi sebagai tempat tinggal, melainkan tempat menyimpan mayat keluarga yang telah meninggal. Menurut cerita warga Rende, terdapat tiga mayat yang diawetkan di rumah tersebut. Dua di antaranya telah diawetkan selama tiga dan tujuh tahun.
 
Tepat di depan rumah penyimpanan mayat terdapat beberapa batuan besar yang tertata rapi. Seperti halnya masyarakat Sumba lainnya, batu-batuan tersebut merupakan makam bagi masyarakat desa adat Rende. Batu-batuan tersebut telah berusia puluhan tahun namun masih terjaga rapi dan bersih hingga sekarang.

Desa Adat Rende, Menjaga Tradisi Tanpa Tergerus Modernisasi

Sekitar lima meter di seberang batuan tersebut terdapat dua rumah kayu yang merupakan tempat berkumpul warga sekaligus galeri kain tenun dan kerajinan khas Sumba. Wisatawan juga selalu mengunjungi tempat ini untuk berfoto, melihat seluk beluk di dalam rumah, serta membeli dan memakai kain tenun khas Sumba hasil karya warga desa adat Rende.

How to get there

Untuk menuju lokasi Desa Adat Rende, kita bisa menggunakan jalur transportasi umum dari Waingapu menuju Waijelo, tersedia pula bis umum dan bis Damri yang setiap hari melewati jalur ini. Tapi bila ingin menjelajahi tempat-tempat lain di sekitar Rende, pilihan terbaik adalah dengan menyewa motor atau mobil dari Waingapu.

Share This Article