Candi Cetho, Sudut Misterius Di Lereng Lawu | Breaktime
Candi Cetho, Sudut Misterius Di Lereng Lawu
02.02.2017

B’timers pasti sudah tidak asing lagi dengan Gunung Lawu. Ini adalah salah satu gunung di perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah yang sangat terkenal di kalangan para pendaki. Gunung Lawu terkenal dengan mitos-mitos dan suasana pendakian yang masih mistis. Sudah bukan rahasia lagi, kalau Gunung Lawu jadi gunung keramat di kalangan pendaki. Bahkan tak jarang Gunung Lawu juga memakan korban jiwa.

Eits, tetapi kali ini Breaktime tidak akan membahas lebih jauh tentang Gunung Lawu. Breaktime akan mengupas tentang sesuatu yang ada tepat di kaki Gunung Lawu. Bukan, bukan Telaga Sarangan. Jauh dari Telaga Sarangan, ada lagi satu tempat wisata yang berupa candi, namanya Candi Cetho.

Lebih tepatnya, Candi Cetho ini terletak di lereng Gunung Lawu di Dusun Cetho, Desa Gumeng, Kabupaten Karanganyar. Candi Cetho berada pada ketinggian 1.400 mdpl. Candi ini juga terkenal sangat misterius dan kental akan unsur mistis. Didukung dengan letaknya yang hanya bisa dijangkau dengan jalan beraspal sempit, menanjak, dan berkelok-kelok.

Candi Cetho, Sudut Misterius Di Lereng Lawu | Breaktime
Komplek Candi Cetho di ketinggian 1.400 mdpl. (Photo by Google)

Nama Cetho sendiri diambil dari nama desa tersebut yang berarti dalam bahasa Jawa adalah jelas. Lalu mengapa sebutannya desa Cetho? Ini karena di desa Cetho, para penduduknya bisa melihat pemandangan pegunungan yaitu Gunung Merbabu, Gunung Merapi, Gunung Lawu, Gunung Sindoro, dan Gunung Sumbing dengan sangat jelas. Bahkan kota Solo dan Karanganyar juga terlihat membentang dengan indahnya.

Saat ini, para peneliti baru bisa memperkirakan kalau Candi Cetho punya hubungan erat di akhir pemerintahan Kerajaan Majapahit. Ini karena sempat menjadi persinggahan dan pelarian Prabu Brawijaya V ke Gunung Lawu.

Selama perjalanan menuju candi ini, Anda akan disuguhkan pemandangan hamparan kebun teh yang cantik banget. Di tanjakan terakhir, Anda juga akan melewati sebuah pemukiman Hindu. Ketika sampai di tempat parkir candi, terlihat gapura dengan sepasang arca penjaga yang bernama Arca Nyai Gemang Arum. Anehnya, bentuk arca ini menyerupai orang Sumeria dan tidak akan ditemui di candi-candi peninggalan Majapahit lainnya.

Ketika masuk gapura, Anda akan melihat halaman yang merupakan tempat petilasan Ki Ageng Krincingwesi. Beliau adalah leluhur di desa Cetho. Di teras ketiga, Anda akan melihat susunan batu yang berbentuk kura-kura raksasa dan di depan kepala kura-kura terdapat bentuk phallus atau penis atau alat kelamin pria sepanjang dua meter. Dua lambang ini diartikan sebagai penciptaan alam semesta dan simbol penciptaan manusia. 

Candi Cetho, Sudut Misterius Di Lereng Lawu | Breaktime
Susunan batu kura-kura dan alat kelamin pria. (Photo by Google)

Di teras selanjutnya, B’timers akan menemui sepasang arca bernama Sabdapalon dan Nayagenggong. Mereka adalah dua tokoh setengah mitos yang juga dianggap mereka adalah satu orang yang sama. Keduanya dipercaya sebagai abdi dan penasehat spiritual Prabu Brawijaya V.

Di teras tertinggi komplek candi ini adalah bangunan utama Candi Cetho yang berbentuk piramida. Bangunannya mirip sekali dengan bangunan utama Candi Sukuh. Uniknya di bangunan utama ini adalah pintu masuknya menggambarkan alat kelamin wanita yang konon digunakan sebagai tempat untuk menguji keperawanan seorang wanita.

Dari keseluruhan bangunan di komplek Candi Cetho ini tidak semuanya asli, karena pada tahun 1970an tepat pada masa pemerintahan Soeharto, candi ini mengalami pemugaran. Sampai sekarang, candi ini juga masih digunakan sebagai tempat ibadah umat Hindu dan orang-orang kejawen. (vpd)



artikel kompilasi
related img
icon maps
BORNEO
TRAVEL GUIDE
related img
icon maps
BORNEO
TRAVEL GUIDE
related img
icon maps
BORNEO
TRAVEL GUIDE